Bohong jika aku baik-baik saja. Aku menumpahkan rasa sedih dan sakit hatiku dengan menangis semalaman. Aku begitu kecewa karena perselingkuhan Mas Langit dan Mbak Caca.
Aku tidak tahu kapan aku tertidur di atas kasur? Entah itu karena kelelahan atau jatuh pingsan akibat terlalu banyak menangis. Pukul tiga pagi aku terbangun karena ingin menjalankan sholat sunah di sepertiga malam. Saat beranjak ke kamar mandi aku merasakan sakit kepala yang luar biasa. Kepalaku serasa berputar-putar hingga membuatku ingin muntah. Mungkin karena efek menangis yang terlalu lama.
Tiba di kamar mandi perutku tidak bisa diajak berkompromi. Rasa mual membuat cairan bening keluar menjalar melewati kerongkonganku. Meskipun aku sudah memuntahkan semua isi perutku akan tetapi rasa mual itu masih tetap ada. Efek stress pikirku.
Aku terduduk di closet menyeka keringat dingin yang keluar. Seketika aku teringat jika aku belum mendapatkan tamu bulanan. Menstruasiku terlambat. Aku baru menyadarinya.
Biasanya jadwal menstruasiku tidak pernah terlambat. Siklusnya tepat 28 hari. Tidak pernah lebih maju atau mundur dari jadwal seharusnya. Tapi kali ini aku teringat jika sudah terlambat datang bulan selama tujuh hari.
Dengan sempoyongan aku berjalan menuju kotak p3k dan mengambil alat tes kehamilan. Aku mencoba test pack itu. Aku berdoa semoga apa yang aku khawatirkan tidak akan terjadi.
Aku mengambil nafas dalam dan dengan tangan bergetar lalu aku melihat benda itu.
Dua garis merah. Artinya aku positif hamil.
Tangisku meledak sampai-sampai aku membekap mulutku agar isakanku tak terdengar. Aku bingung dengan kondisi ini. Aku memang belum berharap ada janin yang tumbuh di rahimku ditengah-tengah pernikahan kami. Bukannya karena aku tidak menginginkan anak, bukan karena itu. Justru aku sangat menyukai anak-anak dan sangat ingin mengandung bayi dari orang yang aku cintai.
Cuma untuk saat ini waktunya tidak tepat. Bukan sekarang. Pernikahan kami hambar. Suami yang sangat aku sayangi mencintai perempuan lain. Bahkan dia berselingkuh dengan perempuan itu. Tidak ada cintanya yang tersisa untukku.
Malam itu pasti Mas Langit melakukannya bukan karena cinta tapi lebih kepada hasrat biologis Mas Langit yang harus tersalurkan. Tidak ada laki-laki yang bisa menahan hasrat biologis di depan wanita yang terlihat hampir telanjang di depannya. Apalagi wanita itu sudah halal untuknya.
Mengingat malam itu membuatku sangat terluka. Seusai menuntaskan hasratnya ada raut penyesalan yang kentara di raut wajah Mas Langit. Kejadian malam itu tidak membuat hubungan kami menjadi dekat malah terlihat jurang pemisah yang menganga semakin lebar diantara kami.
Aku mengelus perut rataku. Mengelus pelan lalu melihat perut rataku di depan cermin. Tiba-tiba air mataku lolos lagi keluar tanpa diminta. Ada rasa haru bahagia dan rasa bersalah yang aku rasakan bersamaan.
Bahagia karena aku sekarang tidak sendiri. Bahagia karena bayi ini hadir dari bagian orang yang aku cintai.
Tapi rasa bersalah juga sangat mendominasi. Apakah Mas Langit akan menerima bayi yang aku kandung? Apakah dia juga akan bersikap dingin dengan bayi ini?
Jangan. Anakku tidak boleh merasakan penolakan dari ayahnya. Tapi aku harus bagaimana? Rasanya tidak sanggup memberitahu kehamilanku pada Mas Langit. Tetapi aku juga tidak bisa menutupi hal ini karena Mas Langit ayah dari bayiku.
"Ibu harus bagaimana nak?" Gumamku kepada calon bayiku.
--------------------------------
Pagi ini aku tidak berangkat bekerja karena harus memeriksakan kehamilanku.Rasa pusing dan mual membuatku tidak fokus untuk mengajar. Aku mengajukan ijin sakit kepada kepala sekolah.
Aku menuju poli kandungan dengan mengendarai transportasi umum. Melawan rasa pusing dengan menyandarkan kepalaku pada kaca jendela busway. Aku tidak meminta tolong kepada Hanifa karena aku tidak ingin ada yang tahu tentang kehamilanku termasuk sahabatku sekalipun.
Akan timbul pertanyaan dari Hanifa kenapa aku tidak ditemani Mas Langit?
Sebut saja aku wanita bodoh. Masih saja aku melindunginya. Jelas-jelas dia telah menghianatiku. Aku tidak tega membuka aibnya. Tidak tega orang-orang sekitar kami akan berpandangan buruk mengenai dirinya.
Antrian di poli kandungan cukup ramai. Aku duduk sendirian di kursi antrian menunggu namaku dipanggil. Banyak ibu-ibu hamil disini yang ditemani para suaminya. Bahkan ada salah seorang suami yang memijat kaki istrinya yang seidikit membengkak. Sungguh perhatian sekali. Bolehkan aku merasa sedikit iri?
"Sendirian mbak? Suaminya ga nganter? Tanya ibu muda yang duduk di sampingku.
"Iya mbak , suami saya sedang bekerja" Ucapku
"kehamilan anak keberapa mbak?" tanya ibu itu.
"pertama mbak" jawabku singkat tanpa berbasa-basi.
"Wah pasti suaminya seneng banget. Saya jadi ingat dulu waktu saya hamil anak pertama, suami saya sampai nagis sambil ngelus-elus perut saya. Maklum mbak saya nanti sudah tiga tahun lamanya" ceritanya.
Aku tersenyum kecut mendengar cerita ibu muda tadi. Nasibnya berbeda denganku. Apakah Mas Langit juga akan bahagia mendengar aku sedang mengandung anaknya? Apakah dia juga akan menanti kelahiran anak ini di dunia?
"Ibu Laila Anindya" panggil suster yang membawa daftar antrian.
"Permisi mbak saya duluan" pamitku pada ibu muda tadi.
Dokter menuangkan gel bening di perutku lalu memutar-mutar transduser di atas perutku.
"Usia kehamilanya baru lima minggu bu" terang dokter yang fokus melihat ke arah monitor.
"Selamat ya bu, ada dua kantung janin. Ibu hamil anak kembar" terang dokter kandungan yang memeriksaku.
Layar monitor memperlihatkan dua kantung kecil di rahimku. Rasa haru tiba-tiba menyergap ke dalam dada. Bagai obat pereda sakit, dua malaikat kecilku akan menjadi penyemangatku melewati hari-hari yang kelabu ini.
"Assallammuallaikum anak-anak ibu" Ucapku serak menahan air mata bahagia yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Di perjalanan pulang aku menyepatkan diri mampir di sebuah market yang terletak tidak jauh dari rumah. Aku harus membeli susu khusus ibu hamil untuk memenuhi nutrisi kedua bayiku.
Aku memilah-milah dan membaca kardus susu untuk mencari kandungan nutrisi yang lebih komplit dengan harga yang masih dijangkau oleh kantongku. Aku harus berhemat karena gajiku sebagai guru honorer tidaklah banyak. Aku harus bisa memenuhi kebutuhanku sendiri dengan uang gaji yang ku peroleh. Aku tidak boleh terlalu bergantung dengan uang yang Mas Langit berikan karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Aku harus bisa mandiri, pikirku.
Selesai dari market aku mampir sebentar di taman komplek. Melihat anak-anak yang tertawa lepas saat mereka bermain mengingatkanku pada kedua calon buah hatiku. Kelak aku akan melihat kedua anakku bermain riang gembira seperti mereka. Membayangkan tawa di wajah mereka membuat senyumku terukir dengan sendirinya.
Senyumku pudar saat aku mendapatkan notifikasi pesan masuk di HP-ku. Pesan dari Mas Langit yang ingin membicarakan sesuatu denganku malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Pilihan Bunda (End)
RomansaGema Langit Ramadhan, nama laki-laki yang telah sah menjadi suamiku setelah selesai mengucapkan ijab qobul. Aku berdoa kepada Allah semoga pernikahan ini bisa menghadirkan cinta diantara kami. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa hatinya bukan milikku...
