"Jika ini memang takdir, maka ini adalah takdir yang sangat buruk."
Baik Yuri maupun Luhan, keduanya sama-sama terdiam dan tidak tahu bagaimana harus membalas perkataan Sehun yang satu itu. Terutama Yuri yang terlihat mengulum bibirnya pelan dan kedua tangannya yang tertaut di atas pahanya.
Menyadari itu, Luhan langsung menegur Sehun yang berlaku tidak sopan pada Yuri.
"Jangan seperti itu. Tidak ada takdir yang buruk.", Sehun terlihat memutar matanya malas lalu kembali melanjutkan aktivitasnya mengaduk minumannya.
"Ck, anak itu.", gerutu Luhan sebal lalu ia beralih pada Yuri yang masih menundukkan kepalanya.
"Dia hanya berbicara sembarangan. Jangan terlalu hiraukan.", ucap Luhan membuat Yuri menolehkan kepalanya pada pria itu lalu ia pun menunjukkan senyuman tipisnya.
"Hm. Aku tahu.", balas Yuri. Luhan pun semakin melebarkan senyumannya saat ia terhanyut dalam senyuman manis Yuri.
Saat Yeri kembali, ia melihat Sehun yang sedang melihat ke arah Yuri dan Luhan.
"Oppa.", panggil Yeri yang akhirnya mampu mengalihkan perhatian Sehun juga Yuri dan Luhan.
"Kau bosan?", tegur Yeri yang langsung disangkal oleh Sehun dengan penuh perhatian dan pria itu tidak menyadari jika pandangan Yuri berfokus padanya saat ini.
Saat Sehun menolehkan kepalanya, Yuri buru-buru memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain.
~
Pertemuan singkat dengan Luhan dan Yeri pun akhirnya selesai. Luhan juga Yeri pulang lebih dulu sehingga menyisakan Yuri dan Sehun yang masih berada di tempat mereka sebelumnya.
"Kau tidak mau pulang?", tegur Sehun saat Yuri sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda beranjak dari tempat duduknya.
Justru Sehun mendapati wanita itu sedang memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar mereka.
"Tunggu sebentar.", jawab Yuri tanpa menoleh ke arah Sehun sedangkan pria itu berdecih pelan karenanya.
"Kalau kau mau, kita bisa berjalan di luar sebentar.", ucap Sehun yang akhirnya mampu membuat perhatian Yuri berpusat padanya dengan raut wajahnya yang sangat antusias.
"Benarkah?!", seru Yuri dengan senyum merekah.
"Eoh.", mendengar jawaban Sehun, sontak Yuri berdiri dari tempat duduknya dan menarik tangan Sehun untuk segera mewujudkan perkataannya tadi.
Sehun awalnya terkejut dengan apa yang dilakukan Yuri secara tiba-tiba itu namun ia tidak memprotes atau berusaha melepaskan pegangan tangan Yuri padanya kini.
Keduanya berjalan melewati kerumunan orang-orang yang berlalu lalang sambil sesekali Sehun menarik Yuri ketika wanita itu menjauh darinya.
"Ck, norak sekali. Seperti tidak pernah keluar saja.", sindir Sehun yang membuat Yuri menghentikan langkah kakinya dan menghadap ke arah Sehun.
"Kau tidak lupa sedang menyindir siapa kan?", tanya Yuri membuat Sehun menatapnya dengan kening berkerut.
"Memangnya kapan terakhir kali kau keluar?", tanya Sehun balik.
"Dua tahun.", jawab Yuri dan mendengar itu membuat Sehun mengatupkan bibirnya rapat dan tidak tahu harus berkata-kata pada wanita itu lagi.
Jika dua tahun, Sehun sangat yakin jika kali terakhir Yuri keluar seperti ini adalah bersamanya saat ia mendapatkan libur dari militer tempo hari.
Tanpa bisa ditahannya, lengkungan senyum tipis muncul di wajah tampanny tatkala Sehun memperhatikan Yuri yang begitu senang seperti anak kecil yang baru pertama kali dilepas orang tuanya. Ini pemandangan yang sama saat dua tahun yang lalu mereka keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Difficult, But Easy (Completed)
FanfictionKisah seorang putri kerajaan monarki Korea yang jatuh cinta pada seorang perwira perang kerajaan yang mengabdikan hidupnya untuk negara. "Sulit jika kau hanya memikirkannya, tapi akan jauh lebih mudah jika kau mencobanya.", - Oh Sehun. "Aku tidak se...
