Aku mencoba menetralkan perasaanku yang sendu akibat notifikasi yang membuatku tidak tenang. Apakah Mbak Caca sudah kembali ke indonesia? Apakah nanti mereka akan bertemu? Membayangkannya saja membuat hatiku cemburu. Apakah hatiku sudah menjadi egois karena Mas Langit sudah menjadi suamiku?
Dipertengahan makan tiba-tiba Mas Langit menyodorkan sebuah kartu kepadaku.
"Ini untuk kamu La"
"Apa ini Mas?" Tanyaku penasaran pada Mas Langit.
"Itu kartu debit untuk kamu. Itu nafkah dari saya untuk kamu. PIN-nya akan saya kirim wa nanti" Jelasnya.
"Tapi Mas..."
"Itu tanggung jawab saya sebagai suami kepada istri. Itu khusus untuk kamu, terpisah dengan kebutuhan rumah tangga rumah ini" Selanya.
"Kamu boleh membeli apa saja yang kamu butuh atau inginkan karena uang di kartu ini sudah menjadi hak kamu" Tambah Mas Langit.
"Saya.....saya sudah mempunyai gaji dari mengajar Mas dan itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan saya. Jadi...."
"Cukup ucapkan terimakasih apakah tidak bisa? Jangan ditolak karena itu salah satu kewajiban saya" Sela Mas Langit dingin.
"I...iya Mas, terimakasih" Jawabku dengan suara tergagap. Tidak biasanya Mas Langit berucap dingin kepada orang lain. Dia pria yang sangat baik dan rendah hati. Apakah karena pernikahan ini Mas Langit perlahan jadi membenciku?
Mas Langit mengantarku ke sekolah tempatku mengajar terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kantor. Mobil Mas Langit berhenti perlahan ketika telah sampai di depan gerbang sekolah. Aku melepas seatbelt lalu menyodorkan tangan ke arah Mas Langit. Memberanikan diri meminta rida suamiku untuk bekerja dengan mencium tangannya.
Mas Langit tampak bingung dengan apa yang aku lakukan.
"Mas, salim" Ucapku pelan.
Mas Langit menyodorkan tangannya kearahku. Aku menjabatnya dengan lembut lalu mencium tangan suamiku. Ada debaran jantung diatas normal saat mencium tangan itu. Kali kedua kucium tangan itu masih membuat badanku panas dingin tidak karuan.
"Laila pamit Mas, Assallammuallaikum" Ku tarik handle pintu saat tiba-tiba kurasaksakan tarikan lembut di lenganku.
"Nanti Pak Sukri supir bunda yang akan menjemputmu" Ucap Mas Langit.
"Iya Mas"
-----------------------------
Tepat pukul 14.00 kegiatan belajar mengajar telah berakhir. Segera aku merapikan buku pr anak-anak yang telah selesai aku koreksi.
"Laila buru-buru sekali, ada acara?" Tanya Bu Vera, guru paruh baya yang sudah menganggapku sebagai putrinya.
"Iya Bu, mau ke rumah sakit jenguk bunda Mas Langit" jawabku.
"Ibu mertua" ralat Bu Vera.
"Iya bu, maksudku ibu mertuaku" jawabku kikuk karena belum terbiasa dengan kehidupan setelah menikah.
"Saya duluan Bu Vera, Assallammuallaikum" Pamitku.
"Waallaikumsalam" balasnya
Pak Sukri mengatarku ke rumah sakit tempat bunda dirawat. Saat memasuki lobi rumah sakit aku berpapasan dengan Raka.
"Selesai ngajar lai?" Tanyanya.
"Iya, mau jenguk bunda" jawabku. Kami berjalan beriringan menuju lift.
"Kamu sudah makan?"
"Belum, aku pengen cepet-cepet ketemu bunda dulu. Makan bisa nanti. Aku juga belum terlalu lapar" Jawabku.
"Ngaco kamu. Asam lambungmu bisa kambuh nanti. Jam segini belum makan" Omel Raka, "Aku juga belum makan, kita ke kantin dulu"
"Lah situ juga belum makan, malah pakai nasehatin orang. Situ sehat?" balasku. Raka terkekeh mendengar ucapanku.
Kami memasuki lift lalu Raka memencet tombol angka tiga karena kantin berada di lantai tiga rumah sakit ini. Selama perjalan menuju kantin kami membicarakan kondisi bunda yang semakin stabil. Raka juga memberitahuku kalau bunda sudah mendapatkan donor ginjal dari saudara jauh bunda. Bagai mendapat angin segar, perasaan lega seketika kurasakan.
Tapi rasa lega itu seketika tergantikan dengan rasa sesak di dada ketika aku memasuki area kantin. Netraku menatap salah satu meja kantin yang terdapat dua insan yang sedang berbincang hangat.
DEG
DEG
Itu Mas Langit dan Mbak Caca. Mereka duduk bersama dalam satu meja. Mbak Caca tertawa dengan menutup bibirnya disambut dengan senyum Mas Langit yang mengembang. Mereka terlihat sangat akrab dan tidak ada kecanggungan meskipun sudah putus dan sudah lima tahun tidak berjumpa.
"Kita gabung sama Langit dan Caca ya" Ucap Raka.
Rasanya kakiku sangat berat untuk diajak melangkah ke meja mereka. Aku tidak sanggup jika harus melihat keakraban antara Mas Langit dan Mbak Caca. Ada rasa sakit dihatiku ketika melihat kebersamaan mereka. Apakah hatiku mulai serakah? Ingin memiliki Mas Langit seutuhnya hanya untukku.
Raka menarik kursi di samping Mbak Caca lalu mengkodeku untuk duduk di kursi itu. Sedangkan Raka duduk di samping Mas langit. Kedatanganku dan Raka membuat obrolan antara Mas Langit dan Mbak Caca terhenti seketika.
"Hai Ka" Sapa Mbak Caca ramah kepada Raka.
"Kapan sampai indo?" Tanya Raka.
"Tadi pagi. Langit memberitahuku kalau bunda dirawat. Makanya aku buru-buru kesini" Terangnya lalu menyesap teh yang ada di hadapannya.
Mas Langit memberitahu Mbak Caca kalau bunda dirawat di rumah sakit. Tetapi untuk apa? Apa Mas Langit menggunakan bunda sebagai alasan agar bisa bertemu Mbak Caca? Ya Allah kenapa aku selalu berburuk sangka kepada suamiku sendiri.
"Aku pesen makanan dulu ya. Kamu Lai, pengen makan apa?" Aku paling tidak suka jika Raka mulai memanggilku dengan panggilan Lai dihadapan orang banyak. Memangnya aku alay?gulay? paklay? huh menyebalkan.
"Aku bigung, samakan saja dengan pesananmu" Ucapku karena tidak mau membuat Raka repot-repot mengantri pesananku . Sebenarnya nafsu makanku sudah menghilang saat tak sengaja melihat keuwuan antar Mas Langit dan Mbak Caca.
"Aku pesenin makanan kesukaanmu ya Lai" Lalu Raka melenggang pergi ke booth gado-gado. Raka memang paling tahu tentang diriku. Dia tahu kalau makanan kesukaanku gado-gado. Dia tahu jika aku menyukai warna hijau. Dia juga tahu kalau aku sangat benci dengan suara petir karena trauma saat aku kehilangan seluruh anggota keluargaku.
"Raka sepertinya tahu banget ya tentang Laila. Kalian kelihatan akrab banget, sepertinya cocok kalau kalian pacaran" Ucap Mbak Caca.
Kenapa Mbak Caca ngomong seperti itu? Apa Maksudnya? Sebaiknnya aku luruskan takut jika Mas Langit salah paham menilai kedekatanku dengan Raka.
"Kita sesama anak panti sudah hafal mbak apa yang disukai dan apa tidak disukai. Secara kita sudah tinggal di lingkungan yang sama selama bertahun-tahun." Terangku.
"Loh Laila pakai cicin. Kamu udah menikah?" Tanyanya terkejut.
Mbak Caca meraih tangan kiriku yang aku letakkan diatas meja. Matanya langsung tertuju pada sebuah cincin melingkar di jari manisku. "Kok ga kasih kabar sih? Sama siapa?" Tanyanya.
Mas Langit ternyata belum bercerita tentang pernikahan kami kepada Mbak Caca. Aku melirik jari manis tangan Mas Langit dan tidak ada cincin yang melingkar di jari tersebut. Hatiku mencelos, sakit sekali. Mas Langit belum mengakui pernikahan kami. Mas Langit sengaja menyembunyikan pernikahan kami dari Mbak Caca.
Mataku sudah berkaca-kaca tetapi aku harus bisa menahan air mata ini supaya tidak luruh. Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan Mas Langit dan Mbak Caca. Aku sudah bertekad membuat Mas Langit mencintaiku dan menerima pernikahan ini karena memang dia mencintaiku. Bukan karena permintaan bunda atau rasa kasihan kepadaku.
"Siapa Laila?" Ulang Mbak Caca.
"Em, itu... itu?" Lidahku terasa kelu tidak mempu menjawab pertanyaan Mbak Caca. Tidak mungkin aku jujur kepada Mbak Caca karena Mas Langit sendiri belum mau mengakui pernikahan ini. Begitupun aku juga tidak bisa berbohong karena pernikahan ini bukan suatu kebohongan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Pilihan Bunda (End)
DragosteGema Langit Ramadhan, nama laki-laki yang telah sah menjadi suamiku setelah selesai mengucapkan ijab qobul. Aku berdoa kepada Allah semoga pernikahan ini bisa menghadirkan cinta diantara kami. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa hatinya bukan milikku...
