Yuri dan Sehun yang sudah benar-benar terpisah dari Yoona, Luhan, dan Yeri, kini keduanya berjalan menjauhi keramaian itu dengan keadaan canggung. Terlebih lagi keduanya baru saja mengungkit kejadian masa lalu.
Keadaan malam itu cukup dingin sementara Yuri membiarkan lehernya terbuka sehingga saat angin dingin itu berhembus, ia menggigil kedinginan.
Sehun yang melihat itu pun merasa kasihan pada Yuri. Ia pun mencoba melihat ke sekitarnya untuk mencari solusi.
Matanya berhenti ketika melihat sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Ia pun lekas menarik tangan Yuri untuk berjalan mengikutinya ke cafe tersebut.
"Acara kembang api sebentar lagi di mulai. Kau akan membawaku kemana?", tanya Yuri yang kebingungan karena tarikan Sehun yang tiba-tiba terlebih lagi pria itu tidak mengatakan kemana tujuannya.
Yuri akhirnya tetap mengikuti Sehun hingga keduanya masuk ke dalam cafe tersebut. Selagi Sehun memesan minuman hangat, Yuri terlihat duduk di tempatnya dengan ekspresi cemberut.
"Ada apa dengan wajahmu?", tegur Sehun saat ia kembali dengan secangkir teh hangat dan satu potong kue untuk Yuri.
"Padahal aku kesini ingin melihat kembang api, tapi malah berakhir di sini.", keluh Yuri namun ia bukan berbicara pada Sehun atau lebih tepatnya wanita itu berbicara dengan dirinya sendiri.
"Ck, masa bodoh dengan kembang api atau apalah itu. Kau kedinginan. Bagaimana jika kau pingsan? Apa yang harus kukatakan pada kedua orang tuamu?", balas Sehun kesal lalu memberikan teh hangat itu pada Yuri.
"Aku tidak mau teh. Aku ingin kopi.", protes Yuri.
"Yakk, ini sudah terlalu larut untuk minum kafein. Kau tidak akan bisa tidur nanti.", balas Sehun tidak mau kalah.
"Asal kau tahu saja. Tanpa kopi pun aku tidak bisa tidur dengan mudah.", Yuri berdiri dari kursinya dan berjalan ke tempat untuknya memesan.
"Dasar wanita keras kepala.", gerutu Sehun sebal.
Yuri mendengar perkataan Sehun namun ia memilih untuk mengabaikannya dan memesan kopi yang diinginkannya.
Saat ia memesan, ia merasa barista yang sedang melayaninya terus saja memperhatikannya, ia pun terpaksa terus memalingkan wajahnya sebelum barista itu mengenalinya. Bahkan Yuri langsung berjalan keluar cafe membuat Sehun langsung mengejarnya.
"Kenapa?", tanya Sehun.
"Sepertinya aku hampir saja ketahuan. Barista tadi, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dariku.", cerita Yuri sambil berjalan ke tempat yang lebih sepi lalu duduk dan menikmati kopinya dengan ditemani hembusan angin musim gugur.
"Ck, ada dua kemungkinan, dia memang mengenalimu atau..", Sehun menggantung ucapannya dan terlihat ragu melanjutkannya sedangkan Yuri menatapnya penasaran.
"Atau apa?", tanya Yuri mendesak Sehun melanjutkan perkataannya.
"..kau adalah wanita cantik.", akhirnya Sehun menyelesaikan kalimatnya dan dengan cepat memalingkan wajahnya karena terlalu malu pada Yuri.
Sedangkan Yuri terlihat menahan tawanya melihat reaksi Sehun saat ini.
"Ahh, jadi itu karena aku cantik? Lalu kau mengakuinya?", goda Yuri sambil berusaha membuat Sehun menatapnya.
"Terserah.", jawab Sehun dan ia pun berjalan pergi meninggalkan Yuri.
"Yakk, tunggu aku.", Yuri pun berlari menyusul Sehun.
~
Di tengah perjalanan, Yuri yang mengikuti Sehun, tidak sengaja melihat Yeri yang sepertinya sedang mencari mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Difficult, But Easy (Completed)
FanfictionKisah seorang putri kerajaan monarki Korea yang jatuh cinta pada seorang perwira perang kerajaan yang mengabdikan hidupnya untuk negara. "Sulit jika kau hanya memikirkannya, tapi akan jauh lebih mudah jika kau mencobanya.", - Oh Sehun. "Aku tidak se...
