Sudah satu bulan ini saya menghindari Laila. Rasa bersalah karena berbuat sejauh itu membuat saya menjadi kerdil dan kehilangan muka di depannya.
Hampir satu bulan ini saya mengkonsumsi obat tidur dosis tinggi. Rasa bersalah itu membuat saya kesulitan hanya untuk sekedar singgah ke alam mimpi.
"Lang stop konsumsi obat tidur itu. Yang kamu butuhkan menyelesaikan masalahmu satu-satu. Yang sakit itu pikiranmu bukan badanmu" Dokter Daud. Dokter pribadi saya tidak mau meresepkan obat tidur untuk kesekian kalinya.
"Datang ke psikiater jika kamu butuh melepaskan beban. Datang ke saya kalau kamu sakit badan bukan pikiran" terangnya lagi.
Saya meninggalkan ruangan Dokter Daud dengan tangan kosong. Dokter Daud benar, saya harus segera menyelesaikan masalah saya.
Saya menghubungi Jonathan dan pengacara saya. Saya meminta Jhonatan untuk mengurus pembelian apartement atas nama Laila. Apartement yang nyaman dan aman untuk ditinggali perempuan. Saya juga memindahkan beberapa aset tidak bergerak dan deposito yang saya miliki menjadi atas nama Laila Anindya.
Saya harus melepaskan beban saya. Melepaskan kekangan rantai pernikahan yang membelenggu Laila. Keputusan saya sudah bulat, saya akan menceraikan Laila.
Saya kembali ke rumah untuk mengemas beberapa pakaian saya. Hanya beberapa lembar, tidaklah banyak. Rencananya selama proses cerai saya akan tinggal di apartement yang letaknya tidak jauh dari kantor. Apartement yang selama satu bulan ini saya singgahi ketika menghindari Laila.
Perpisahan dengan Laila membuat hati saya remuk. Tetapi berbeda dengan Laila, dia terlihat tegar dan ikhlas ketika pernikahan ini saya akhiri.
'Semoga kamu bahagia dengan Raka, La. Saya tulus mendoakanmu. Dan terima kasih telah memberi warna di hidup saya meskipun hanya sekejap' doa saya dalam hati.
----------------------------------
Satu bulan setelah mengucapkan perpisahan dengan Laila tidak pernah ada lagi komunikasi diantara kami.
Saya hanya mampu melihat foto-foto wanita yang saya cintai itu melalui galeri bersimbol hati di ponsel saya. "Saya rindu La" Pikiran dan suasana hati saya akan menjadi buruk jika rindu ini sudah memenuhi rongga hati. Sesak sekali seperti menusuk.
Pukul 10.00 tepat ponsel saya berbunyi. Bunyi notifikasi spesial yang saya setel berbeda dari notifikasi kontak lainya. Saya menghentikan rapat sementara hanya untuk fokus membaca pesan itu. Pesan dari wanita yang saya cintai, Laila.
✉️ Bisakah kita bertemu Mas? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.
Saya janjian dengan Laila untuk bertemu di café dekat kantor di saat jam makan siang. Saya mengajak makan siang bersama. Harapan mempertahankan rumah tangga masih tetap ada meskipun itu sangat-sangat tipis bagi saya. Sebut saja saya lelaki plin-plan.
Rapat tak kunjung selesai dan melewati jam makan siang. Saya mengabari Laila kalau saya sedikit terlambat.
Selesai rapat saya bergegas berlari meninggalkan ruangan rapat. Para anggota direksi dan kepala divisi mungkin bingung melihat kelakuan saya yang abnormal, berbeda dengan biasanya yang terbilang cukup tenang dan santai.
Saya tidak sabar menunggu lift yang tak kunjung naik menuju lantai dua puluh tempat dimana saya berdiri sekarang. Akhirnya saya memilih tangga darurat sebagai alternatif untuk mepersingkat waktu.
Saya mengusap peluh yang mengucur di dahi saya menggunakan punggung tangan ketika telah sampai di depan café.
Saya memasuki café dan terkejut melihat Caca menghakimi Laila. Hati saya sakit ketika melihat Laila yang berantakan karena ulah Caca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istri Pilihan Bunda (End)
RomanceGema Langit Ramadhan, nama laki-laki yang telah sah menjadi suamiku setelah selesai mengucapkan ijab qobul. Aku berdoa kepada Allah semoga pernikahan ini bisa menghadirkan cinta diantara kami. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa hatinya bukan milikku...
