Difficult, But Easy - 12. Shell We Start?

271 43 11
                                        

Dengan posisi Sehun yang kini berada di atas Yuri, keduanya sama-sama mematung dengan kejadian yang begitu tiba-tiba itu.

"Astaga! Gongju!", pekik salah satu kepala pelayan yang paling dekat dengannya lalu berlari menghampiri Yuri untuk memastika wanita itu baik-baik saja setelah Sehun sontak juga bangun dan membantunya berdiri.

"Tidak ada yang terluka kan?", tanya Sehun sambil memeriksa keadaan Yuri.

"Yakk! Kenapa kau selemah itu?! Sangat memalukan!", ucap Yuri dengan nada suaranya yang meninggi, terlebih lagi semua orang di sana sedang melihat ke arah mereka.

Dengan wajahnya yang sudah merah padam, Yuri segera melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan para pelayan dan penjaga di sana.

Sementara Sehun menatap kepergian Yuri dengan keningnya yang berkerut.

"Hei, dia masih aneh seperti dulu.", gumam Sehun namun lengkungan senyum muncul di wajahnya lalu ia pun menyerukan panggilan untuk Yuri di sana selagi berjalan cepat menyusul wanita itu.

Pada waktu yang sama, keduanya tidak menyadari jika Yoona dan Dohwan sempat melihat momen mereka.

"Boleh kutahu apa yang kau katakan padanya sehingga wanita keras kepala itu berubah pikiran?", tanya Dohwan pada Yoona di sebelahnya.

"Eoh, soal itu..", Yoona terlihat berpikir sejenak sambil menerawang kembali pada saat ia membujuk Yuri tadi.

"Aku hanya mengatakan bahwa kesempatan kedua saja sulit didapatkan, apalagi yang ketiga, keempat ataupun seterusnya. Intinya, dia sangat menyukai pria itu, si Oh Sehun itu. Jika dulu dia melepaskannya karena situasi, kali ini dia tidak akan membiarkan situasi yang sama membuatnya melepasnya lagi.", cerita Yoona.

Dohwan terlihat menganggukan kepalanya mengerti maksud dari perkataan Yoona.

~

Luhan berlari kecil ke arah pintu ketika suara bel memenuhi tempatnya tinggal saat ini.

Ketika ia membuka pintu, seorang gadis berdiri di depannya dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.

"Yeri? Ada apa?", tanya Luhan lalu merangkul Yeri untuk masuk.

"Oppa, kau belum melihat berita? Sehun oppa dan Yuri unnie akan menikah!", Luhan tahu itu, namun ia memilih untuk diam dan membiarkan gadis itu meluapkan emosinya dengan menangis di depannya.

"Kenapa wanita itu sangat tidak tahu malu? Belum cukupkah mengambil Suho oppa dariku dan sekarang bahkan seseorang yang sukai.", ucapnya di tengah isak tangisnya.

"Tenanglah, sekarang aku akan mengantarmu pulang.", Luhan akhirnya membuka suaranya lalu ia dengan cepat meraih kunci mobilnya serta jaketnya sebelum menuntun Yeri ke tempat mobilnya diparkirkan.

Selama perjalanan, masih terdengar isak tangis samar dari gadis yang duduk di kursi penumpang dan Luhan yang terus berusaha menghiburnya sampai akhirnya gadis itu terdiam.

Luhan langsung pergi setelah memastikan Yeri masuk ke dalam rumahnya. Suara helaan nafas berhasil keluar dari bibirnya tepat ketika ia kembali menjalankan mobilnya lagi menuju ke cafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan sosok wanita yang terus disebut Yeri tadi.

Malam sudah cukup larut sebenarnya. Tapi wanita itu memintanya untuk bertemu beberapa jam yang lalu.

Sesampainya ia ke cafe yang hanya berisikan Yuri serta beberapa pengawalnya.

"Duduklah.", titah Yuri saat Luhan berjalan mendekatinya.

Sesaat setelah Luhan duduk. Yuri menyerahkan undangan khusus pernikahannya pada Luhan.

Difficult, But Easy (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang