BREATH (11)

1.4K 229 6
                                        

Satu hal yang selalu membuatku bersyukur, saat aku terbangun dalam keadaan masih bernafas. Dengan begitu aku dapat melihat senyum adikku, Choi Yewon. Dia satu-satunya yang ku pikirkan ketika nanti aku pergi. Apa dia bisa hidup dengan baik, tanpa diriku?

Sojung Unnie, aku percaya dia bisa di andalkan. Hanya saja, dia terlalu dingin untuk Yewon yang sedikit manja. Kakakku terlalu sibuk hingga terkadang hanya ada Yewon dan aku. Tapi aku paham jika dia seperti itu karna ingin memberi kehidupan yang layak untuk kami.

Jika saja aku bisa mengatakannya, aku ingin katakan jika aku sedikit kecewa padamu Unnie. Tapi aku tak bisa menyalahkanmu karna alasan dari semua yang kau lakukan adalah aku.

Bolehkah aku meminta satu hal, berhentilah dari dunia kelam itu Unnie. Hiduplah dengan baik bersama Yewon dan ke empat saudari kita yang lain.

Memilih untuk tidak melanjutkan kegiatannya membaca tulisan tangan dibuku diary adiknya. Semua memang sudah diperkirakan, Yerin memang sudah merasa jika hidupnya tak lagi lama. Dan satu hal yang baru saja ia ketahui, selama ini Yerin tau tentang pekerjaan haramnya.

Adiknya itu terlalu hebat menyembunyikan perasaannya, bahkan dia berusaha baik-baik saja di tengah rasa kecewanya. Sebuah penyesalan yang akan sulit untuk Sojung lupakan, ia tidak pernah jujur pada Yerin tentang dirinya yang seorang penjahat. Membuat Yerin tau dengan sendirinya yang tentu menyakiti hati Yerin.

Tangannya terangkat, menghapus bulir air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Gadis berkaki jenjang itu sering kali menangis semenjak kepergian Yerin. Ia bahkan harus menerima amarah dari adik bungsunya karna dirinya yang tak datang untuk menemani Yerin.

Jika saja ia sedang tak bermasalah, mungkin ia bisa lebih cepat datang ke rumah sakit.

Satu minggu setelah pemakaman salah satu putri keluarga Choi. Duka mendalam masih terasa untuk mereka. Bahkan ke empat gadis Choi yang sejak dulu tak pernah peduli pada Yerin, mereka seolah ikut merasakan kehilangan. Keadaan mansion terasa lebih sunyi dari hari-hari sebelumnya. Mereka jarang terlihat melakukan ritual sarapan maupun makan bersama seperti biasanya. Bahkan Yewon tidak pernah menampakkan  dirinya di ruang makan.

Seperti saat ini, hanya ada Jennie dan dua adik kembarnya yang duduk di hadapan meja makan untuk memulai makan malam.

"Jisoo Unnie sedang pergi untuk menemui pengacara Park." ucap Jennie pada kedua adik kembarnya.

Chaeyoung dan Lisa hanya diam, wajah mereka terlihat seperti tak bersemangat melakukan apapun. Jika bukan karna paksaan kakaknya, mungkin mereka akan memilih untuk tidak mengikuti makan malam.

"Lisa-ya, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Semua yang terjadi adalah takdir."

Gadis berponi itu mendongak. Jujur ia merasa tidak tenang selama beberapa hari ini. Rasa bersalah seolah terus menghantuinya. Rasanya permintaan maaf tak cukup untuk menebus semua kesalahannya.

"Dia jatuh pingsan setelah aku membentaknya." lirih Lisa.

Jennie menatap sendu pada adiknya. Sejak kepergian Yerin, Lisa terus saja beranggapan jika kematian Yerin adalah karna dirinya. Hal yang sama juga di rasakan oleh Chaeyoung. Keduanya merasa begitu bersalah atas kepergian Yerin.

"Aniya, dia memang sudah sakit sejak dulu. Dan kita tidak pernah mengetahuinya."

"Unnie, aku memang membencinya. Tapi aku tak percaya jika aku sejahat itu sampai membuatnya meninggal. Aku bersalah padanya Unnie." ucap Lisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia meletakkan kembali sendok yang tadi ia gunakan untuk makan. Memilih beranjak dari kursi lalu melangkah pergi meninggalkan meja makan.

BREATHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang