37. I Love You Letta

4.3K 646 11
                                    

Masih dihari yang sama, dengan waktu yang berbeda sekarang gue sedang berjalan ditrotoar. Ya ini memang sudah jam pulang sekolah.

Tapi kenapa gue masih dijalan? Oh kalau soal itu gue yang kabur dari bang kembar, Revan, dan sahabat gue.

Selatan? Kalian tanyakan kenapa gue nggak kabur dari selatan mungkin kalian lupa selatan dia sahabat gue.

Ya memang sulit untuk menerima selatan jadi sahabat gue, karna bagaimanapun gue bukan Starla yang nyaman bersahabat dengan lelaki tampan.

Gue maunya sih Selatan jadi Ayah dari anak-anak gue nantinya, halu banget astaga. Jika kalian tanya gue suka siapa diantara Selatan, Revan, dan Ravan gue bakalan jawab.

Gue suka Selatan. Kenapa? Selatan yang selalu ada buat Starla, entah saat gue jadi Starla maupun dimasa lalu sebelum gue jadi Starla.

Lelaki kaya Selatan jarang sekarang, Selatan tipe orang yang banyak tindakan dari pada janji, selama kurang dari Satu tahun gue tau sifat Selatan yang itu.

Revan? Dia tipe lelaki bunglon, kadang berubah-ubah gue juga kadang nggak tau apa yang dia fikirkan, tipe lelaki seperti Revan itu...

Berbahaya.

Ravan? Gue baru kenal dia beberapa minggu satu fakta yang gue tau dia Antagonis dan harus diwaspadai.

Gue melihat kearah langit, satu pertanyaan yang selalu gue ingin tanyakan.

Gimana keadaan gue sebagai Arletta?

Huft. Gue mulai melanjukan langkah kaki gue yang sempat tertunda. Menaiki tangga yang terbuat dari batu.

Kalian tanya gue ada dimana? Gue ada dibukit tempat masa kecil Starla yang gue tahu dari buku diary Starla.

Bukan dari Starla? Tentu bukan Starla sudah tidak pernah berkomunikasi dengan gue lagi, entah karna apa.

"Cantik" gumam gue, setelah sampai diatas bukit.

Entah kenapa gue selalu merasa kalau kematian Starla semakin dekat.

"Gue nggak tau bakalan bilang apa sama keluarga Starla"

"Hah, dunia penuh tipu daya"

Gue duduk diatas rumput, untungnya bukit ini sepi, hanya ada beberapa pondok tempat petani perkebunan beristirahat.

"Gue mau pulang" gumam gue

"Ayok pulang"

"Eh Astaghfirullah"

Gue kaget, jelas kaget gue nggak tahu kalau disebelah gue ada orang, gue lihat kearah kakinya, gue menghela nafas lega masih menapak ditanah.

"Kagetin aja sih" ucap gue, kembali menghadap kedepan yang mengarah ke aliran sungai kecil.

"Lagian ngapain lo disini Let, ini udah sore"

Deg

Gue lihat kesamping, apa gue tadi salah dengar?

"Let?" gumam gue yang masih terdengar oleh orang yang ada disamping gue

"Let, iya Letta Scarletta, ada yang salah?"

Oh gue lupa kalau nama depan Starla mirip sama nama panggilan gue.

"Nggak, nggak salah" ucap gue

"Lo belum jawab pertanyaan gue"

"Oh, gue mau kesini aja udah lama nggak kesini" jawab gue

"Perasaan lo ke gue gimana let?"

"Emm?"

"...."

"Gue nggak tahu" gumam gue

Gue dengar orang yang ada di samping gue menghela nafas dan menepuk kepala gue lembut.

"Maaf, gue gak mau lo sedih kalau Starla pergi" ucap gue diakhiri gumaman kecil.

"Nggak papa, gue tunggu kok"

"Selatan kalau misal gue bukan Starla gimana perasaan lo?" tanya gue

"Kenapa tiba-tiba tanya kaya gitu?"

"Nggak papa, jawab aja"

"Kalau lo bukan Starla, gue nggak peduli, gue nyaman sama lo mau lo Starla atau bukan" jawab Selatan dengan senyum hangatnya

"Gue nggak tahu rahasia apa yang lo sembunyikan, kalau lo mau berbagi gue siap dengerin kalau lo mau tetap rahasiain gue juga bakal terima" lanjut Selatan

Gue menunduk, buat menghalau air mata gue jatuh tapi gagal, setidaknya Selatan nggak tahu kalau gue nangis.

Andai aja lo ada dunia gue Selatan udah gue pacarin, ya walaupun lo didunia gue nggak mungkin juga masa gue nikah sama berondong.

"Lo cengeng ya hahaha baru tau gue" ucap Selatan

"Hiks bodo amat"

"Kalau gue hiks pergi hiks lo jangan nangis ya hiks" lanjut gue

"Lo ngomong apa sih, kalau lo pergi gue bakalan nyusulin lo, mau lo ke london gue susulin atau kekorea nemuin suami halu lo gue susulin ke ujung dunia juga gue susulin, gue nggak janji tapi gue bakalan lakuin kalau itu terjadi" jawab Selatan

"Hiks bodoh" ucap gue terkekeh

Bukan ke luar negeri tapi ke dunia gue sendiri, dunia nyata bukan dunia novel.

"Butuh pundak nggak? Nih gue pinjemin" ucap Selatan dan dia arahkan kepala gue buat senderan di pundaknya.

"I love you Letta"

"HUAAAAA JANGAN GITU DONG HIKS SELATAN MAHH HIKS"
























































See next chapter

FiguranTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang