Difficult, But Easy - 2. Hate That

406 53 14
                                        

Setelah kepulangan Sehun dan kepala sekretaris. Yuri langsung meminta waktu ayahnya untuk berbicara empat mata dengan dirinya.

Ayahnya pun setuju dan mengajak Yuri ke ruangannya.

"Katakan.", ucap Ayah Yuri saat keduanya sudah berada di ruangan tempat kerja yang cukup luas itu.

"Bisakah kau pikirkan lagi, soal pernikahan itu?", tanya Yuri terus terang, bahkan ia sama sekali tidak terdengar ragu untuk mengatakannya.

"Apa?"

"Rencana pernikahan itu, aku menolaknya.", ucap Yuri dengan menekankan setiap kata yang dikeluarkan dari bibirnya itu.

"Kenapa?", tanya ayahnya dengan ekspresi yang jauh lebih serius dan itu membuat nyali Yuri sedikit lebih ciut.

"Aku tidak mau menikah. Tidak, maksudku aku akan menikah tapi saat aku memang siap.", jawab Yuri tegas dan bisa dilihat jika sepasang ayah dan putrinya sama-sama memiliki tabiat keras kepala.

"Asal kau tahu saja Yuri. Aku ingin yang terbaik untukmu.", Yuri terdiam dan tangannya pun mengepal erat di kedua sisi tubuhnya tanpa disadari oleh sang ayah.

"Kau selalu dekat dengan pria yang tidak baik dan aku tidak tahan lagi dengan itu. Aku hanya ingin hidup dengan lebih tenang dan aku percaya pada pemuda itu, dia pasti bisa menjagamu.", kali ini Yuri memalingkan wajahnya dan berjalan menuju ke jendela besar yang mengarah pada taman nan asri yang selalu dirawat oleh ibunya.

"Suatu saat nanti kau akan memimpin bangsa ini dan aku ingin kau memiliki seseorang yang benar-benar bisa mendampingimu saat aku tidak ada.."

"Appa! Sudah kubilang untuk tidak mengatakan hal semacam itu! Perkataan bisa membawa sial, kau tahu itu!", omel Yuri yang tidak suka dengan apa yang baru saja didengarnya. Sedangkan yang diprotes justru menunjukkan senyumannya lalu mendekati putrinya itu dan memegang kedua lengannya.

"Kalau begitu berjanjilah untuk melakukan permintaan pria tua ini eoh?", Yuri menghela nafasnya sambil memalingkan wajahnya lalu kembali beralih menatap sang ayah.

"Baiklah. Akan kupertimbangkan. Aku pergi.", balas Yuri sambil melepaskan tangan sang ayah dengan sedikit kasar lalu berjalan keluar dengan langkah kakinya yang sengaja dihentak-hentakannya.

~

Sama seperti Yuri, Sehun juga melakukan protes pada ayahnya. Namun sifat ayahnya yang jauh lebih keras sangat tidak memungkingkan baginya untuk membantah.

Pada akhirnya Sehun pun menyerah dan masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang penat itu.

Namun beberapa menit ia berusaha memejamkan matanya, semua usahanya gagal sehingga Sehun kembali bangkit dari tempat tidurnya lalu menyambar jaket dan kunci mobilnya.

Tanpa sepengetahuan sang ayah, ia pun pergi dengan mengendarai mobilnya menuju ke tempat yang mungkin bisa menenangkannya saat ini.

Ia memarkirkan motornya di suatu parkiran bar mewah di tengah kota metropolitan itu lalu segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam bar itu.

Di dalam ia mencari keberadaan seseorang yang saat ini sangat ia yakini berada di tempat itu.

Akhirnya matanya menangkap sosok pria yang duduk di tengah meja bar panjang itu sambil merenungkan sesuatu.

Akhirnya matanya menangkap sosok pria yang duduk di tengah meja bar panjang itu sambil merenungkan sesuatu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Difficult, But Easy (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang