“Tidak ada alasan apa pun yang bisa dan boleh di terima korban kebencian.”
.
.
.
Aku membuka mata perlahan, terbangun oleh paparan sinar matahari yang menembus melalui celah tirai, menghangatkan punggungku.
Tanganku mencoba mencari ponsel tapi tidak bisa menemukannya di manapun.
“Ouh! Aduh!”
Aku beranjak bangun, tapi punggungku seperti mengalami retakan dan pinggangku sangat sakit. Tubuh bagian bawahku rasanya hancur dan mati rasa.
Ini jelas lebih buruk dari pertama malam itu.
Aku tidak tahu berapa lama kita melakukannya, karena kebohongan Arka yang meminta sekali lagi terwujud begitu saja.
“Sudah bangun? Kenapa nggak panggil aku?”
Saat aku membuka mata, pelaku itu sudah tidak ada di sampingku. Tapi kemudian dia muncul tepat waktu ketika aku memaksakan diri untuk turun.
Dia menghampiriku dan meletakkan segelas air di nakas sebelahnya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Arka.
Aku menggeleng.
“Badanku sakit,” jawabku dengan suara serak.
Dia mengambil gelas tadi dan menyerahkannya padaku.
“Ini, minum dulu.”
Aku mengambilnya dan menghabiskan setengah isi gelas air putih. Tenggorokanku terasa lebih baik sekarang.
“Mau ke kamar mandi?” tanya Arka.
Aku menjawab dengan anggukkan. Lalu dia meletakkan gelas di meja dan mengangkat tubuhku yang hanya tertutupi oleh kemeja yang dia pakai kemarin.
Dia menggendongku ke kamar mandi dan meletakkanku di bathup yang telah di isi dengan air hangat.
“Kamu mau sendiri atau aku bantuin?”
“Aku sendiri aja.”
“Kalau terlalu sulit, panggil aku.”
“Eum.” Aku mengangguk.
Dan ternyata sangat sulit!
Sedikit gerakan saja menimbulkan rasa sakit yang langsung menyebar di seluruh tubuhku. Jejak gigitan yang gelap di seluruh tubuhku menjelaskan seberapa kasar Arka melakukannya semalaman.
Aku yakin dia melakukannya dengan dendam, karena aku berkali-kali mencegahnya melakukannya.
“Rain, mau di bantuin nggak?” Arka sudah bertanya untuk kali ketiga sejak aku mengunci pintu kamar mandi.
“Nggak usah, aku udah hampir selesai.”
Arka tidak memberiku baju bersih, jadi aku keluar dengan menggunakan handuk saja. Dan ketika aku membuka pintu, Arka sudah berdiri di depan kamar mandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] REFRACTION
Acak[COMPLETE] Dalam kasta kehidupan mahasiswa ekonomi itu menempatkan dirinya pada kasta yang rendah. Baginya mereka yang berada di kasta atas adalah orang-orang yang lahir dengan keberuntungan dan keistimewaan seperti bintang di kampusnya. Dia sedikit...
![[BL] REFRACTION](https://img.wattpad.com/cover/256402395-64-k755455.jpg)