20:30 WIB
Alea membaringkan Aluna di tempat tidurnya. Ia menyelimuti gadis itu dan mengusap kepalanya sebelum mengecupnya lalu berjalan keluar dari kamar milik Raga.
"Harusnya tadi aku anter kamu pulang aja.." ucap pria itu membereskan hasil belanja bulanannya.
"Nggak apa-apa...aku belum mau pulang kok, soalnya mama-papaku lagi ke Bandung, baru berangkat sore tadi," ucap Alea menghampiri sofa dan mengistirahatkan dirinya di sana.
"Oh? Main aja ke rumah orangtuanya Nada!"
"Iya, tadi aku udah kasih kontak mamanya Nada kok...nanti juga paling mereka ngabarin kita," balas Alea tersenyum.
"Oh...oke...terus nanti kamu pulang gimana? Apa mau nginep aja?"
"Bolehkah?"
"Tch...apaan sih kamu, kayak yang baru sekali aja nginep di sini," balas Raga mengambil dua kaleng minuman dan menghampiri Alea sambil menyerahkan salah satu minuman itu pada gadis itu.
"Ya kali aja kan..."
"Ini tuh apartemen, nggak ada yang peduli juga..." Balas Raga duduk di samping gadis itu dan menenggak minumannya, "Besok weekend ini..jadi santai..."
"Okay.." balas gadis itu membuka kaleng minuman dan menikmatinya.
Keduanya terdiam selama beberapa saat, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Jujur aku lagi sering ngerasa kesepian banget belakangan ini.."
Alea menoleh menatap Raga, yang tengah melamun.
"Kadang kalau habis ngurusin Aluna, I just sit here and look at Nada's frame, ngobrol sendiri kayak orang gila...tch..." gumam pria itu tertawa getir.
Alea menatap lekat Raga, yang kini melamun menatap kaleng minuman dalam genggamannya. Sesak dirasakannya ketika mendengar ucapan pria itu.
How tough it must be for him to survive alone, tapi di sisi lain, Ia juga tak bisa menunjukkan kesedihannya di depan Aluna.
"You know, you can just contact me, Raga," ucap Alea.
"Ya tapi kan--"
"I'm fine!" Sambar Alea cepat, "When it comes to you and Aluna, aku pasti bakal nolongin kalau memang kamu butuh biarpun cuma jadi pendengar aja buat kamu."
Raga menoleh menatap Alea.
"Nada was always there, ketika aku butuh teman bicara bahkan disaat kondisi dia yang lagi dalam keadaan nggak baik...what does it make me, kalau aku nggak bisa melakukan hal yang sama ke kamu dan Aluna?"
Gadis itu menoleh balas menatap Raga.
Raga menghela nafas pelan. Ia meletakkan minumannya di meja dan menggeser posisi duduknya hingga berdekatan dengan Alea.
"Terus kenapa kamu bilang ke aku kalau aku bakal ketemu sama seseorang yang beneran care sama aku dan Aluna?"
"I-itu karena--" gumam Alea gugup karena wajah Raga, yang begitu dekat dengannya. Gadis itu terdiam selama beberapa saat, seraya berpikir sebelum Ia memberanikan diri menatap Raga.
"Itu karena...."
"Karena kamu takut aku nggak notis kamu?" Sambar Raga, sontak membuat Alea menatapnya lekat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Sorry...I can't help it," gumam Alea tertunduk muram, namun tak lama kemudian, Ia merasakan sentuhan lembut di pipi kanannya.
Telapak tangan Raga menyentuh pipi gadis itu dan membuat Alea menatapnya, "Aku nggak punya waktu banyak buat nyari-nyari lagi, Le. Kenapa aku harus repot-repot nyari padahal wanita yang tulus sayang sama Aluna ada di dekat aku selama ini."
"Tapi kamu--"
"At this time, love isn't important anymore," sambar Raga cepat, "Tapi nyaman dan kecocokan satu sama lain...We comfort each other, ketika kita sama-sama lagi terpuruk dan aku nggak tahu harus lari ke siapa lagi selain ke kamu, and I guess you feel the same?"
Alea menatap Raga lekat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Kalau gitu udah nggak ada yang perlu dibahas lagi. Kamu paham maksud aku kan?"
Alea kembali menggangguk pelan dan tersenyum ketika mendengar ucapan Raga. Jantungnya berdebar cepat ketika Ia menyadari jika wajah pria itu bergerak semakin dekat hingga akhirnya bibir mereka bertemu.
Alea memejamkan kedua matanya ketika Ia merasakan kecupan lembut Raga di bibirnya. Tak pernah terpikirkan olehnya jika mereka akan tiba di titik ini.
Keduanya begitu larut dalam sesi intim itu. Tangan Alea bergerak menyusuri dada pria itu hingga akhirnya melingkar sempurna di leher Raga, sementara lengan pria itu melingkari pinggangnya dan kemudian sedikit mengangkatnya hingga kini Alea duduk di pangkuannya tanpa berniat mengakhiri semuanya sedikitpun, hingga....
Clik!
"Papaa~"
"Huh?!" Alea lekas mengakhirinya lebih dulu. Ia dan Raga sontak membeku di posisi masing-masing ketika mendengar suara pintu kamar yang terbuka disusul dengan suara mengantuk Aluna.
Alea lekas turun dari pangkuan Raga dan duduk di samping pria itu, menutupi mulutnya dengan telapak tangannya karena malu.
"Y-Ya sayang?"
Aluna muncul sambil mengusap-usap matanya. Gadis itu masih terlihat mengantuk, "Mau pipis..."
"Aah..o-oke!"
"B-biar aku aja!" Sambar Alea cepat, menahan Raga, yang sebelumnya hendak bangkit.
"Ah tapi--"
"Nggak apa-apa," balas Alea hendak menghampiri Aluna.
"Alea."
"Ya?" Alea kembali menoleh menatap Raga.
"Aku...nggak perlu tidur di sofa kan malem ini?"
Gadis itu tersipu malu mendengar jawaban Raga sebelum akhirnya mengangguk pelan dan lekas membawa Aluna ke kamar mandi.
Raga menghela nafas pelan dan melonggarkan dasinya. Ia menatap foto frame Nada yang terpajang di hadapannya, di belakang TV.
"Aku...ini...pilihan yang tepat kan? Sayang?" Gumam Raga dalam hati sambil tersenyum tipis menatap foto Nada, yang tersenyum di hadapannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
[COMPLETED] SENARU
RomanceCoretan cerita cinta singkat tiga babak dalam sebuah buku tahunan usang tak bertuan Senada Aluna Livia menerima paket berupa barang-barangnya semasa SMA, dari sang Ibu, tak lama setelah Ia pindah tempat tinggal: Sebuah kardus berisi peralatannya se...