28

737 64 86
                                        

Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tempat, karakter, ataupun peristiwa dengan cerita lain.

Semua yang ada di cerita ini hanya fiksi, jangan sangkut pautkan ke dunia nyata. Biasakan untuk menghargai setiap usaha seseorang.

Klik tombol bintang sebelah pojok kiri biar ATARAXIA sering up yaa!!

Happy Reading!!

"Jangan pernah takut untuk melawan hal yang sulit. Karna kesulitan itu yang akan membuatmu semakin berkesan dan istimewa."

####


Sudah 20 menit lamanya Jia mengetuk-ngetukkan jari telunjuk pada meja. Di depannya terdapat dua lelaki tampan yang kini tengah menatap Jia penasaran.

"Jadi lo minta gue kesini cuma buat liat lo ketuk-ketuk meja doang?" celetuk Gavier yang sedari tadi hanya diam.

Pukul 9 malam Gavier, Jia, dan Zai sedang berada di angkringan pinggir jalan yang terlihat ramai oleh pengunjung.

Tadinya setelah jam pulang kerja, Jia memang meminta Gavier untuk bertemu. Tapi Zai justru memaksa untuk ikut dengan Jia. Jika dulu Zai mengikuti Jia secara diam-diam, maka sekarang ia terang-terangan mengikuti Jia. Bahkan kadang jika Jia tengah bekerja, Zai akan menunggunya sampai pekerjaan Jia selesai.

Jia melirik Zai yang tampak mengangguk menyetujui ucapan Gavier. "Ngapain lo ngangguk-ngangguk?. Gue gak minta lo kesini ya!!"

Sedangkan Zai hanya cengengesan saja. "Lo kenapa sih selalu ngikutin gue terus?" lanjut Jia lagi.

"Gabut."

Singkat, padat, dan jelas. Satu kata yang selalu menjadi alasan setiap Jia bertanya kenapa Zai selalu mengikutinya.

Jia mendengus kesal, lalu kembali menatap Gavier. "Emm....gue mau nanya tentang Arin."

"Kenapa?" tanya Gavier dengan alis yang terangkat.

"Arin kalo di rumah itu gimana sih? Maksud gue, sikap dia tuh ada yg aneh gak??"

Gavier tampak berfikir. "Biasa aja," ia menjeda ucapannya. "Tapi akhir-akhir ini dia emang agak sedikit pendiem sih. Gue pikir itu cuma perasaan gue aja."

"Emang kenapa? Kok lo tiba-tiba nanya gitu??" tanya Gavier pada Jia.

"Yaa...gue ngerasa aneh aja. Kayak yang tadi lo bilang, akhir-akhir ini Arin emang sedikit lebih pendiem. Dan itu semenjak dia di culik," jelas Jia.

"Kalo Arin trauma gara-gara penculikan itu, mungkin gak?" timpal Zai menatap Jia dan Gavier bergantian.

"Gak deh kayaknya. Gue gak pernah liat raut ketakutan di wajah Arin," balas Gavier lalu menatap Jia. "Menurut lo gimana?"

"Agak aneh sih. Tapi gue punya firasat kalo dia itu bukan Arin."

Baik Gavier maupun Zai sama-sama bingung dengan perkataan Jia. "Maksud lo?" tanya Gavier.

"Maksud lo ada orang lain yang nyamar jadi Arin?" tebak Zai.

Jia menjentikkan jarinya pada Zai. "Nah, itu!!"

"Kok lo bisa mikir kayak gitu?" tanya Gavier penasaran.

Saat Jia hendak menjawab, tiba-tiba Zai memotongnya. "Bentar. Sebelum lo jawab, gue mau nanya sesuatu sama lo."

Jia dan Gavier menatap Zai bingung. Pasalnya, saat ini Zai menatap Jia serius. "Lo....bisa baca pikiran orang?"

Jia mematung sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis. Tanpa ia kasih tau ternyata Zai dapat menyadarinya. "Kalo iya kenapa? Aneh yah?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 23, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ATARAXIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang