Luhan baru saja menyelesaikan aktivitas mandi pagi harinya, ia langsung mengambil remote televisi dan saat itu seluruh tayangan dipenuhi oleh berita mangkatnya Raja.
Pria itu sampai menjatuhkan remotenya karena terlalu terkejut.
"Yuri..Yoona..", gumamnya khawatir pada dua wanita itu.
"Itu artinya Yuri..", Luhan lekas mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi salah satu antara Yuri dan Yoona yang pada akhirnya tidak mendapatkan apapun.
Di sisi lain, Yuri juga baru mendapatkan kabar itu. Ia benar-benar terlihat seperti kehilangan seluruh fokusnya ketika para pengawalnya mulai memanggilnya dengan sebutan baru.
"Ini tidak benar kan?", tanya Yuri dengan tatapannya yang hanya melihat pada Dohwan yang menundukkan kepalanya tidak berani menatap Yuri kali ini.
"Kalian mempermainkan aku kan?", tanya Yuri lagi.
"Tidak apa-apa jika kalian mengaku sekarang, aku tidak akan menghukum kalian.", ucapnya dengan suaranya yang parau, menahan tangisnya. Terlebih lagi ketika ia menolehkan kepalanya ke arah Sehun, pria itu juga terlihat berlutut memberikan hormat padanya.
"Kenapa kalian begini? Berdirilah! Jangan bercanda berlebihan! Aku benci itu!", wanita itu meninggikan suaranya namun kekhawatiran di wajahnya sama sekali tidak dapat disembunyikannya.
"Anda harus segera kembali dan mengadakan pemakaman.", ucap Dohwan dengan memberanikan dirinya, biar bagaimana pun itu tugasnya.
Yuri membuang pandangannya ke arah lain, ke luar jendela dimana salju sedang turun dengan jauh lebih lebat dari sebelumnya.
Sehun menatap Yuri yang terdiam selama beberapa detik, perasaannya tidak enak dan ia pun bangkit lalu mendekati Yuri.
Helaan nafas berat keluar dari bibir wanita itu dengan kedua tangannya yang terkepal erat.
"Kalau begitu kita tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama di sini.", ucap Yuri yang mencoba untuk tegar.
"Pesawatnya sudah siap?", tanya Yuri yang dijawab dengan jawaban tegas oleh Dohwan.
"Barang-barang bawaan anda akan dikirimkan nanti. Sekarang, anda harus segera tiba di Seoul.", Yuri menganggukan kepalanya mengerti lalu ia menatap ke arah Sehun.
"Ayo kita pulang.", ajak Yuri lalu keduanya diikuti pengawal lainnya pergi menuju ke bandara untuk segera terbang ke Seoul.
~
Seluruh negeri sedang berkabung setelah berita tentang raja disiarkan ke seluruh penjuru dunia.
Kini Yuri bersiap untuk upacara pemakaman sang ayah yang akan diadakan hari itu.
Dalam beberapa hari terakhir Sehun tidak bisa menemui Yuri secara langsung apalagi berbicara padanya karena wanita itu begitu sibuk untuk mengurus banyak hal. Begitu juga dirinya yang akan menjadi pemimpin upacara pemakaman nanti.
Alhasil, Sehun hanya bisa melihat Yuri dari kejauhan, seperti saat ini. Ia berdiri di depan pintu ruangan fitting pribadi milik Yuri.
Dilihatnya wanita itu tidak pernah menangis sekali pun. Bukannya tidak sedih, tapi ia dipaksa untuk menelan air matanya karena tanggung jawabnya yang begitu besar.
"Apa yang anda lakukan disini?", tegur Dohwan yang datang dari belakang Sehun.
"Masuk saja. Dia..ah tidak maksudku Yang Mulia Ratu tidak akan keberatan jika anda ingin menemuinya.", ucap Dohwan dengan lebih sopan dari sebelumnya mengingat situasinya sudah berubah dan tidak bisa bersantai seperti sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Difficult, But Easy (Completed)
FanfictionKisah seorang putri kerajaan monarki Korea yang jatuh cinta pada seorang perwira perang kerajaan yang mengabdikan hidupnya untuk negara. "Sulit jika kau hanya memikirkannya, tapi akan jauh lebih mudah jika kau mencobanya.", - Oh Sehun. "Aku tidak se...
