The One Who Got Away (Noren)

85 4 18
                                        

Kebayang nggak sih gimana rasanya jadi Renjun yang pacaran sama Jeno, hampir 4 tahun, tapi menjelang anniv ke-4 mereka, tiba tiba dapet kabar nggak enak. Jeno nya dijodohin. Dan mau sekeras apapun ngeberontak, tetep aja pada akhirnya nggak bisa apa apa. Karena ini permintaan terakhir papa nya sebelum meninggal.

"Papa tau kamu sayang Renjun. Tapi mau sekeras apapun kamu mau hidup sama dia, kamu nggak akan bisa punya keturunan sama Renjun. Jadi... tolong mengerti niat papa," kata Papa nya Jeno waktu itu. Renjun yang diceritain Jeno kayak gitu cuma bisa menahan semuanya dengan tersenyum dan memeluk Jeno dengan erat - erat. Kemudian mengusap punggung pemuda husky itu dengan pelan. Ia hanya bisa membisikkan kata – kata penenang untuk kekasihnya, Jeno nya, kesayangannya, tanpa peduli hatinya ikut hancur juga.

****

Setelah hari yang berat itu, keduanya memutuskan untuk tetap merayakan anniv mereka dan melupakan masalah itu sementara. Mereka melakukan perayaan anniv mereka seperti biasanya, berjalan – jalan ke taman hiburan, menaiki rollercoaster, menaiki ferris wheel, berfoto bersama, memakan eskrim, melihat senja di pantai, dan juga menyewa resort di dekat pantai. Malam harinya, keduanya menonton serial Netflix dan juga sesekali tertawa bersama.

Hari semakin larut, keduanya sudah membaringkan badannya diatas kasur sambil berhadapan dan menyelami netra masing – masing.

"Lusa kamu udah jadi milik orang ya?" tanya Renjun sambil tersenyum tipis. Jeno hanya terdiam, Renjun pun kembali melanjutkan, " kamu harus bahagia ya sama dia, jangan sakitin dia. Pilihan Papa pasti nggak pernah salah. Aku yakin, dia pasti bakalan jadi wanita yang paling beruntung bisa milikin kamu, dan kamu juga ­­̶ ," belum sempat menyelesaikan ucapannya, Jeno langsung menautkan bibirnya ke bibir milik Renjun dan menciumnya tanpa jeda. Jeno pun mendekatkan tubuh Renjun kepadanya dan memeluk Renjun dengan erat, kemudian mengubah posisinya menjadi mengukung tubuh Renjun dan menggenggam tangan pemuda itu dengan erat. Jeno pun melepaskan tautan bibir keduanya dan menatap Renjun dengan sendu.

"Tolong... tolong jangan berbicara apapun lagi. Aku nggak mau ngerusak hari anniversary kita dengan hal – hal begini. Anggap aku egois, tapi aku nggak mau kehilangan kamu. Jadi..., please, aku mau kita nikmatin semuanya sampai akhir, ya?" kata Jeno sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Renjun. Dan Renjun pun melepaskan genggaman tangan Jeno pelan dan beralih mengelus tengkuk belakang pemuda itu pelan. Setelahnya, Jeno kembali menatap Renjun dengan senyum sedih, "I'm yours, I'll always be yours 'till my last breath. M'kay?" dan Renjun hanya bisa kembali mencium bibir pemuda itu. Ciuman yang penuh dengan sarat keputusasaan keduanya. Bahkan keduanya sama – sama menitikkan air matanya, merasakan kesakitan yang tidak terdefinisikan, membayangkan hari – hari kedepannya yang tidak akan bisa mereka lalui bersama – sama lagi. Dan keduanya pun berpelukan erat hingga tertidur.

Keesokan paginya, tidak ada yang memulai percakapan sama sekali. Keduanya terfokuskan pada dirinya masing – masing, hingga mobil milik Jeno sudah sampai di depan bangunan apartement tempat Renjun tinggal pun, keduanya tidak ada yang bersuara. Dan Renjun pun belum juga berniat untuk turun dari mobil. Seakan menimbang – nimbang sesuatu, akhirnya Renjun pun membuka suara.

"Jen," panggil Renjun. Jeno pun menolehkan kepalanya ke arah Renjun.

"Hm? Kenapa, Njun?" tanya Jeno lembut. Renjun pun menggigit bibirnya pelan. Ia pun meraih tangan Jeno kedalam genggamannya, lalu menarik napas dalam – dalam dan menghembuskannya pelan, dan setelahnya baru menatap mata Jeno dengan senyuman yang sedikit ia paksakan.

"Terimakasih untuk semuanya, I'm really grateful to meet you and make you as mine," kata Renjun pelan. Jeno pun membalas senyuman Renjun dan menggenggam tangan Renjun erat, "aku juga.. aku juga berterimakasih untuk 4 tahunnya, dan maaf atas semua kekuranganku selama ini. Aku juga beruntung bisa memiliki kamu, terimakasih banyak, Njun," balasnya. Setelahnya, Jeno pun menarik Renjun pelan kedalam pelukannya dengan erat.

"Ini pelukan terakhir. Bahagia selalu ya, Njun. Aku mencintaimu selalu dan sampai kapan pun," bisik Jeno pelan dan kemudian melepaskan pelukannya pada Renjun, lalu menatap Renjun dengan senyuman manisnya. "Masuk gih, terus istirahat. Kamu pasti capek," kata Jeno. Renjun hanya mengangguk pelan dan mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes, ada rasa sedikit kegelisahan yang menghantuinya, namun ia segera menyingkirkannya sebelum akhirnya ia turun dari mobil Jeno dan menatap pemuda itu dari luar.

"Hati-hati dijalan ya, Jen. Terimakasih untuk kemarin," kata Renjun. Jeno pun mengangguk.

"Kamu kalo nikah, jangan lupa undang aku ya, aku pasti dateng," kata Renjun sedikit bercanda. Jeno pun terkekeh pelan, "pasti. Njun. Pasti. Aku pulang dulu ya, sampai ketemu nanti," kata Jeno sebelum mengklakson ke Renjun dan membawa mobilnya pergi dari hadapan Renjun yang menatap mobilnya dengan tatapan kosong.

Sebuah getaran dari ponselnya menyadarkan Renjun dari lamunannya, dan membuat Renjun segera mengambil ponselnya dan membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh Jeno.

Husky: Renjun! Kamu harus bahagia terus ya~ dengan atau tanpa aku. Jangan sedih – sedih, oke? Aku pamit dulu. Hehe. Sampai jumpa!

Renjun hanya menatap ponsel itu dengan perasaan campur aduk, sebelum akhirnya ia mendapatkan kabar kalau Jeno nya kecelakaan hingga tewas setelah menabrak pembatas jalan dan mobilnya masuk ke jurang. Meninggalkan Renjun yang menangis dengan keras, mengingat pesan terakhir dan pelukan terakhir yang diberikan Jeno nya sebelum pergi.

 Meninggalkan Renjun yang menangis dengan keras, mengingat pesan terakhir dan pelukan terakhir yang diberikan Jeno nya sebelum pergi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Haloo.. ini pertama kalinya aku cerita di books ini ya? Hahaha, oke aku cuma mau bercerita sedikit, ini oneshoot ku yang berdasarkan lagu nya Katy Perry - The One Who Got Away. Aku terinspirasi dari music video nya juga, dan aku ngebayangin, gimana kalau ini jadi sebuah oneshoot? Dan akhirnya plottingnya pun terpikirkan, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan pairing noren as main cast. Aku pilih mereka, karena, dari sekian banyaknya pairing yang ada di books oneshoot ini, entah kenapa aku lebih nge-feel kalau mereka yang jadi main cast.

Dan ini sepertinya jadi oneshoot angst yang menurutku paling ikutan kerasa sedihnya (apalagi sambil dengerin lagunya yang versi cover Boyce Avenue. Suara dia bener bener lembut dan penuh penjiwaan, bikin feel ceritanya makin menjadi jadi menurutku, hahaha).

Terus apalagi ya? Hmm.. Ah iya. Aku mau berterimakasih sama kalian yang udah masukin book ini kedalam library ataupun favorite kalian. Padahal aku udah lama banget nggak nulis karena kesibukanku ataupun kegabutanku yang kadang mencari inspirasi baru, hahaha. Dan aku pun bahkan ragu kalau cerita-ceritaku ini layak dibaca. Intinya, terimakasih banyak sudah membaca semua cerita - ceritaku yang nggak jelas ini. hehehe. Sampai ketemu di ceritaku yang lainnya!

Tale of UsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang