Jadilah pembaca yang bijak
Cerita ini hasil pemikiran saya sendiri bukan hasil novel terjemahan.
William Aderson adalah seorang CEO muda tampan dan kaya raya yang terkenal didunia gelapnya. William yang kejam dan egois penuh dengan obsesi lebih mem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HAPPY READING... - - - -
VOTE★!
Saat ini William dan Griselia sedang menuju salah satu mall. William mengajak Griselia berbelanja, semenjak kejadian dimana Griselia tidak mengingat peraturan yang dikatakan William, Griselia menjadi lebih sulit bermain handpone itu. Handpone itu akan bisa digunakan jika mendapatkan akses dari william. William mengatur semua kegiatan Griselia.
Sesampainya di mall, Griselia turun bersama William yang merangkul pinggang nya, Griselia sudah terbiasa hal hal yang dilakukan William kepadanya.
"William apakah kita juga akan membeli peralatan sekolah ku besok?" Tanya Griselia saat mereka berjalan.
"Aku sudah mempersiapkannya semalam, tapi jika kau masih menginginkannya, kita bisa membeli lagi" William langsung membawa Griselia ke tempat barang barang berkelas yang tentu saja bukan main harganya.
Setelah berkeliling toko dan memborong isi mall itu, William mengajak griselia untuk makan di salah satu restoran mewah.
Setelah sampai di restoran itu, seorang wanita yang mengenakan pakaian hitam putih membungkuk kearah William
"Selamat datang Mr. Aderson, and Mrs. Aderson, saya akan mengantarkan anda ke ruangan yang sudah disiapkan." Ucap perempuan itu. William memang sudah memesankan ruangan VVIP untuk mereka dirinya dan Griselia makan. William tidak suka keramaian, dia tidak ingin menjadi sumber perhatian orang orang. Baru melangkahkan kaki masuk ke restoran ini saja, orang orang langsung memandangnya.
Setelah pelayan itu mengantar ke ruang VVIP dan menuliskan pesanan milik William dan Griselia, pelayan itu langsung keluar, untuk menyiapkan pesanan itu.
Griselia fokus dengan pemandangan yang berada di luar kaca jendela itu. Dia menatap laut yang tidak jauh dari bangunan yang ditempatinya ini. Dia ingin kesana, tapi entah mengapa dia malas mengatakan niatnya pada William. Pintu terdorong, Masuklah beberapa pelayan yang mengantarkan pesanan mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan, hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar.
William tau apa yang dipikirkan Griselia mengingat dia tidak menepati janjinya sebelum pergi ke Jerman seharusnya mereka mampir ke pantai yang berada di Amerika itu dulu.
Setelah selesai makan siang itu, Griselia masuk kedalam mobil, duduk di sebelah kursi pengemudi. William mengandarai mobil itu dengan tenang, Griselia melihat arah jalan ini sepertinya bukanlah menuju ke mansion milik William.
Hingga Griselia sadar bahwa mobil yang dikendarai William ini menuju ke pantai yang dilihatnya tadi. Griselia langsung berlari meninggalkan William yang baru saja ingin membukakan pintu untuknya. Griselia merasakan pasir pantai yang terasa lembut yang di injak oleh telapak kaki nya, angin kencang yang menerpa wajahnya, suara ombak yang menenangkan, dan langit yang mulai menunjukkan suasana sore.