4 Malam Pertama

16.3K 778 3
                                        

Tinggal kami bertiga di ruang rawat inap bunda. Bunda selalu tersenyum setelah akad pernikahan selesai. Aku sudah mengahapus riasan dan mengganti kebaya dengan baju gamis berwarna coklat. Duduk disamping ranjang bunda yang menggenggam tanganku.

"Jadi istri sholehah ya nak, selalu nurut sama suamimu. Jangan membantahnya selama itu tidak bertentangan dengan agama. InshaAllah suamimu itu laki-laki yang sholeh. Selama ini Langit belum pernah membuat bunda kecewa" Nasihat bunda.

"Iya bunda, InshaAllah. Laila akan berbakti sama Mas Langit" Ucapku lalu mengecup tangan bunda.

"Dan kamu Mas, jadilah imam yang selalu bisa diandalkan istrimu. Selalu berlemah lembut sikap dan tutur katamu. Jangan pernah kamu menyakiti fisik dan hatinya. Ada Ridho istri di setiap kesuksesan suami. Baik itu kesuksesan dunia dan akhirat." Nasihat Bunda kepada Mas Langit.

"InshaAllah Bunda" Ucap Mas Langit.

"Sudah malam, sebaiknya kalian pulang dan nikmati malam pengantin kalian" 

Blush. Wajahku mendadak merona mendengar ucapan bunda. Ada rasa malu mengingat malam ini menjadi malam pertama aku resmi menjadi istri Mas Langit. Tetapi tidak mungkinkan aku dan Mas Langit meninggalkan bunda sendirian di rumah sakit .

"Langit akan mengantar Laila pulang ke rumah. Langit yang akan menjaga bunda di rumah sakit" Ucap Mas Langit.

"Laila juga ingin menunggui bunda di rumah sakit. Bolehkan Mas?" Aku harus meminta persetujuan kepada suamiku, Mas Langit.

"Telponkan Vivian. Minta Vivian ke rumah sakit untuk menemani Bunda" Putus Bunda.

"Tapi Bun...." Mas Langit menginterupsi.

"Mas, ajak istrimu pulang. Laila belum pernah tinggal dirumah kita. Kasian Laila jika sendirian. Temani istrimu dan nikmati malam kalian sebagai suami istri" Sela Bunda. Mas Langit mengalah menuruti permintaan bunda dengan menghubungi Vivian.

Aku dan Mas Langit berjalan menuju ke parkiran rumah sakit setelah Vivian datang menggantikan menjaga Bunda. Kami berjalan bersisian tanpa bergandengan tangan dan tidak ada obrolan diantara kami. 

Tidak sengaja tanganku menyenggol tangan Mas Langit. Mas Langit menghentikan langkah lalu melihat ke arahku. "Maaf mas" Ucapku gugup membalas tatapan Mas Langit.

Mas Langit tersenyum, digenggamnya tanganku lalu kami melangkah bersama dengan bergandengan tangan. Jantungku berdetak diatas normal. Bahagia menghinggapi hatiku. Seakan ada ribuan kupu-kupu yang mengelitiki perutku membuatku tersenyum tiada henti. Aku menundudukkan kepala, malu jika nanti Mas Langit memergokiku yang senyum-senyum sendiri.

Mobil melaju membelah jalanan yang cukup sepi karena malam yang sudah sangat larut. Lagi-lagi tidak ada obrolan diantara kami dan seperti biasa hanya suara radio yang memecah keheningan di dalam mobil.

Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 ketika kami sampai di rumah Mas Langit. Mas Langit membawaku ke kamarnya. Hatiku berdetak kencang karena baru pertama kali masuk ke kamar orang yang selama ini aku cintai dalam diam.

Kamar yang luas dilengkapi dengan ranjang king size dan beberapa perabot yang tertata rapi. Kamar dengan cat putih ini tampak sederhana seperti sang pemilik kamar. Hanya ada Cabinet TV, sofa single berwarna abu-abu yang diletakkan dipojok kamar, dan nakas di dua sisi tempat tidur.

"Laila kalau mau menggunakan toilet ada di sebelah sana" kata Mas Langit sambil menunjuk toilet di sebelah walk in closet.

"Iya Mas" Ucapku. Aku bergegas menuju kamar mandi dengan membawa tasku yang berisikan beberapa lembar baju yang tadi dibawakan oleh Hanifa. Aku masih merasakan gugup jika berhadapan langsung dengan Mas Langit.

Istri Pilihan Bunda (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang