Aku membaca kalam-kalam Allah dari subuh sampai sinar matahari menyapa melewati jendela kamar. Kegiatan ini cukup menenangkanku saat hatiku merasakan kesedihan. Mencoba menerima takdir dari-Nya dan belajar mengiklaskan perpisahan ini.
Hari ini sidang mediasi digelar. Hanifa sudah mewanti-wanti untuk tidak hadir dalam persidangan mediasi ini. Bahkan dia mengancam tidak akan pernah menemuiku lagi jika aku hadir dalam persidangan. Hanifa takut jika hatiku akan lebih terluka. Hal itu membuatku lebih stress yang akan berimbas pada kedua calon bayiku.
Sebenarnya aku juga tidak ingin hadir. Tapi entah kenapa aku ingin sekali melihat wajah Mas Langit. Mungkin anak-anak ingin bertemu ayahnya untuk yang terakhir kali. Salahkan saja si bayi. Alibiku.
Sungguh aku tidak akan hadir ke sidang mediasi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan datang ke pengadilan agama hanya untuk melihat Mas Langit dari kejauhan.
Aku tahu sebenarnya berlaku seperti ini tidak baik untukku. Aku akan menjadi lebih sulit untuk melupakannya dan menghapus rasa cinta ini. Tapi hatiku merasa rindu. Memeluk kemejanya saja tak cukup mengobati rindu ini.
Aku datang ke pengadilan mengunakan abaya berwarna hitam yang sangat longgar untuk menutupi kehamilanku. Perutku sedikit menonjol karena kandunganku memasuki usia 12 minggu atau sekitar 3 bulan. Kehamilan bayi kembar membuat perutku sedikit membuncit dan badanku sekarang semakin berisi.
Aku menaiki kendaraan umum untuk pergi ke pengadilan agama. Sampai di pengadilan agama aku melihat mobil suv berwarna hitam terpakir di pinggir jalan. Itu mobil milik Mas Langit. Aku hafal betul plat nomornya.
Aku memilih bersembunyi di sebrang jalan agar tidak ketahuan. Duduk di cafe dan memesan segelas jus sambil melihatnya keluar pengadilan dari balik jendela cafe. Pikirku.
Aku tidak melihatnya di halaman pengadilan. Mungkin dia sedang berada di ruang sidang sedang menunggu kedatanganku.
Jarum jam di tanganku sudah menunjunkan pukul 12.00 siang. Sudah tiga jam aku menunggunya, harusnya dia sudah keluar karena sidang digelar jam 09.00 pagi tadi. Selama itu-kah menunggu proses sidang.
Pukul 13.00, sudah satu jam aku menunggunya lagi tapi Mas Langit juga tidak kunjung keluar. Lebih baik aku melaksanakan sholat dhuhur terlebih dulu di masjid. Aku takut akan melewatkan sholat dhuhur karena terlalu lama menunggunanya. Jika selesai sholat, mobil Mas Langit sudah pergi berarti dia memang bukan rejekiku meskipun hanya untuk melihatnya saja.
Tidak ada masjid di dalam cafe bahkan di sekitaran sini. Hanya ada masjid di dalam area pengadilan agama. Mau tidak mau aku harus pergi kesana. Aku berjalan mengendap-endap masuk ke area pengadilan agama agar tidak ketahuan.
Aku bergegas mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat dhuhur. Setelahnya kupanjatkan doa-doa kebaikan untuk kedua calon buah hatiku. Aku duduk di teras masjid untuk merapikan kerudung dan memakai kaos kaki. Setelahnya aku memutuskan untuk pulang dan mengakhiri tingkah konyolku ini. Melihat Mas Langit ternyata bukan rejekiku, karena memang kami ditakdirkan untuk berpisah. Seberapa kuat aku mencoba memang kita tidak akan bisa bersama.
"Laila"
"Astagfirullah" aku terpekik kaget saat ada seseorang yang berdiri di depanku. Seorang lelaki jangkung yang memakai celana bahan dan kemeja putih. Pakaian khas lelaki itu. Lelaki itu adalah Mas Langit.
Tiba-tiba badanku serasa membeku tidak mampu bergerak, bibirku serasa kelu tidak mampu berucap. Aku seperti sorang pencuri yang terpegok oleh sang pemilik rumah.
Beberapa menit kemudian kewarasanku mulai terkumpul. Aku bergegas memakai sepatuku kemudian buru-buru pergi meninggalkan Mas Langit.
"La, tunggu!" Mas Langit mencekal tanganku dengan kuat.
"Lepas!!!" bentakku padanya. Sudah tidak lagi peduli dengan nada suaraku yang tinggi kepadanya karena memang sebentar lagi dia bukan suamiku. Hanya seorang mantan.
"Dengarkan saya dulu Laila!" Pintanya memohon.
"Aku bilang Lepas!" Bentakku sekali lagi kepada Mas Langit.
"Ga, akan saya lepas. Dengarkan saya dulu Laila!" Ucapnya dengan suara yang tinggi.
Cekalan tangan Mas Langit sungguh kuat. Tenagaku tidak cukup kuat untuk melawannya. Aku melepas cekalan tangan Mas Langit dengan cara menggigitnya. Aku menggigitnya cukup dalam sampai dia meringis kesakitan lalu melepas cekalannya. Aku berusaha kabur namun Mas Langit kembali mencekal tanganku dan tanpa aku duga dia membopongku lalu berusaha memasukkanku ke dalam mobil. Mas Langit mengitari mobil untuk menuju pintu kemudi. Memanfaatkan hal ini, aku mencoba kabur sekali lagi karena pintu mobil yang tidak dikunci.
Beruntung di sebrang jalan ada bus yang berhenti yang bisa aku gunakan untuk kabur. Aku bergegas menyebrang jalan untuk bisa menaiki bus itu.
Meskipun jalanan ramai, aku tetap menyebrang dan menghentikan mobil yang melaju dengan melambaikan tanganku agar mobil-mobil itu memberiku jalan.
Naas. Saat aku menyebrang jalan ada satu mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil itu melaju cukup kencang ke arahku. Aku sudah tidak punya waktu untuk menghindar. Aku hanya mampu menutup mata 'mungkin ini akhirku' batinku.
Aku merasakan seseorang mendorongku sampai aku terjatuh di trotoar. Terdengar bunyi decitan antara rem dan aspal yang menandakan mobil itu mencoba mengerem.
Ciiiiiittt......BRAK! Suaranya cukup keras. Berdengung di telingaku.
Aku melihat kaca mobil itu pecah. Serpihan kaca itu berserak dan berhamburan di jalan. Tidak jauh dari mobil itu seseorang tergeletak di jalan. Dia adalah Mas Langit. Orang yang menyelamatkanku dari kecelakaan ini.
Air mataku lolos tanpa diminta. Aku berlari terseok seok berusaha menghampiri tubuh Mas Langit yang sudah tergeletak di jalan. Noda darah menutupi wajah dan baju Mas Langit. Dia mencoba bernafas meskipun kesusahan. Nafasnya terlihat tersengal sengal dan terasa berat.
"Mas, maaf. Sungguh aku minta maaf!" Aku menyesal atas kejadian ini. Harusnya aku yang celaka bukan dirinya.
"Bertahan Mas aku mohon" Pintaku. "Tetap sadar jangan tertidur" Aku mengenggam tangannya dan terus menangis. Melihatnya seperti ini sungguh membuatku tersiksa.
Genggaman tangannya menguat menandakan dia mencoba melawan rasa sakit namun semakin lama semakin melemah seiring dengan matanya yang perlahan menutup. Mas Langit hilang kesadaraan.
-----------------------
Sesampainya di rumah sakit, Mas Langit langsung di bawa ke ruang operasi. Kata dokter dia mengalami tulang rusuk patah sampai menembus ke paru-paru dan ada cidera kepalanya yang cukup parah.
Aku dimintai tanda tangan sebagai wali untuk mengijinkan dilakukannya tindakan operasi agar nyawanya bisa segera diselamatkan.
Aku menunggunya di luar ruang operasi. Menunggunya berjuang untuk tetap hidup dan keluar dengan selamat.
Menatap kedua tanganku yang masih berlumuran darah Mas Langit membuatku sungguh menyesal . Gara-gara kecerobohanku membuat orang yang masih aku cintai celaka.
"Ya Allah, tolong jangan ambil dia. Selamatkan nyawanya. Tolong cabut kata-kataku dulu yang berucap aku sangat membencinya dan tidak ingin bertemu lagi dengannya selamanya. Aku sungguh tersiksa melihatnya terluka seperti ini. Rasa ini jauh lebih sakit daripada saat dia melukaiku. Tolong Allah kabulkanlah doaku" Pintaku pada sang ilahi robbi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Pilihan Bunda (End)
RomanceGema Langit Ramadhan, nama laki-laki yang telah sah menjadi suamiku setelah selesai mengucapkan ijab qobul. Aku berdoa kepada Allah semoga pernikahan ini bisa menghadirkan cinta diantara kami. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa hatinya bukan milikku...
