Mas Langit memberi kabar jika operasi bunda berhasil dan sekarang kondisi bunda sudah stabil. Mendengar kabar itu membuat perasaanku sangat lega. Ingin sekali aku menjenguk bunda. Memberi dukungan agar cepat sembuh serta memeluk beliau untuk melepas rasa rindu. Sudah tiga hari ini aku tidak bertemu dengan Bunda maupun Mas Langit.
Hari ini Hanifa kembali mengajakku meet up di coffe shop yang terletak di mall terbesar kota ini. Coffe shop dengan logo biji kopi ini lumayan cukup ramai. Rencanaya setelah dari coffe shop kita akan melanjutkan menonton film di bioskop. Aku sudah meminta ijin Mas Langit untuk bertemu Hanifa dan untungnya Mas Langit memberi ijin.
Aku cukup suka cafe ini karena tempatnya cukup privat. Antar meja terdapat sekat pembatas yang terbuat dari tanaman plastik. Aku memilih duduk di meja yang terdapat di sudut cafe. Selagi menungu Hanifa dan juga menunggu pesananku datang, aku memilih berselancar di dunia maya dengan ponselku.
Meja di sebelahku cukup berisik karena ada beberapa wanita dewasa seumuranku sedang mengobrol. Aku tidak menghiraukan obrolan mereka meskipun suara mereka cukup mengganggu.
Tangan lincahku yang sedang menscroll ponsel terhenti saat ada obrolan yang mengusik hatiku. Membuatku sangat tidak nyaman. Aku tidak beranjak dari tempat dudukku namun lebih memilih memasang telinga mendengar percakapan mereka yang akan menggores hatiku lebih dalam lagi.
"Ca gue bingung deh. Kenapa Langit lebih memilih cewek kuno itu daripada elo sih? Padahal Elo lebih segalanya daripada dia. Elo cantik, pinter, berkelas, dan elo juga kaya. Apa sih yang dilihat Langit dari cewek kuno itu? Heran deh gue!"
"Langit juga ga cinta sama cewek itu. Tapi dia ga bisa menolak permintaan tante Eriyana." Suara itu aku mengenalinya. Suara milik Vivian sekertaris Mas Langit.
"Kenapa sih Ca elo ambil kuliah di luar negri segala. Nyesalkan jadinya Langit nikah sama cewek kuno itu bukannya elo"
Ternyata Mbak Caca sudah tahu kalau aku dan Mas Langit sudah menikah. Apakah Mas Langit memberitahu Mbak Caca atau mungkin Vivian? Iya, pasti Vivian yang sudah memberitahu Mbak Caca.
"Udalah Vina. Jangan memojokkan Caca. Langit udah sama pilihannya dan semoga aja langgeng, dan untuk Caca semoga disegarakan jodohnya"
Terdengar suara perempuan lain berucap.
"Rara, elo bela siapa sih? Elo itu temannya Caca atau cewek kuno itu? Elo ga kasihan sama Caca ditinggal nikah sama Langit?" Ucap wanita yang sekarang aku tahu namanya bernama Vina.
"Udahlah jangan bertengkar lagi gara-gara aku sama Langit. Langit juga sudah janji sama almarhum papi kalau bakal jagain aku. Dan aku tahu Langit pasti pegang janji itu." Itu suara milik Mbak Caca.
"Elo mau jadi istri ke dua? Gila ya elo mau-maunya di poligami?" Sahut Vina
"Bukan seperti itu. Aku juga ga mau jadi duri dipernikahan mereka. Tetapi aku akan menunggu Langit kembali padaku. Aku yakin itu" ucap caca.
"Pernikahan mereka juga tidak akan berumur lama. Karena sebenarnya Langit tak menginginkannya" kembali Vivian bersuara.
Aku hanya mampu beristighfar di dalam hati. Rasanya tidak sanggup mendengar obrolan mereka lebih jauh lagi. Lebih baik aku segera meninggalkan tempat ini daripada mendengar percakapan mereka yang membuat hatiku sakit.
Aku menuju meja kasir dan meminta pegawai cafe untuk membungkus pesananku. Setelah itu mengirim pesan kepada Hanifa untuk langsung bertemu di bioskop. Aku tidak ingin Hanifa ikut mendengar percakapan mereka. Sahabatku itu pasti sedih jika mengetahui pernikahanku tidak berjalan seindah bayangannya.
Akhirnya aku dan Hanifa memilih menonton film bergenre romance. Namun sayang film itu berakhir dengan sad ending karena pemain utamanya tidak bisa bersatu. Terlihat mata Hanifa yang sembab menangisi ending cerita. Padahal Hanifa jarang sekali menangis terlebih lagi menangisi sebuah film. Tumben sekali dia menangis karena sebuah film yang menurutku sendiri film itu tidak mengena di hati. Atau mungkin aku tidak bisa konsentrasi karena obrolan di café tadi yang cukup mengangguku.
Aku berlalu ke toilet setelah film selesai diputar. Sedangkan Hanifa lebih memilih menungguku dipintu keluar. Setelah menuntaskan hajatku lalu aku mencuci tangan di wastafel. Disampingku ada seorang wanita berbaju kuning yang sedang menelepon. Sekilas perempuan itu mirip sekali dengan teman Mbak Caca dan Vivian yang bernama Vina.
"Enak banget ya elo! Mertua lagi sakit malah happy-happy jalan-jalan. Ga ada empatinya sama sekali. Inget, suami elo itu nikahin elo karena permintaan mertua elo.
Bentar lagi elo juga bakal dicerein sama dia. Elo itu Cuma beban di hidup suami elo. Kalau gue jadi elo mending gue angkat kaki dari hidup dia"
Aku tahu wanita bernama Vina itu sedang menyindirku dengan pura-pura bertelepon dengan orang lain. Suaranya cukup nyaring sehingga cukup sakit menghantam dadaku.
Aku memilih berlalu dan mengabaikannya. Menanggapi-pun tidak ada gunanya. Memangnya pembelaan apa yang akan aku sampaikan? Toh Mas Langit memang tidak mencintaiku. Aku hanya mampu tersenyum miris mentertawakan kisah cintaku yang menyedihkan.
------------------------
Kami sedang ada di dalam mobil milik Hanifa. Dia mengantarkanku pulang karena kami searah. Hanifa sangat murung sekali. Dia lebih banyak diam hari ini.
"Fa, kamu kenapa? Ada masalah di rumah sakit?" aku khawatir melihat Hanifa yang bersedih.
Hanifa tersenyum getir lalu air matanya lolos membasahi pipi. "Aku di tolak La. Raka sudah mempunyai perempuan yang dia cintai"
"Fa, menipi dulu. Kamu tidak boleh menyetir dalam kondisi seperti ini" Pintaku kepada Hanifa. Hanifa menepikan mobilnya lalu menangis kedalam pelukanku.
"Fa, ada aku. Kalau kamu mau cerita, aku akan mendengarkannya. Mungkin aku tidak bisa membantu banyak. Tetapi setidaknya kamu akan merasa lebih lega" Ucapku.
Hanifa menceritakan kegalauan hatinya. Ternyata dia sudah mencintai Raka sejak masuk di universitas yang sama. Tadi malam dia mengutarakan perasaannya kepada Raka melalui sambungan telepon. Selain karena Raka sedang berada di Singapura, Hanifa juga tidak siap dengan jawaban Raka apabila tidak sesuai dengan ekspektasinya jika mengutarakan secara tatap muka. Dan ternyata Raka menolak cinta Hanifa karena sudah memiliki perempuan yang laki-laki itu cintai.
"Aku tahu fa, kamu sedang patah hati. Aku akan coba ngomong ke Raka tentang perasaanmu" Aku ingin Raka mengetahui jika Hanifa tulus mencintainya.
"Udah La ga perlu" Hanifa semakin sesenggukan di pelukanku. "Aku seperti tidak mempunyai harga diri mengemis cinta Raka padahal dia sudah memiliki wanita lain. Aku akan berusaha melupakkannya dan menghapus dirinya dari hatiku." sambungnya.
Aku mengusap punggung Hanifa dengan lembut untuk menenangkannya. Hanya cara itu yang bisa aku lakukan.
Kisah cinta sahabatku sama tidak indahnya dengan kisah cintaku. Mencintai laki-laki yang tidak memiliki rasa yang sama dengan kita. Tetapi Hanifa memilih mundur tidak memperjuangkan cintanya. Dia memilih mempertahankan harga dirinya daripada mengejar cinta Raka.
Sedangkan aku malah terjebak diantara cinta Mas Langit dan mbak Caca yang ternyata belum selesai. Aku lebih memilih memperjuangkan cinta Mas Langit. Mengabaikan Mbak Caca dan Mas Langit yang memiliki rasa saling suka. Jahatkah aku?
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Pilihan Bunda (End)
RomanceGema Langit Ramadhan, nama laki-laki yang telah sah menjadi suamiku setelah selesai mengucapkan ijab qobul. Aku berdoa kepada Allah semoga pernikahan ini bisa menghadirkan cinta diantara kami. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa hatinya bukan milikku...
