Di pagi yang cerah itu, sinar matahari mulai menelusup masuk melalui celah jendela kamar seorang wanita yang berbaring di atas tempat tidurnya dengan nyaman.
Yuri perlahan membuka matanya perlahan dan tidak seperti biasanya, pagi itu ia merasakan ada yang menggenggam tangannya.
Lengkungan senyum muncul di wajah polos wanita itu ketika melihat seorang pria yang tertidur nyenyak di sebelahnya.
Dengan sangat hati-hati Yuri melepaskan pegangan tangan Sehun dan turun dari tempat tidurnya.
Sebelum pergi ke kamar mandi, Yuri menyelimuti Sehun karena cuaca mulai mendingin di penghujung musim gugur. Lalu barulah Yuri pergi untuk mencuci wajahnya.
"Dia ada di sebelahku sepanjang malam?", gumam Yuri di depan cermin kamar mandinya sambil menatap wajahnya yang memerah karena malu.
"Seharusnya dia tidur di kamarnya saja.", gumam Yuri lalu memulai aktivitas paginya.
Saat ia sudah selesai dan keluar dari kamar mandinya, dilihatnya Sehun sudah tidak ada di tempatnya tadi.
"Eoh?! Dia sudah pergi?", Yuri pun langsung bersiap untuk pergi sarapan bersama dengan anggota keluarga yang lain.
Sementara Sehun di dalam kamarnya juga membersihkan dirinya sampai panggilan dari Yuri terdengar oleh indera pendengarannya.
"Cepatlah keluar. Sudah waktunya sarapan.", ucap Yuri.
"Tunggu sebentar!", balas Sehun yang sudah hampir selesai mencukur janggut tipis yang tumbuh di dagunya.
Setelah selesai, ia pun langsung keluar dan disambut oleh Yuri yang kini berdiri di depan pintunya.
"Lama sekali untuk seukuran pria bersiap.", goda Yuri.
"Ck, menyebalkan.", balas Sehun sedangkan Yuri terkekeh kecil karena berhasil membuat pria itu kesal.
"Yakk, bagaimana kau membawaku ke kamar?", tanya Yuri.
"Apanya yang bagaimana? Kau berjalan sendiri seperti zombie.", dusta Sehun sambil memalingkan wajahnya menghindari tatapan Yuri.
"Eyy, aku sama sekali tidak percaya dengan perkataanmu itu.", balas Yuri.
"Terserah kau ingin percaya atau tidak."
"Kalau begitu aku ganti pertanyaanku. Kenapa kau tidak pergi ke kamarmu? Kau bermaksud buruk padaku? Dasar mesum!", tanya Yuri dengan nada bicara seperti menuduh Sehun yang tentu saja pria itu tidak terima dengan tuduhan tersebut.
"Apa?! Mesum?! Aish, beginilah reaksi orang tidak tahu malu saat dibantu.", balas Sehun sedikit kasar namun Yuri tidak terlalu mempermasalahkan itu.
"Lalu kenapa? Aku harus tahu alasannya supaya tidak berpikiran buruk tentangmu."
Sehun terdiam sejenak seperti menimbang apakah harus memberitahukan Yuri atau tidak.
"Oh Sehun."
"Itu karena kau menangis dan memintaku untuk tidak pergi.", ucap Sehun membuat Yuri bungkam.
"Kebiasaan tidurmu sangat buruk. Sepanjang malam isak tangismu tidak berhenti sampai pagi hampir menjelang.", tambah Sehun sementara Yuri terlihat memalingkan wajahnya ke arah lain berusaha untuk menghindari tatapan pria itu.
"Ahh, apa aku mengatakan hal lain selain menangis?", tanya Yuri terlihat gugup dan Sehun bisa melihat dengan jelas kegugupan itu dari gerak gerik Yuri.
"Tidak ada.", jawab Sehun dan hembusan nafas lega keluar dari bibir Yuri tak lama setelahnya.
"Ayo, mereka pasti sudah menunggu lama.", Yuri langsung melingkarkan tangannya pada lengan Sehun dan keduanya pergi ke ruang makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Difficult, But Easy (Completed)
FanfictionKisah seorang putri kerajaan monarki Korea yang jatuh cinta pada seorang perwira perang kerajaan yang mengabdikan hidupnya untuk negara. "Sulit jika kau hanya memikirkannya, tapi akan jauh lebih mudah jika kau mencobanya.", - Oh Sehun. "Aku tidak se...
