"APA aku berlebihan ya?" Suzy bergumam sambil memandangi beberapa menu makanan yang tersaji di meja makan apartemennya.
Hidangan ini jelas diperuntukan untuk seseorang yang katanya akan mampir ke Apartemennya selepas pulang kerja. Dan karena tadi Myungsoo bilang kalau dia belum makan—walaupun mungkin saja dia sebenarnya sudah makan—karena itu Suzy berinisiatif untuk membelikan makanan. Dia bisa masak, tentu saja. Namun jelas tidak sempat. Pekerjaan memasak itu butuh waktu dan effort, sedangkan dia tidak memiliki kedua hal itu. Jadi, yang paling benar memang melakukan pesan antar saja.
Suzy menggeleng, "Tidak, ini tidak berlebihan." Gumamnya lagi. Dia harus meyakini kalau ini bukan sesuatu hal yang berlebih. Lagipula ini untuk dua orang, jadi tidak terlalu banyak dan Myungsoo tidak akan berpikiran yang macam-macam... iya kan? Batinnya kembali bertanya.
"Aih," Suzy menghela napas panjang. Kepalanya menunduk menatapi pakaian yang sekarang ia kenakan lalu tertawa. "Apa yang kupakai ini coba... aku benar-benar sudah sinting sepertinya."
Gaun terusan sepanjang lutut berwarna hijau mint dengan potongan tangan sedikit menggelembung sepanjang siku memang bukan hal yang terlalu wah, tapi ini malam hari. Normalnya orang-orang akan mengenakan setelan piyama mereka di situasi seperti ini bukannya malah berdandan seperti hendak pergi makan malam. Sebelum Myungsoo datang dan memergokinya mengenakan pakaian tidak tahu tempat ini dia harus pergi ke kamar dan mengganti baju. Karena itu Suzy segera melesatkan langkahnya cepat menuju kamar; mengganti pakaian dan menghapus makeup-nya.
Jarinya berhenti saat ponselnya berdering dan nama Myungsoo menari-nari di layarnya. Suzy segera membuang kapas yang ia gunakan untuk membersihkan makeup-nya tadi ke tempat sampah, lalu mengangkat panggilan itu.
"Ya, Myungsoo?" jawab Suzy sambil memerhatikan penampilannya di depan meja rias di kamarnya sebelum melangkah keluar. Dia bisa yakin kalau Myungsoo sudah di gedung apartemennya—atau mungkin sudah berada di depan unitnya.
"Suzy, maaf, sepertinya aku tidak bisa datang."
Langkah Suzy berhenti tepat di depan pintu kamarnya, ada perasaan jatuh yang terasa di dalam dirinya yang kini hanya memunculkan kekecewaan yang panjang.
"Oh, kenapa?"
"Kupikir acara ini akan berlangsung cepat atau aku bisa pamit pulang setelah beberapa menit tinggal. Tapi sepertinya tidak mungkin." Myungsoo menghela napas diujung sana. Kalau bisa memilih jelas dia ingin menghabiskan waktu di apartemen Suzy bersama Suzy. Tapi, pertemuan ini juga penting.
"O-oh, tidak apa-apa, Myungsoo."
"Aku minta maaf. Aku ingin sekali menemuimu."
"Myungsoo, kau sedang apa?" Suzy bisa mendengar samar suara wanita diujung sambungan itu dan perasaan yang tak disukainya tiba-tiba menyeruak.
Apa itu Naeun? Tapi kenapa dia ada di sana?
Benar. Dia ponakan dari seseorang di Perusahaan Myungsoo. Dan dia sekertaris jadi-jadian Myungsoo sekarang.
Pemikiran macam-macam yang tak bisa dihentikan itu muncul membombardirnya membuat Suzy jadi overthinking. Ia segera menggelengkan kepalanya pelan dan berkata menjawab Myungsoo tadi. "Tidak apa-apa. Kita bisa bertemu lain kali kan?"
Entahlah... apakah ada lain kali untuk kita?
"Aku janji aku akan segera menemuimu."
Aku janji hanya ada kau di hidupku Suzy... tiba-tiba ingatannya tentang ucapan Jimin dahulu kala keluar. Sebuah janji yang bahkan tidak dapat laki-laki itu tepati. Suzy tersenyum getir, kenapa dia malah menyamakan ucapan Myungsoo dan Jimin coba? Mereka jelas dua orang yang berbeda walaupun dia tidak tahu apakah mereka setipe atau tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Girlfriend Rent
FanfictionDISCLAIMER: Cerita ini hanya fiksi belaka. Author hanya meminjam nama tokoh, tempat, dan merek untuk kebutuhan cerita. Cerita milik author, sedangkan Idol milik orang tua dan agensinya.🧡 Sewa jasa pacar bayaran adalah side-job Suzy. "Apa yang terja...
