20:30 wib
"Woaah enak!" Seru Senada memakan potongan pizza nya dengan lahap, membuat Senaru sontak mengalihkan tatapannya pada gadis itu.
Jaket miliknya bertengger di pundak Senada, yang masih asyik menikmati makanannya.
"Kayak baru makan pizza pertama kali aja," Ledek nya sambil menikmati pizza nya sendiri.
"Aku nggak sempet makan banyak hari ini karena kerjaanku banyak banget! Baru tadi on the way, pulang kepikiran mau makan apa. Tadinya mau go-food aja, eh kebetulan kamu dateng bawa pizza. Mungkin emang kita sehati."
Senaru berhenti mengunyah dan menatap sebal Senada, yang kini tertawa setelah berhasil meledeknya.
"Stop it," Sungut pria itu sebal, berniat menenggak minumannya, namun lekas menyerahkan itu pada Senada, ketika gadis itu terbatuk-batuk karena tersedak.
"Hahahahaha--uhukk! Uhuk!" Ia menerima pemberian pria itu dan lekas menenggaknya, sebelum menyerahkannya kembali pada Senaru.
"Kualat," Gumam pria itu santai sambil kembali menikmati pizzanya.
Senada kembali tertawa mendengar ucapan pria itu, "It's fun to tease you."
"Kenapa?"
"Ya nggak apa-apa. Biar kamu nggak keliatan serius banget," Balas Senada santai, "Aku pengen kamu berani ngomong atau ngungkapin apa yang kamu rasain. Don't live like that."
"Maksud kamu?"
"Kamu selama ini selalu diem. Aku memang belum lama kenal kamu, tapi kayak gini aja, you can just contact me if you need friend to talk to," Ujar Senada panjang lebar.
"Jangan apa-apa kamu simpen sendiri."
"Tch…" Senaru tersenyum tipis. "I don't have any problems to share with, to be honest. The problem is you."
"Eum! I am that problematic," Balas Senada santai.
"Ah..bukan itu maksud aku," Ralat Senaru berpikir jika ucapannya mungkin menyakiti gadis itu.
"No! Beneran kok! Aku sering kena marah Ibu waktu kecil haha. I am that problematic when I decided to contact you, padahal seharusnya jangan." Ujar Senada menepuk-nepuk tangannya setelah menghabiskan potongan pizza terakhir mereka, lalu duduk memeluk kakinya sendiri sambil mengunyah makanannya.
"Terus kenapa kamu tetep kontak aku akhirnya?"
"I don't know. I was just following my intuition. Tapi aku juga udah kontak Raga dan nomer mendiang Syaira, tapi dua-duanya nggak aktif. Ternyata malah kamu yang aktif, the one that I am most interested in, di antara kalian bertiga." Ujar Senada tertawa pelan.
"Me?" Tanya Senaru menunjuk dirinya sendiri, "Interested, as in?"
"Aku…" gumam Senada seraya berpikir, "Gimana ya? Ketika baca notes kamu di buku tahunan itu, I feel like I can feel the pain."
"Tch...itu cuma cerita cinta monyet anak SMA," Ucap Senaru membuka kaleng ice coffeenya dan menenggaknya pelan.
"Itu bukan cerita cinta monyet karena rasa itu masih ada di sana, biarpun waktu udah berlalu bahkan sampe Mbak Syaira nggak ada."
Senaru terdiam sejenak, seolah merasa 'ditelanjangi' gadis yang menurutnya aneh ini, karena Ia bisa 'membaca' dirinya dengan jelas.
"Kok kamu bisa mikir kayak gitu?"
"You said it yourself. Di obrolan awal-awal kita dulu, kamu bilang Mbak Syaira adalah topik yang sensitif buat kamu. Itu artinya dia masih punya tempat di hati kamu."

KAMU SEDANG MEMBACA
[COMPLETED] SENARU
RomantikCoretan cerita cinta singkat tiga babak dalam sebuah buku tahunan usang tak bertuan Senada Aluna Livia menerima paket berupa barang-barangnya semasa SMA, dari sang Ibu, tak lama setelah Ia pindah tempat tinggal: Sebuah kardus berisi peralatannya se...