Sojung menunggu dengan gusar di depan ruang tindakan, mengabaikan luka pada tangan juga lengannya akibat goresan kaca. Pikirannya hanya dipenuhi tentang Yewon. Keadaan adiknya di dalam sana yang tengah ditangani tim Dokter.
Pintu ruangan tampak terbuka, Sojung yang melihat pun segera beranjak mendekati Dokter.
"Bagaimana keadaan adikku?"
Dokter pria itu tampak menatap Sojung sejenak. Ia sedikit iba melihat penampilan gadis di hadapannya itu.
"Nona, sebaiknya lukamu juga segera diobati."
"Ku tanya bagaimana keadaan adikku?"
Sojung mengulang pertanyaan yang sama dengan nada sedikit tinggi. Ia terlihat geram karna Dokter tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Adikmu baik-baik saja. Beruntung karna benturan di kepalanya tidak terlalu keras. Kondisi adikmu sedikit lemah pasca dia mendonorkan darahnya. Sebaiknya dirawat beberapa hari di sini sampai kondisinya membaik."
Sojung sedikit terkejut dengan penjelasan Dokter. Ia bahkan tidak tau jika Yewon baru saja melakukan donor darah. Lalu untuk siapa Yewon melakukannya?
"T-tunggu, maksudmu adikku mendonorkan darah untuk siapa?"
"Nona belum tau? Bukankah adik Nona yang lain baru saja mendapat penanganan medis setelah menerima luka tusukkan. Nona Yewon lah yang mendonorkan darahnya. Choi Lisa, dia juga adik anda bukan?"
Sojung semakin tidak mengerti dengan penjelasan yang disampaikan Dokter pria itu. Ia sama sekali tidak tau mengenai apa yang terjadi. Seketika ia teringat akan tuduhan Jisoo padanya. Jisoo yang menuduhnya mencelakai adiknya. Mungkinkah yang Jisoo maksud adalah Lisa?
Lalu Yewon, adiknya itu berniat menyelamatkan Lisa dengan mendonorkan darahnya untuk Lisa. Dan yang terjadi sekarang, Yewon justru ikut terbaring di bangsal rumah sakit akibat ulah kakak Lisa sendiri, Choi Jisoo.
Lamunan Sojung buyar saat bangsal yang membawa adiknya tampak keluar dari ruang tindakan. Ia bisa melihat wajah sang adik yang terpejam. Perban coklat tampak melingkar di kepala Yewon. Sojung segera mengikuti bangsal adiknya yang di dorong menuju ruang rawat inap.
.
.
.
"Kau bercanda Unnie?"
"Apa kau pikir aku suka bercanda?"
Jennie memijit pelipisnya yang berdenyut. Mendengar pengakuan sang kakak yang baru saja melakukan tindakan bodoh.
"Mengapa kau bertindak tanpa mencari kebenarannya dulu?" Jennie sungguh geram. Bagaimana mungkin seorang polisi seperti kakaknya bisa bertindak di luar batas hingga membahayakan orang lain, terlebih saudarinya sendiri.
"Lalu mengapa kau malah di sini? Mengapa kau tidak bertanggung jawab atas tindakanmu?"
Suara Jennie terdengar meninggi. Jika saja ia tak ingat Jisoo itu kakaknya, mungkin ia sudah menampar gadis dihadapannya itu.
"Aku akan melihat Yewon."
"Tunggu Jennie."
Gadis mandu itu menghentikan langkah saat akan keluar dari ruangannya. Ia menatap sang kakak yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Untuk saat ini dan seterusnya, jangan ada yang pergi sendirian. Aku tidak yakin, tapi aku merasa ada yang mengincar keluarga Choi."
.
.
.
Jennie berjalan menghampiri seseorang yang terlihat duduk di kursi tunggu dengan mata terpejam. Sejenak menatap penampilan gadis yang menurutnya cukup memprihatinkan. Jennie ikut duduk di sebelahnya, meringis saat mendapati beberapa luka goresan ditangan juga lengan gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BREATH
Fiksi PenggemarDibalik setiap hembusan nafas, sebuah tanggung jawab besar harus dipikul. Meski hidup tak sesuai keinginan, Tuhan lebih tau jalan mana yang lebih baik. . . . Jisoo-Sojung-Jennie-Yerin-Chaeyoung-Lisa-Yewon. # 1 - gfriend 15-09-2021 # 1 - sibling 13-1...
