13 Berbeda

13K 779 6
                                        

Adzan subuh dari aplikasi ponsel membangunkanku dari tidur lelap. Mataku mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya remang dari lampu tidur di atas headboard.

Mengingat kejadian semalam membuatku tersipu malu. Mas Langit memperlakukanku sangat lembut dan sangat hati-hati. Aku merasa menjadi wanita yang sangat disayangi dan dicintai olehnya. Aku berharap hal ini akan menjadikan hubungan kami lebih dekat lagi. Menumbuhkan benih-benih cinta diantara kami meskipun secara perlahan.

Aku bergegas untuk ke kamar mandi lalu menunaikan sholat subuh. Selesai menjalankan ibadah sholat, aku mencari keberadaan mas langit yang ternyata sedang berdiri di balkon hotel.

"Mas" Panggilku dari pintu balkon. Mas Langit terlihat melamun. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin ada masalah pekerjaan di kantornya, tebakku.

"Mas" Panggilku sekali lagi dengan menyentuh lembut lengan suamiku.

Mas Langit tampak terkejut dengan panggilanku "Ya La" jawabnya pelan.

"Mas Langit kenapa disini?" tanyaku. Ini masih cukup gelap walau hanya sekedar melihat pemandangan kota. Bahkan udara di luar sini cukup dingin menerpa kulit.

"Tidak, tidak ada" jawabnya singkat lalu masuk ke dalam kamar hotel tanpa mengajakku.

Mas Langit terlihat berbeda. Sangat berbeda. Tindakannya pagi ini tidak sehangat perlakuannya tadi malam. Dia cenderung lebih banyak diam sekarang.

Hari ini kami meninggalkan kota Surabya dengan mengambil penerbangan pagi. Dari bandara sampai di rumah Mas Langit lebih banyak diam daripada membuka suara. Dia hanya berbicara seperlunya saja.

Ketika kami sampai di rumah- pun dia cenderung menghindariku. Merasa canggung bila aku melakukan kontak mata dengan dirinya. Dia akan melihat ke arah lain saat berbicara denganku. Aku merasa Mas Langit tidak nyaman bila aku berada di dekatnya.

Malam ini aku menatap diriku di cermin. Masih tercetak jelas jejak-jejak percintaan kami semalam. Menghindarnya Mas Langit membuat rasa tidak percaya diriku muncul. Asa yang awalnya aku pupuk menjadi kerdil kembali. Aku mencari-cari. Apakah ada yang salah dengan diriku? Apakah ada yang kurang saat aku memberikan kewajibanku?

Aku mengganti baju tanpa lengan yang rencananya akan aku gunakan malam ini dengan baju turtle neck. Aku tidak mau jejak-jejak itu terlihat oleh Mas Langit dan dia akan merasa jijik kepadaku.

Aku merebahkan diriku di ranjang. Tetap terjaga menunggu Mas Langit masuk ke dalam kamar namun suamiku itu tidak kunjung datang. Meskipun waktu sudah menunjukkan waktu tengah malam, aku masih mencoba menahan kantuk dan tetap menunggunya masuk ke kamar. Sampai kantuk berat menghajarku dan aku jatuh terlelap dalam tidurku.

---------------------------------

Empat minggu kemudian.

Satu bulan tepat setelah malam itu Mas langit semakin dingin terhadapku. Aku tidak tahu apa yang salah pada diriku sehingga dia membuat jarak yang semakin lebar setiap harinya denganku.

Dia lebih suka berangkat di waktu pagi buta lalu lembur ataupun pulang saat larut malam. Dia juga sering berpergian ke luar kota. Kepulangannya ke rumah bisa dihitung dengan jari. Dia juga tidak pernah berpamitan jika akan pergi ke luar kota. Seacuh itu dia kepadaku.

Kami jadi jarang bertemu dan jarang sekali mengobrol. Bahkan hanya untuk sekedar sarapan atau makan malam bersama-pun sudah hampir tidak pernah sama sekali. Mas Langit lebih sering sarapan di kantor dan pulang dalam kondisi perut sudah kenyang.

Aku sudah berusaha memperbaiki komunikasi diantara kami. Seperti mengajaknya berbicara terlebih dahulu namun dia selalu berusaha menyudahi percakapan diantara kami. Aku juga sering menghubunginya melalui pesan singkat meskipun hanya sekedar mengingatkannya untuk makan dan sholat namun hanya dibalas sekedarnya saja. Bahkan banyak dari pesan-pesan itu yang hanya dibaca dan tidak dibalas olehnya.

Kami tidak bisa seperti ini terus. Jika hal ini terus dibiarkan maka pernikahan kami bisa kandas kapan saja.

Siang ini seusai mengajar, aku pergi untuk menemui Mas Langit di kantornya. Sudah tiga hari ini suamiku itu tidak pulang ke rumah karena ada urusan di luar kota. Aku tidak menghubunginya terlebih dahulu karena aku takut dia akan mencoba menghindariku lagi.

Aku membawakan makan siang kesukaannya berupa udang goreng dan ca kangkung yang lebih dahulu aku pesan di restoran dekat kantornya. Makan siang ini yang akan aku gunakan sebagai alasan untuk mengikis jarak diantara kami. Aku akan mengajakknya untuk makan siang bersama di kantornya.

Sebutlah aku wanita yang rendah harga dirinya karena mengemis cinta dari seseorang yang aku sayangi. Tidak apa aku terlihat rendah di matanya, aku hanya ingin mempertahankan pernikahan ini.

Sesampainya di kantor Mas Langit, resepsionis mengantarku menuju lantai atas setelah aku memberitahu identitasku dan menyampaiakan maksud dan tujuanku untuk menemui suamiku. Tiba di lantai atas, aku menemui meja sekretaris yang kosong. Ini jam makan siang pasti para pegawai sedang menikmati waktu istirahat mereka.

Daripada menunggu, aku memberanikan diri menuju ruangan dengan pintu yang bertuliskan CEO. Saat tanganku akan mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu, aku melihat pemandangan yang sangat menyesakkan dada.

Air mataku tiba-tiba jebol dan perlahan turun membanjiri pipi. Aku hanya mampu meremas bungkusan plastik yang ku genggam tanpa mampu bersuara lagi. Hatiku hancur berkeping-keping. Sakit sekali.

Aku melihat pemandangan yang tidak wajar yang seharusnya tidak dilakukan oleh dua orang lawan jenis yang tidak mempunyai ikatan pernikahan. Aku melihat Mas Langit tidur di pangkuan Mbak Caca.

Iya benar, Mas Langit tidur di pangkuan Mbak Caca. Bahkan saat aku mengusap mata untuk menghilangkan kabut di mataku, pemandangan itu tetaplah sama dan bukan sekedar halusinasiku. Tidur Mas Langit sangat lelap sampai begitu nyaman di pangkuan wanita itu. Hatiku sungguh sakit mengingat dia tidak pernah senyaman itu tidur satu ranjang denganku. 

Apa karena Mbak Caca dia berusaha menjauhiku? Apakah karena rasa cintanya yang begitu besar kepada wanita itu dia berani tidur di pangkuan wanita yang belum halal baginya? 

'Tidak adakah secuil cinta darimu mas yang kamu sisakan untukku? kenapa harus ada perempuan lain? Bahkan aku sudah memberikan segalanya untukmu. Kehormatanku, harga diriku, bahkan seluruh hatiku aku berikan kepadamu' jerit batinku.

Aku menyeka air mataku yang meleleh, lebih memilih berbalik badan untuk segera meninggalkan ruangan yang meyesakkan dada ini. Melangkahkan kaki yang sudah lemas bagai jelly serta mengumpulkan sisa-sisa kewarasan yang masih tertinggal agar aku tidak sakit jiwa karena penghianatan ini.

Aku kembali menerawang kebelakang. Kata-kata Mas Langit yang bilang jika dia lembur sampai pagi kala itu hanya sebuah omong kosong bagiku. Setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri sekarang aku tahu siapa pembohongnya. Bukan wanita itu, bukan Mbak Caca tapi suamiku sendiri, Mas Langit.

Istri Pilihan Bunda (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang