Mas Langit lebih banyak diam saat kami dalam perjalan pulang menuju panti. Hanya terdengar lagu yang diputar dari radio silih berganti memecah keheningan di dalam mobil. Aku sedikit mencuri pandang wajah Mas Langit. Terlihat raut muka kesedihan yang tergambar jelas disana. Wajah sayu dengan senyuman yang menghilang.
Tidak tega melihat wajahnya yang bersedih lalu kupalingkan mukaku ke arah depan namun tiba-tiba...
"Mas Langit, Awas!!" Teriakku.
Mas Langit membanting setir mobil ke arah kiri menghindari mobil yang melaju dari arah depan karena mobil yang kami tumpangi memasuki jalur yang berlawanan arah. Mas Langit refleks merangkul bahuku untuk mengurangi benturan pada kaca samping. Mobil berhenti setelah menabrak trotoar.
"Kamu ga papa?" Tanya Mas Langit panik setelah melepas rangkulannya.
Bibirku kelu tidak mampu menjawab pertanyaan Mas Langit karena terkejut dengan kejadian tadi. Aku hanya mampu menatap kedua mata Mas Langit dengan tangan yang masih gemetar. Terlihat sorot matanya yang dipenuhi kekhawatiran.
"Mana yang sakit?" Mas Langit terus bertanya dengan wajah yang menunjukkan kekhawatiran. Aku masih diam membisu belum mampu mengeluarkan kata-kata. "Kita kerumah sakit sekarang ya" Putusnya.
"Sa.. saya tidak apa-apa mas" Ucapku baru bisa bersuara. "Apa Mas Langit terluka?" Tanyaku.
Mas Langit menggeleng pelan, lalu pria itu menjatuhkan wajahnya ke arah kemudi mobil. Dia menghela nafas kasar.
"Maafkan saya Laila, kecerobohan saya hampir saja mencelakakan kamu" Ucapnya.
"Konsentrasi saya terpecah sehingga tidak fokus saat mengemudi." Mas Langit meraih ponselnya yang ada di dashboard mobil lalu mengirim pesan kepada seseorang.
"Kita tunggu Vivian dulu ya. Saya minta tolong Vivian untuk mengantar kamu pulang."
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan ucapan Mas Langit. Vivian adalah asisten Mas Langit selain Rico.
Setelah Vivian mengantarkan aku pulang, aku langsung menuju ke kamar lalu merebahkan tubuhku diatas kasur. Ingatan kejadian tadi membuatku berpikir. Sebegitu hebatkah pengaruh mbak Caca dikehidupan mas Langit. Hanya mendengar kabarnya saja bisa membuat konsentrasi Mas langit terpecah. Aku semakin yakin jika Mas Langit memang tidak ditakdirkan untukku. Ada atau tidak adanya Mbak Caca akan selalu membayangi di kehidupan pernikahanku kelak.
Mas Langit tidak bisa lepas dari bayangan Mbak Caca karena hatinya masih mencintai mantan kekasihnya itu. Andaikata pernikahan itu terjadi, hanya aku yang akan bahagia. Tidak untuk Mas Langit. Aku hanya bisa memiliki raganya lewat tali pernikahan tetapi tidak untuk hatinya karena tidak ada cinta diantara kami.
Aku membulatkan keputusanku untuk melepas Mas Langit, menolak pinangan itu. Sebaiknya besuk aku segera menemui Bunda Eriyana untuk menyampaikan penolakanku. Lebih cepat lebih baik agar Bunda Eriyana dan Mas Langit tidak menunggu terlalu lama.
Tidak ada air mata dan tidak ada rasa kecewa karena sejak awal Mas Langit tidak pernah ada didalam doa-doaku. Aku merasa tidak akan mampu untuk menggapai Mas Langit karena dia terlalu 'Tinggi'. Seperti namanya Gema Langit Ramadhan, mustahil seekor kunang-kunang bisa terbang menuju langit. Akan aku simpan rasa cintaku dan berdoa semoga laki-laki yang sangat aku cintai itu berbahagia dengan wanita pilihannya.
---------------------------------
Selesai pulang mengajar aku menuju ke rumah Bunda Eriyana. Aku menyapa Pak Budi yang sudah lama menjadi satpam di kediaman itu. Pak Budi membukakan pintu gerbang lalu mempersilahkanku masuk.
Jarak antara gerbang dan rumah bunda lumayan menguras tenaga, sekitar seratus meter. Namun perjalan tidak terasa panas karena ada beberapa pohon rindang yang menaungi jalanan ini menjadi teduh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Pilihan Bunda (End)
RomantikGema Langit Ramadhan, nama laki-laki yang telah sah menjadi suamiku setelah selesai mengucapkan ijab qobul. Aku berdoa kepada Allah semoga pernikahan ini bisa menghadirkan cinta diantara kami. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa hatinya bukan milikku...
