22 POV Langit: Laila Anindya

17.7K 709 5
                                        

Laila Anindya, first impression waktu saya bertemu dengan kamu, you're not a pretty girl dengan pakaian paling lusuh di antara teman-teman panti lainnya. Kamu adalah sosok yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang menonjol dari diri kamu.

Perempuan yang sok tegar dan tabah, berusaha menghibur teman-temannya yang merasa kehilangan tetapi ternyata nol besar. Kamu tidak sekuat kelihatannya. Sangat cengeng. Suka menyendiri dan menangis di tempat sepi.

Saya nilai kamu adalah pembohong ulung. Munafik sekali.

Kalau mau nangis ya menangis saja, tidak perlu berpura-pura kuat kalau memang rapuh. Apalagi kamu makhluk berwujud perempuan, menangis adalah hal yang wajar. Berbeda dengan laki-laki yang menangis bisa dikatai banci.

Annoying! Laila Anindya tidak punya ego. Kamu tidak pernah menuntut dan selalu mengalah dalam hal apapun.

Saat makan, kamu akan memilih berada di urutan terakhir. Membiarkan teman-temanmu mengambil jatah makan terlebih dahulu dibandingkan dengan dirimu.

Mendapatkan porsi piket bersih-bersih lebih banyak dibanding yang lainnya.

Kamu tidak pernah marah jika disisihkan. Menerima apapun yang diberi tanpa pernah menolak.

Mencoba membuat orang lain bahagia dan senang meskipun itu mengambil hak kebahagiaan kamu. Kamu selalu mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentinganmu sendiri.

Come on Laila! Manusia diciptakan bersama sifat keegoisannya. Dan kenapa kamu tidak memiliki itu?

Kamu hanya manusia biasa bukan ibu peri. Jadi tidak perlu melakukan hal itu. Kamu terlihat seperti perempuan naif di depan mata saya.

Saya tidak suka perempuan seperti kamu Laila. Kamu perempuan naif dan lemah.

Tetapi tiba-tiba dunia saya menjadi jungkir balik. Rasa tidak suka saya sama kamu malah menjadi boomerang bagi saya. Saya bingung, kenapa isi kepala saya hanya ada bayangan kamu? Saya menyangkal rasa itu, ternyata tidak bisa.God damn it.

I hate you but I love you like crazzy.

Ternyata tidak mudah hanya untuk sekedar berdekatan denganmu. Saya sudah mencoba berbagai cara untuk mendekat tetapi kamu selalu menutup akses dan memberi jarak.

Dunia kamu hanya berputar tentang Raka.

Saya masih mengingat saat kamu kesusahan membawa barang-barang keperluan panti, waktu itu saya menawarkan bantuan tetapi kamu mengabaikan saya dan lebih memilih memanggil Raka. Padahal saya tepat di samping kamu.

Saya juga mengingat saat kita menonton pentas drama di panti asuhan. Kamu memilih duduk di samping Raka daripada duduk di bangku kosong sebelah saya. Padahal saya menyisihkan dan menawarkan bangku kosong itu untuk kamu.

Dan yang paling membekas ketika kamu secara gamblang menyebut nama Raka daripada saya saat Caca melempar pertanyaan pilihan dalam game truth or dare. You broke my heart inside.

Rasa abaimu terhadap saya meyakinkan saya kalau kamu memang tidak memiliki rasa untuk saya.

Saya masih berusaha untuk mendekatkan diri dengan kamu tetapi akhirnya saya menyerah saat sahabat saya Raka mengatakan mencintai kamu dan akan mengkhitbahmu setelah lulus studinya.

Saya menyerah meskipun belum mengiklaskan. Saya bukan orang jahat yang akan memisahkan dua orang yang saling mencintai untuk memenuhi ego saya.

Mungkin kamu bukanlah jodoh saya.

------------------------------------------------

Hidup saya berubah ketika Ayah tiada. Saat itu saya baru lulus sekolah menengah atas. Tidak bisa menikmati masa remaja karena harus menjadi tulang punggung keluarga.

Masa remaja saya hanya seputar kuliah, perusahaan, dan rumah. Tidak ada yang namanya nongkrong di café, mabar, atau sibuk mengencani wanita sana-sini. Malam minggu sama saja. Banyak mengahadiri pesta perusahaan untuk membangung koneksi dan relasi.

Bohong jika saya mengatakan itu bukan beban. Meskipun sulit mau tidak mau harus saya ambil karena itu sebuah tanggung jawab.

Ada bunda yang perlu saya sebagai sandaran. Ada ribuan kepala keluarga yang menggangtungkan hidup pada perusahaan yang saya pimpin. Dan banyak lembaga sosial yang menggantukan profit perusahaan untuk terus berjalan.

Bertahun-tahun memiliki kebiasaan seperti itu membuat saya menjadi manusia yang gila kerja. Sampai suatu saat bunda mengingatkan saya tentang pasangan hidup.

Saat saya sedang membaca buku di teras belakang tiba-tiba bunda duduk di samping saya sambil menyuguhkan teh panas. Kebiasaan yang bunda lakukan untuk ayah dahulu, sekarang beliau lakukan untuk saya.

"Mas, umurmu sudah matang dan kamu juga sudah mapan. Sudah saatnya kamu berpikir untuk berkeluarga. Apa kamu tidak pengin kaya teman-temanmu? Bunda- kan juga pengen menimang cucu kaya temen-temen bunda" ucap bunda.

"Langit belum kepikiran bun, belum ada yang cocok" saya menutup buku lalu menyesap teh buatan bunda.

"Gimana mau ada yang cocok tho mas, kalau kamu sibuk kerja terus? Apa ada perempuan yang kamu sukai? Bunda akan melamarnya untukmu mas" tanya beliau.

"Untuk saat ini belum bun" Saya menjawab singkat karena malas membahas soal pasangan hidup dengan bunda. Meskipun sudah menyerah pada Laila namun saya belum menemukan tambatan hati pada wanita lain. Saya hanya ingin menikah dengan wanita yang benar-benar saya cintai dan wanita itu juga memiliki rasa cinta terhadap saya. Itu saja.

"Jangan bohong mas. Bunda menemukan foto-foto Laila yang ada di atas meja kerja kamu"

Oh God. Saya lupa menyimpan kembali foto-foto itu. Foto yang saya ambil secara diam-diam tanpa sepengetahuan Laila.

Saya kembali menyesap teh untuk menghilangkan kegugupan karena sekarang bunda telah tahu rahasia yang selama ini saya simpan rapat.

"Bunda tadi menemui Laila dan melamarnya untukmu" ucap bunda tenang.

'Uhuk.... Uhuk....Uhuk' Saya tersedak teh karena ucapan bunda.

"Kok bunda ga bilang ke Langit sih bun mau melamar Laila?" Allahuakbar, hampir saja saya kena serangan jantung.

"Kalau bunda ijin ke kamu, palingan ya ga jadi ngelamar tho mas? Memangnya kamu bakalan ngijinin bunda melamar Laila buat kamu?" Jawab bunda.

"Bun, Laila itu sudah memiliki calon" Saya tidak mungkin menikung Raka. Raka dan Laila saling menyukai, tidak mungkin saya akan ada di tengah-tengah mereka.

"Belum mas, tadi bunda sudah tanya. Tidak mungkin kan kalau bunda melamar Laila untuk kamu jika dia sudah punya calon" Jelas bunda.

"Sudah ada bun" jawabku.

"Kamu kok ngwyel sih mas, Laila aja bilang belum kok" ucap bunda.

"Laila aja yang ga mau jujur"

"Kita tunggu jawaban dari Laila dulu saja, dia minta waktu seminggu dan akan memberi jawaban" bunda menepuk pundak saya pelan lalu beranjak pergi.

Laila akan menerima lamaran itu karena terpaksa. Perempuan itu akan menerima karena alasan balas budi. Mengesampingkan kebahagiaannya demi membuat orang lain bahagia. Apalagi yang meminta adalah bunda. Mungkin jika bunda meminta nyawa, Laila akan memberikannya.

Saya mendial nomor Laila. Nomor yang selama ini saya simpan tapi belum pernah saya hubungi. Saya harus memastikan Laila tidak terbebani dengan Lamaran ini.

📞"Halo, Assallammuallaikum"

📞"Waallaikumsalam, Laila ini Langit. Bisa saya ketemu sama kamu? Ada yang mau saya bicarakan

Istri Pilihan Bunda (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang