19 Rumitnya Rasa

17.2K 842 12
                                        

Pagi ini aku mendapatkan surat cinta dari pengadilan agama. Bukan surat cinta sesungguhnya, melainkan surat panggilan untuk datang dalam sidang mediasi.

Lusa sidang cerai kami yang pertama akan digelar. Aku sudah memutuskan untuk tidak datang menghadiri sidang itu. Hadirpun tidak akan merubah keputusan Mas Langit bukan?

"Auw" pekikku. Perutku tiba-tiba terasa kram, sakit sekali. Sakitnya melebihi saat mendapatkan menstruasi hari pertama.

"Kenapa La?" Hanifa yang sedang berada di dapur bergegeas menuju ruang tengah untuk menghampiriku.

"Perutku kram Fa" keluhku. Aku mengambil nafas dalam lalu mengusap-usap perutku untuk mengurangi rasa nyeri. Semoga bayi-bayiku baik-baik saja. Pintaku.

"Berbaring dulu La, rileks. Aku akan mengecek tekanan darahmu" Aku menuruti perintah Hanifa untuk berbaring di sofa. 

Hanifa mengecek tekanan darahku sambil mengomel "Kamu pasti stress karena dapat surat itu. Aku minta kamu tidak usah datang. Aku takut kamu malah tambah stress nanti. Kasian ponakan-ponakanku" Ucapnya panjang lebar.

"Iya Fa, aku janji tidak akan datang" jawabku.

Ponsel yang ada di dalam saku gamisku bergetar. Menandakan ada notifikasi pesan yang masuk. Ternyata pesan dari Raka.

✉️ Raka: Lai ayo meet up sore ini. Di tempat biasa. 

Raka sering mengajak kami berdua nongkrong di café. Aku, Hanifa, dan Raka memang berteman dekat karena dibesarkan di panti asuhan yang sama.

Aku menengok ponsel Hanifa yang berada di atas meja. Ponsel itu tidak menyala. Apa Raka tidak mengajak Hanifa meet up karena dia tahu perasaan Hanifa padanya? Atau ponsel Hanifa kehabisan daya sehingga pesan itu belum masuk? Lebih baik aku mengajak Hanifa saja daripada nanti menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.

"Fa, Raka ngajakin meet up sore ini. Kamu bisa?" tanyaku pada Hanifa.

"Kamu aja La. Bilang kalau sore ini aku ada shift jaga" jawabnya

"Kamukan libur hari ini. Aku bohong dong sama Raka" ucapku.

"Aku malu La. Aku aja mati-matian buat hindarin dia di tempat kerja. Kamu malah ajak aku buat ketemu dia"

"Apa ga bisa kita temenan kaya dulu lagi?" tanyaku sedih.

"Pertemanan akan berbeda jika sudah melibatkan hati. Ga akan bisa sedekat dulu Laila sayang" Hanifa menoel hidungku sambil tersenyum. Dia mengatakan itu seolah tanpa beban. Cepat sekali move on, tidak seperti diriku.

"Ya udah deh aku juga ga jadi datang" ucapku.

"Jangan. Datang aja aku ga papa. Gimana kalau dia lagi ada masalah terus butuh temen buat cerita? Apa kamu ga kasian? Kamu juga butuh refreshing Laila" Hanifa mengambil surat dari pengadilan lalu meremasnya melemparkan kertas itu ke tempat sampah "Dan hilangkanlah stress pada tempatnya" ucapannya membuatku tertawa.

-------------------------------

Sore ini aku mendatangi café, tempat dimana kita sering meet up bertiga. Café bertema rustic yang terletak di pinggiran kota. Menu di café ini sungguh lezat sehingga kami sering datang kemari meskipun lokasinya cukup jauh dari tempat tinggal kami.

Aku menghampiri meja Raka yang terletak sedikit jauh dari keramaian. Tumben sekali Raka datang lebih awal. Biasanya dia yang selalu ngaret jika diajak kumpul bareng.

Raka fokus melihat pada ponsel yang digenggamnya sampai tidak menyadari kedatanganku.

Tok... tok..... tok "Paket" aku mengetuk meja Raka agar mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arahku.

"Udah dateng La?" Aku menautkan alis. Tumben sekali ini anak panggil aku 'La' biasanya juga 'Lai'.

"Kenapa kamu? Salah minum obat?" Tanyaku.

Dia hanya menggeleng dan tersenyum "duduk, ada yang mau aku omongin" Ucapnya.

"Tumben manis banget, makan gula berapa kilo?" Kami bertiga memang suka bercanda dan jarang ngobrol serius.

Aku menarik kursi dan mengambil tempat duduk di depan Raka. "La, I've heard about your breakup"

"Ka, kita bahas yang lain aja ya" potongku. Aku butuh suasana baru. Pembahasan tentang perceraianku membuatku merasa sesak.

"La listen" ucapnya. Aku fokus ke arah Raka. "La, mungkin ini bukan waktu yang tepat tapi aku ga bisa nunggu lagi kaya dulu" Raka mengambil nafas dalam sepertinya ingin mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.

"Bisakah aku menggantikan tempat yang ditinggalkan Langit? Bisakah aku mengambil posisi itu dan menjagamu? I love you La" Ucapannya membuat terkejut setengah mati.

"Ka kamu salah minum obat beneran ya?" sungutku. Tidak mungkin-kan Raka menaruh rasa kepadaku. Pasti dia lagi ngelantur.

"Aku serius La. Aku merasakan perasaan yang lebih dari seorang teman sama kamu" terangnya.

Aku hanya menggeleng pelan setelah mencerna ucapannya. "Aku dan kamu adalah teman, ga lebih dari itu" Ucapku. Aku sangat menyayangi Raka. Tapi rasa sayang itu tidak lebih dari rasa sayang seorang teman. Selain itu jantung ini tidak pernah berdetak di atas normal saat bersama Raka. 

"Apa karena Hanifa, kamu tidak bisa menerimaku?" tanyanya dengan air muka yang menunjukan kesedihan.

"Bukan. Bukan karena Hanifa. Karena ada nama seseorang yang tidak bisa aku hapus namanya dalam hatiku" aku meremas jari manisku yang masih tersemat cincin nikah. Meremasnya di bawah meja hingga buku-buku tanganku memutih. Kenapa kisah cinta kami serumit ini? Rasanya lebih rumit dari kisah cinta romeo dan juliet.

"Langit, iyakan nama itu Langit?" Ucapnya lirih. Iya memang nama itu yang masih mengisi ruang hatiku. Entah sampai kapan nama itu bisa pudar? Aku sendiri tidak tahu. Rasanya seperti tatto permanen yang tidak bisa dihapus.

"Ka, tidak bisakah kita berteman seperti dulu? Aku, kamu, dan Hanifa. Berteman tanpa ada rasa?" pintaku.

"Aku usahakan tapi aku ga bisa janji" ucapnya. 

------------------------------------

Setelah dari café aku mampir ke lapangan sepak bola. Duduk di kursi tribun penonton sambil melihat anak-anak berlatih. Sedikit mengobati rindu pada murid-murid kesayanganku dan untuk menenangkan pikiranku yang cukup kacau.

Aku menghela nafas panjang. Pikiranku semakin ruwet setelah Raka mengungkapkan isi hatinya di café tadi. Aku tahu aku egois. Menolak cinta Raka, tetapi masih meminta dirinya untuk berpura-pura tidak memiliki rasa padaku agar pertemanan kami bisa seperti dulu lagi. Padahal itu akan menyakitinya. Jahatnya diriku.

Aku memandangi cincin yang masih melingkar di jari manisku. Mengingatkanku pada pernikahanku yang seumur jagung. Meskipun cincin ini masih tersemat tetapi tidak akan merubah statusku setelah palu pengadilan di ketuk. Sebentar lagi aku akan berstatus janda. Status yang biasanya di lihat miring oleh kebanyakan masyarakat.

Mungkin ini saatnya aku harus mulai menghapus semua hal tentang Mas Langit satu per satu. Aku melepaas cincin yang aku pakai. Dari sini aku akan memulai status baru mau tidak mau, suka tidak suka. Aku harus ikhlas menerima suratan-Nya.

Aku menggenggam cincin itu kuat-kuat lalu melemparnya sejauh mungkin. 'Semoga perpisahan ini menjadi awal yang baik untukku' doaku dalam hati






Istri Pilihan Bunda (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang