Hari ini saya akan menemui Raka untuk mengatakan apa yang telah terjadi diantara saya dengan Laila. Sejauh apa hubungan yang kami jalani selama pernikahan kami.
Saya sudah mempersiapkan diri jika Raka akan memukuli saya karena telah melanggar janji yang saya ucapkan. Bahkan jika dia membuat saya cacat-pun saya akan ikhlas. Toh saya harus mempertanggung jawabkan janji yang telah saya langgar.
Saya menemui Raka di rumah sakit tempat dimana dia bekerja. Raka mengajak saya ke rofftop gedung ini. Kami berdiri di tengah-tengah rofftop di waktu siang bolong. Matahari dengan pongahnya bersinar membakar kulit. Entah mengapa Raka mengajak saya berbicara disini? Padahal panasnya matahari sudah masuk ke ubun-ubun.
"Elo mau ngomong apa Lang?" Tanya Raka lalu meneguk ice americano di dalam gelas plastik yang dia genggam.
"Saya mau minta maaf" ucap saya.
"Untuk?" Sahut Raka dengan santai.
"Karena tidur dengan Laila. Saya mencintai Laila" to the point. Saya mengakui perasaan cinta saya kepada Laila di depan Raka. Rasanya cukup melegakan meskipun setelah ini saya harus merelakan perasaan ini.
Raka terkekeh. Dia membanting ice americano yang digenggamnya lalu,
BUGH.... "Breng*** Lo Lang!" Raka mengarahkan pukulannya ke arah saya.
Pipi saya terasa nyeri. Rasa besi menyebar terasa di indra pengecap saya. Sudut bibir saya sepertinya robek. Raka memukul saya dengan keras sampai badan saya ambruk menyentuh lantai yang cukup panas.
Raka menarik kerah kemeja saya. Saya tidak melawan karena saya adalah pelaku kejahatan di sini.
"Elo udah unboxing dia dan elo sekarang mau nyerein dia?" Raka seperti orang yang kesetanan.
Saya melepas cekalan tangan Raka pada kerah kemeja saya "Maaf kalau saya sudah meminta Laila tidur dengan saya. Tetapi saya akan mencoba mengikhlaskan kalian bersama"
"Saya akan menerima konsekuensi yang kamu berikan karena telah melanggar janji saya"
Raka menghela nafas "Lang. Elo CEO tapi bodoh baca perasaan istri lo. Otak lo isinya apa sih Lang? Kalau elo cinta kenapa lo ceraiin Laila?"
"Kalian saling mencintai-kan?" Alasan saya menceraikan Laila agar mereka bisa bersama.
Raka menarik tangan saya, membantu saya untuk kembali berdiri.
"Pukulan tadi karena elo udah nglanggar janji elo sama gue. Sebagai gantinya gue minta kompensasi cabut perceraian lo di pengadilan" Jelasnya.
"Maksud kamu?" Saya masih bingung dengan omongan Raka.
"Yaelah Lang. Masa gitu aja ga ngerti? Laila cinta sama elo bukan gue. Dia ga mau gue nikahin setelah cerai dari elo. Dia bilang di hatinya cuman ada nama elo dan ga ada yang bisa gantiin" Ucapan Raka membuat saya terkejut. Rasa bahagia tiba-tiba menyergap di hati saya. Sungguhkah Laila mencintai saya?
"Sejak kapan Laila menyukai saya?" Saya mencoba mencari informasi dari Raka. Memastikan kalau ini nyata bukan hanya sekedar mimpi.
"mana gue tau? Elo tanya sendiri sama Laila" Jawab Raka cuek.
Senyuman kecil tidak sengaja terbit dari bibir saya. Merasakan kebahagiaan karena saya dan Laila memiliki rasa yang sama. Namun ada perasaan tidak enak pada Raka tentang perasaan Laila kepada saya.
"Gue tau apa yang ada di pikiran elo. Sorry bro! Gue ganteng. Bakalan banyak cewek yang ngantri buat jadi bini gue. Lagian gue juga dokter, bakalan banyak emak-emak yang bakalan jadiin gue calon mantu idaman" ucapnya tanpa beban.
Raka menepuk pundak saya "Gue mau balik kerja, jangan ganggu gue! gue sibuk! Oh iya, jangan berobat di sini bisa-bisa elo di visum dan gue dipecat. Cari bini lo suruh dia obatin" Raka melangkah pergi meninggalkan saya di rofftop.
"Ka, thanks!" Ucap saya tulus sebelum ia benar-benar pergi.
"lebay lo Lang" Sahutnya sambil mengacungkan jari tengah.
Raka memang mempunyai watak yang keras dan blak-blakan. Tetapi saya senang bersahabat dengannya. Dia orang yang baik dan juga tulus.
-------------------------------
Saya menghubungi ponsel Laila beberapa kali tetapi masih tidak dapat tersambung. Pesan yang saya tinggalkan juga tidak terkirim, hanya centang satu.
Laila benar-benar memblokir kontak saya. Tidak habis akal, saya menggunakan nomor lain untuk menghubunginya namun hanya suara operator yang menjawab panggilan saya.
"Kamu dimana La?" Hati saya sungguh tidak tenang.
Saya mencoba menghubungi Hanifa. Dia sahabat dekat Laila. Lagi-lagi Hanifa mereject panggilan saya dan berkhir memblokir kontak saya. Saya tahu Hanifa bakalan membenci saya karena saya melukai sahabatnya.
Saya memilih menunggu hari esok. Besok pagi sidang perceraian saya dan Laila akan di gelar. Sebelum masuk kepersidangan saya akan mencabut gugatan itu. Saya berharap Laila hadir dan saya bisa mengatakan perasaan cinta saya kepada Laila.
Saya datang lebih awal dari jam yang sudah dijadwalkan dann saya juga telah meminta pengacara saya untuk mengurus pencabutan berkas gugatan cerai itu.
Sudah empat jam saya menunggu tetapi Laila tidak kunjung datang. Apakah Laila benar-benar akan pergi dari saya? Memikirkan hal itu membuat hati saya tidak tenang.
Saya memilih mengambil wudhu lalu menjalankan sholat dhuhur berjamaah. Selesai sholat saya memanjatkan doa kepada Allah agar menjodohkan Laila kembali kepada saya. Saya khusyu' dengan dzikir dan doa-doa saya.
Selesai berdoa saya tidak sengaja melihat ke shaf perempuan yang dibatasi partisi masjid setinggi dada orang dewasa.
Saya melihat wajah wanita yang selama ini saya rindukan. Dia sedang khusyu' dengan sholatnya. Allah mengabulkan doa-doa saya. Allah akhirnya menghadirkan Laila kembali di kehidupan saya.
Laila belum menyadari kehadiran saya. Dia duduk di serambi masjid, tergesa-gesa memakai kaos kakinya. Saya melangkah dan berdiri di depan Laila.
Laila terkejut bergegas memakai sepatunya lalu berlari mencoba meninggalkan saya. Saya tidak ingin kehilangan Laila untuk kedua kalinya. Saya mencekal tangan Laila kuat "La, tunggu" ucap saya.
"Lepas!!!" Laila berucap keras. Dia menggit tangan saya dalam hingga cekalan saya terlepas. Tapi saya mengejarnya kembali lalu menggendongnya masuk ke dalam mobil. Saya tidak perduli pada orang-orang yang sedang menonton drama rumah tangga kami.
Saya hanya ingin Laila mendengar penjelasan saya kalau selama ini kita salah berprasangka karena tidak saling terbuka. Saya hanya ingin Laila tahu kalau ternyata saya juga mencintainya.
Saya mengitari mobil setelah menutup pintu mobil. Tetapi Laila keluar lagi dari mobil dan dengan sembrono nekat menyebrang jalan yang cukup ramai. Dari arah sebrang saya melihat mobil melaju dengan kencang "La Awas!"
Saya berlari mendorong tubuh Laila.
BRAK
Saya merasakan kepala dan dada saya sepeti dihantam balok kayu. Kepala saya berenyut sangat nyeri sekali. Paru-paru saya seperti terbakar tidak mampu lagi menghirup udara. Saya merasakan darah keluar memenuhi rongga pernafasan dan mulut saya.
Laila berlari lalu menggengam tangan saya. Dia menangis histeris "Bertahan Mas aku mohon" pintanya. "Tetap sadar jangan tertidur"
Nafas saya mulai tersengal. Leher saya terasa tercekik dan tidak mampu lagi menghirup udara. Pandangan saya kabur. Rasa sakit ini mulai menjalar ke seluruh tubuh saya. Rasanya nyawa saya sudah ada di ujung kepala. Saya sudah tidak sanggup melawan rasa sakit ini. Mata saya terpejam bersamaan kesadaran saya yang menghilang.
POV Langit End
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Pilihan Bunda (End)
RomanceGema Langit Ramadhan, nama laki-laki yang telah sah menjadi suamiku setelah selesai mengucapkan ijab qobul. Aku berdoa kepada Allah semoga pernikahan ini bisa menghadirkan cinta diantara kami. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa hatinya bukan milikku...
