6 Pertemuan Pertama

12.4K 707 3
                                        

"Siapa Laila?" Ulang Mbak Caca

"Em, itu... itu?" Lidahku terasa kelu tidak mampu menjawab pertanyaan Mbak Caca. Tidak mungkin aku jujur kepada Mbak Caca karena Mas Langit sendiri belum mau mengakui pernikahan ini. Begitupun aku juga tidak bisa berbohong karena pernikahan ini bukan suatu kebohongan.

"Ca, ayo ke kamar bunda. Kasihan bunda sendirian" Mas Langit memotong ucapanku.

Mbak Caca bangkit setelah pamit kepadaku. Lalu Mbak Caca mengikuti langkah Mas Langit yang lebih dulu meninggalkan meja kami. Dua punggung itu pergi menjauh hingga akhirnya hilang dari pandanganku.

Hatiku terluka melihat perhatian Mas Langit Kepada Mbak Caca. Bahkan Mas Langit sampai harus menyembunyikan pernikahan kami. Kenapa Mas? Kenapa Mbak Caca tidak boleh tahu tentang pernikahan kita? Kenapa kamu menyembunyikannya? Apakah kamu takut jika Mbak Caca meninggalkanmu lagi?

Bahkan dirimu tidak menyapaku ketika aku datang. Tidak memandangku. Kamu pergi tanpa pamit kepadaku? Kenapa kamu menjadi sedingin ini Mas Langit? Hatiku sangat nyeri melihatmu mengabaikanku.

Aku melihat Raka berjalan menuju ke tempatku. Aku bergegas menghapus air mata yang menggenang di kedua sudut mataku. Menetralkan mimik wajahku supaya tidak terlihat sedih.

"Langit sama Caca kemana Lai?" Raka duduk tepat didepanku.

"Ke kamar bunda, kasihan bunda terlalu lama ditinggal sendirian" jawabku dengan mengulas sedikit senyum untuk menutupi kesedihanku.

Raka menatapku lama. Aku merasa tidak nyaman, kualihkan pandanganku kesegala arah. Apakah Raka tahu aku sedang tidak baik-baik saja.

"La?" panggilnya.

"Ya" jawabku menunduk sambil memainkan jariku yang saling tertaut.

"Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanyanya. 

Aku menggeleng pelan namun tidak berani menatap Raka. Tidak mungkin aku menceritakan kondisi rumah tanggaku yang baru berumur sehari kepada orang lain. Meskipun itu Raka sahabatku sendiri.

"Sepuluh tahun La" ucapnya terjeda setelah menghembuskan nafas kasar. "Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat buat kita saling kenal. Tinggal di lingkungan yang sama, kesamaan nasib yang sama buat kita tahu satu sama lain. Kamu bukan pembohong ulung di depanku" 

Raka sangat mengenalku. Aku tahu itu. Aku tidak bisa membohonginya.

Tiba-tiba sepiring gado-gado tersaji di depanku. Ternyata pesanan kami sudah datang diantarkan oleh pramusaji. Syukurlah, semoga makanan ini bisa mengalihkan pertanyaan Raka.

"Wah, sepertinya enak. Mari kita makan. Bismillah." Ucapku lalu menyendokan gado-gado kedalam mulutku.

"Wah beneran enak" kataku lagi setelah menelan sendokan pertamaku.

Raka menghembuskan nafas kasar untuk kedua kalinya lalu menyendok makanan yang dia pesan. Raka cukup mengerti, pengalihanku menandakan aku belum siap untuk bercerita.

Selesai makan, aku menuju ke kamar bunda sendirian karena Raka ada panggilan dari UGD mendadak. Aku menarik nafas dalam saat sudah sampai di depan pintu kamar inap bunda. Aku harus menyiapkan hati jika saja nanti aku akan melihat adegan yang lebih melukai perasaanku. 

'Bismillah' gumamku, lalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam "Waallaikumsalam" jawab seseorang yang aku kenali suara itu milik Mas Langit.

Saat sedang masuk ke ruang inap bunda, hanya terlihat Mas Langit yang duduk di sofa sambil memangku laptop. Terlihat beberapa kertas berserak di atas meja menandakan Mas Langit sedang menyelesaikan pekerjaannya. Tidak terlihat mbak Caca di ruangan ini, mungkin dia sudah pulang.

Aku berjalan ke arah brankar bunda. Bunda Eriyana sangat cantik meskipun sudah memasuki usia yang sudah senja. Hal ini membuatku tahu dari mana wajah ganteng suamiku berasal. Bunda tertidur sangat nyenyak. Syukurlah, itu akan bagus untuk kesembuhan beliau.

"Mbak Caca kemana Mas?" tanyaku memecah keheningan.

"Sudah pulang beberapa menit sebelum kamu datang" Ucap Mas Langit yang masih fokus mengetik keybord di laptopnya.

Aku melihat jari itu. Jari manis di tangan kiri suamiku sudah tersemat cincin pernikahan kami. 'Alhamdullillah' gumamku sangat pelan bahkan semut yang bertengger di pundakku-pun tidak mungkin mendengarnya. Meskipun Mas Langit masih menyembunyikan pernikahan kami dari Mbak Caca, setidaknya dia masih menghargai pernikahan ini di depanku.

"Ada yang bisa Laila bantu Mas?" Tawarku melihat Mas Langit sibuk dengan pekerjaannya.

Mas Langit berhenti mengetik lalu menatapku kemudian dia menepuk sofa di sampingnya. "Duduklah, temani saya."

Mendengar permintaan Mas Langit membuat hatiku berbunga-bunga. Aku bergegas duduk di samping Mas Langit untuk menemaninya menyelesaikan pekerjaan kantor.

Duduk berdekatan dengannya masih membuat jatungku berdetak diatas normal. Aku jadi teringat saat pertama kali bertemu dengannya dan saat itu juga aku mulai jatuh cinta kepadanya. 

----------------------------------------

Beberapa hari setelah bencana tanah longsor yang merenggut semua keluargaku, aku dan beberapa anak korban tanah longsor dipindahkan ke panti asuhan. Panti asuhan itu ternyata milik keluarga Mas Langit.

Meskipun hatiku sangat sedih karena merasa kehilangan tetapi aku tidak menangis di depan orang-orang. Aku tidak suka dikasihani. Aku harus tegar dan harus mengiklaskan karena ini sudah takdir yang maha kuasa. Aku meyakini, ujian ini untuk menaikkan derajat ketaqwaanku. Kelak diakhirat pasti aku akan bertemu keluargaku kembali.

Setelah acara penyambutan, aku berjalan ke taman seorang diri. Bohong jika aku tidak sedih. Aku hanya terlihat tegar di depan orang-orang, namun tidak jika di saat aku sendirian. Aku duduk di bangku taman dengan menundukkan kepala, diam-diam aku tersedu menyembunyikan tangisku.

Tiba-tiba saja aku melihat kaki seseorang berdiri tepat di hadapanku. Aku buru-buru menyeka air mataku dengan lengan bajuku. Lalu orang itu mengulurkan sapu tangannya. Aku melihat orang itu yang ternyata remaja laki-laki yang kemudian aku kenal bernama 'Gema Langit Ramadhan'. Aku menerima sapu tangannya lalu mengusap air mataku di pipi.

"Tidak apa-apa jika ingin menangis. Tidak perlu berpura-pura kuat. Hal itu bisa membuat lukamu tidak akan cepat sembuh. Semuanya akan baik-baik saja meskipun kamu menangis. Tidak akan menjadi lebih buruk malah akan meringankan kesedihan di hatimu"

Kalimat itu yang diucapkan Mas Langit untuk mengurangi kesedihanku. Dan dari pertemuan pertama kali itulah membuatku menaruh hati kepadanya. 

Sapu tangan pemberiannya masih aku simpan sampai sekarang. Selalu aku bawa kemana saja. Saat aku bersedih, aku selalu menggenggam sapu tangan itu untuk menenangkan hatiku. 

Istri Pilihan Bunda (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang