16_Keraguan

1.7K 372 589
                                        

Lumayan panjang, 450 komen bisa? Play mulmed Keraguan by Dian Pramana  Putra

..


"Masih sedih?"

Sesi curhat dengan Azam sebetulnya hal yang paling dibutuhkan oleh Adelia meski terkadang kelugasan komedian itu memanaskan telinga. Segala keresahan menumpuk menjadi satu, lama-lama kalau dipendam tidak kuat juga. Adelia sebetulnya bukan salah satu mahluk lebai ciptaan Tuhan, hanya saja kini hidupnya sedang dalam penyesuaian. Menyesuaikan dengan Yangti, menyesuaikan dengan anggota keluarga baru, menyesuaikan dengan pekerjaan baru, menyesuaikan hati dengan orang-orang yang mendadak ingin memiliki hatinya. Maunya lari saja namun tak bisa.

Adelia tidak boleh menyerah dengan keadaan, lagipula di luar sana masih banyak orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung dirinya saat ini. Tapi di luar logika yang selalu ia tanamkan, perempuan itu masih merasakan sesak di dalam dada. Namanya juga hati, kadang tidak sejalan dengan logika. Teorinya gampang, lupakan saja laki-laki kurang ajar seperti Gilang, namun prakteknya susah kalau harus berhadapan langsung. Bayangan Gilang mengumbar kemesraan dengan Laras masih melekat lekat meski tidak ingin ia lihat.

Nasib.

"Dul? Lo masih hidup kan?"

"Masih."

"Lo gak ada niat bundir kan?"

"Sempat sih."

"Istighfar! Inget Tuhan, Dul! Gila aja lo mau bundir, arwah lo kagak bakal diterima Allah Subhanahu Wata'ala!"

Adelia mendesah pelan, "gak guna juga bundir."

"Lo becanda kan tadi? Amit-amit jabang bayik!"

"Otak gue gak sedangkal itu."

"Alhamdulillah, Dudul gue masih waras."

Diamati foto dirinya dan Ibu dalam balutan busana resepsi, Adelia sedang menimbang untuk meninggalkan saja Banyuwangi jika Laras dan Gilang jadi menginap di rumah Yangti. "Bang, jemputin dong."

"Jemputin ke mana?"

"Gue kerja sama lo aja boleh? Jadi asisten kek, tukang semir sepatu, ART juga bisa."

"Ya Salam.., lo kenapa sih ah? Lo pikir gue setega itu jadiin lo babu?"

"Kan yang penting halal."

"Trus? Kalau gue suruh bersihin sumur, lo mau?"

"Panggil tukang gali sumur dong, masa gue?"

"Ya suka-suka gue dong kalau jadi majikan lo."

"Ya udah gak apa-apa kalau tugasnya harus gitu."

"Lo serius? Otak lo gak lo gadein kan?"

"Gue masih waras, we a er a es," eja Adelia yang terlihat semakin putus asa.

"Tapi kan jahitan lo masih banyak, keles!"

Terdengar desahan sekali lagi, "coba lo di posisi gue, Bang."

Kedua mata Azam berotasi ke atas, dikira yang hidupnya pernah susah Adelia aja di dunia ini? "Lo mending kawin aja deh biar gak galau sama adik ipar lo."

"Gak ada yang mau."

"Ya udah sama gue aja kalo gitu, besok pagi gue ke tempat lo bawa seperangkat alat sholat."

"Ogah, gue maunya jadi pekerja, bukan istri."

"Yee, dikasih enak malah nolak. Gimana sih?"

Adelia memainkan benang guling, perlukah dia menceritakan kondisinya saat ini? Apa Azam punya solusinya? "Gue bingung."

PulangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang