Ponsel saya yang berada di atas nakas berdering, ternyata panggilan dari Caca. Dia akan ke Surabaya menemui investor. Saya menemani Caca pergi ke Surabaya karena saya sudah berjanji kepada papinya untuk menjaganya.
Saya tahu Laila belum pulih tetapi saya tidak bisa meninggalkan dia sendirian di rumah. Saya tidak mau melepas pengawasan saya pada Laila, saya takut kejadian serupa akan terulang lagi. Saya terpaksa mengajak Laila yang belum pulih ikut serta pergi ke Surabaya.
Tiba di Surabaya saya memesan kamar hotel tipe presidential suite agar Laila bisa beristirahat dengan nyaman. Saya meninggalkannya di kamar hotel lalu turun menemui investor.
Pertemuan dengan investor berjalan lancar. Beres dengan urusan investor, saya bergegas menuju kamar hotel untuk melihat keadaan Laila.
Namun langkah saya terhenti ketika Caca ingin mengajak saya berbicara hanya berdua di restoran hotel.
"Lang, apa kamu bahagia menikah dengan Laila?" Tanyanya to the point setelah kami duduk berhadapan di restoran hotel.
"Absolutely Ya" Jawab saya mantap, meskipun pernikahan yang saya jalani hanya sementara dan itu-pun demi menumbuhkan semangat bunda untuk menjemput kesembuhan.
"Aku rela menjadi madu Laila jika kamu mau? Kamu bisa memiliki dua istri sekaligus yang bisa mengurus dan muas** kamu di ranja**. Aku yakin Laila juga tidak akan keberatan kalau berbagi suami" tawarnya.
Saya memijit pelipis karena pusing menghadapi tingkah caca yang terbilang konyol "Menikah bukan hanya soal ranja** dan mengurus suami Ca. Menjaga perasaan istri agar tidak terluka itu juga bagian dari menikah" Meskipun saya bukan laki-laki yang ada di hati Laila tetapi saya tidak mau menduakanya.
"Aku mencintai kamu Langit. Apa tidak ada sedikitpun rasa cinta kamu untuk aku? Bahkan aku sudah merendahkan harga diriku sampai seperti ini tidakkah kamu melihatnya?" Caca terisak. Saya tahu Caca mencoba mengontrol emosinya agar tidak meledak-ledak dan berdampak mempermalukan kami.
"Saya tetap pada keputusan saya Ca. Cobalah keluar dari dunia yang berpusat pada saya. Kamu hanya terobsesi dan tidak bisa kehilangan saya" Jelas saya .
"Aku tidak akan menyerah untuk ini Lang. Coba pikirkan kembali permintaanku ini. Andaikan kamu berpisah dengan Laila suatu saat, aku tetap akan menerima kamu." Caca tetap pada pendiriaannya.
"Andaikan saya berpisah dengan Laila, saya tetap tidak akan menikah dengan kamu Ca, karena.."
"Karena apa? Karena aku sakit mental" selanya memotong ucapan saya dengan suara lebih tinggi.
"Karena saya menyayangi kamu sebagai saudara perempuan. Tidak lebih!" Jelas saya.
"Tolong hentikan obsesi kamu kepada saya. Kalau kamu terus-terusan seperti ini kamu bakalan tambah terluka"
Obrolan kami semakin tidak kondusif. Saya menghubungi Vivian untuk datang ke restoran hotel agar bisa menenangkan Caca.
Tidak lama Vivian datang lalu membujuk Caca untuk pulang bersamanya.
----------------------------
Setelah pembicaraan dengan Caca yang membuat kepala saya berdenyut nyeri, saya memutuskan masuk ke kamar hotel.
Saya duduk di ranjang Laila. Melihatnya tertidur nyenyak membuat hati saya sedikit lega. Banyak istirahat membuat tubuh Laila akan lebih cepat pulih.
Entah mengapa tangan saya tergerak menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Seperti terdapat magnet saya mengusap bibir Laila yang sedikit pucat. Otak saya seperti tidak berakal. Bibir Laila seperti madu yang ingin saya sesap. Saya mendekat ke arah wajahnya lalu menci** bibir Laila.
Saya tersadar ketika ada pergerakan kecil dari Laila karena merasa terusik.
Saya mengusap bibir Laila kembali. Bibir yang membuat saya candu ingin menyesapnya kembali. Tidak ingin terbawa suasana, saya memilih mengecup kening Laila cukup lama. Menyalurkan rasa sayang dan cinta saya kepada Laila. Setelahnya saya beranjak ke kamar mandi. Lebih baik saya menyegarkan otak saya yang sedikit kurang waras.
Keluar dari kamar mandi ternyata Laila masih asyik dalam dunia mimpinya. Tidurnya terlalu lelap sehingga tidak tega rasanya saya membangunkannya.
Saya memilih duduk di sofa mengamati Laila dari jauh. Dia seperti sleeping beauty yang menunggu pangeran untuk menci**nya agar bisa terbangun. Tetapi sayang pangeran itu bukan saya. Saya hanya menjadi tokoh kurcaci di dalam dongeng kehidupan Laila. Ralat, bukan kurcaci tapi lebih tepatnya sebagai ibu tiri dalam dongeng sleping beauty. Tokoh antagonis dalam cerita ini karena memang saya-lah penjahatnya.
Asyik melihatnya tertidur sampai saya tidak menyadari jika Laila tiba- tiba terbangun dan melihat ke arah saya. Saya merasa gugup karena terpegok memperhatikan dirinya yang sedang tertidur.
Saya memilih mengalihkan pandangan untuk menghilangkan rasa canggung.
----‐---------‐
Saya mengajak Laila makan malam di tempat favorit saya dan bunda. Sup berwarna coklat pekat bernama Rawon yang merupakan makanan khas di kota ini. Tidak disangka saya bertemu Marco di tempat ini. Marco adalah teman kuliah saya.
Setelah selesai makan malam saya mengajak Laila ke alun-alun Surabaya untuk melihat air mancur.
Laila duduk manis di kursi taman. Perempuan ayu itu asyik mengamati air mancur yang sepertinya lebih menarik dari obrolan kami. Seperti biasa saya mencuri fotonya lagi secara diam-diam. Hanya ingin mengabadikan seseorang yang pernah saya miliki meski dalam waktu yang singkat.
Di tengah-tengah obrolan kami, tidak disangka Laila menanyakan keberadaan saya saat dirinya pingsan waktu itu.
Saya mengatakan kalau saya lembur di kantor meskipun secara implisit. Maaf La saya berbohong jika saya lembur sampai subuh. Tidak sampai hati saya menyampaikan keterpurukan Raka sampai mabuk-mabukan di bar. Saya takut kamu akan lebih terpukul karena lelaki yang kamu cintai hancur karena saya.
Sebut saya manusia tidak punya hati. Saya hanya ingin egois sampai bunda sembuh dari sakitnya.
Tiba-tiba hujan mengguyur bagai air bah yang turun dari langit. Saya khawatir kalau Laila jatuh sakit lagi. Saya memberikan jaket yang saya simpan di dalam mobil. Memakaikannya kepada Laila supaya tidak kedinginan.
Sampai di kamar hotel Laila melepas jaket yang saya berikan. Akibatnya sungguh fatal. Pakaian basah yang dikenakan Laila membuat tubuhnya tercetak jelas di mata saya.
Otak saya kosong. Tidak ingat lagi janji yang harus saya tepati. Tidak perlu lagi menjaga hati orang yang sangat saya cintai. Saya hanya ingin Laila ada dalam dekapan saya. Memiliki Laila seutuhnya untuk saya.
Hanya untuk saya.
Saya memeluk Laila dari belakang.
"La, saya ingin kamu malam ini boleh?" Tanya saya dengan hasrat yang menggebu dan sudah tidak mampu lagi saya kontrol. Hanya anggukan yang diberikan Laila sebagai tanda dia menyetujuinya.
Saya terbangun dengan rasa penyesalan yang mendalam. Ada sebongkah batu besar yang menghimpit dada saya.
Janji yang saya buat sendiri nyatanya tidak mampu saya tepati. Raka akan kecewa karena saya. Dan Laila akankah dia menyesal memberikan harta berharganya untuk saya dan bukan laki-laki yang dicintainya?
Rasa bersalah seperti mengepung hidup saya. Saya benar-benar lelaki breng***. Nafsu telah menutup akal sehat saya.
Saya bingung harus bagaimana setelah kejadian ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Pilihan Bunda (End)
RomanceGema Langit Ramadhan, nama laki-laki yang telah sah menjadi suamiku setelah selesai mengucapkan ijab qobul. Aku berdoa kepada Allah semoga pernikahan ini bisa menghadirkan cinta diantara kami. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa hatinya bukan milikku...
