Hari ini berlangsung tak seperti sebelumnya. Sepanjang hari, Flora tak bisa fokus dengan kerjaannya. Ada-ada saja kesalahan ketika dirinya mencoba mendesain. Entah mengapa kepalanya mendadak buntu dan alhasil ia tak mampu menuangkan kreaktifitasnya dalam bentuk gambar. Jika biasanya Flora mampu menghasilkan beberapa desain terbaru dalam sehari, tapi tidak dengan hari ini yang semua kertas gambarnya malah berakhir di tempat sampah.
Sangat mengejutkan, Flora tidak bisa fokus bekerja hanya karena memikirkan seseorang yang tadi pagi datang ke rumahnya. Zaidan Willy Nugraha. Entah bagaimana ceritanya pemuda itu tiba-tiba muncul dan memenuhi kepalanya dengan kilasan adegan ciuman yang pagi tadi berlangsung.
Flora merasa sangat terganggu akan hal itu. Ia tak bisa jika terus-terusan dibayangi oleh ciuman mereka yang ... sebenarnya cukup manis dan mendebarkan.
Sesampainya di rumah setelah pulang dari butik, wanita itu malah dikagetkan dengan kondisi rumah yang agak tidak seperti pada biasanya. Di dapur, Flora bisa melihat kedua asisten rumah tangga mereka sedang sibuk memasak berbagai menu hidangan.
Mau ada acarakah? Tapi apa? batin Flora bertanya-tanya. Sebab, makanan sebanyak itu tak akan habis jika hanya dimakan oleh mereka penghuni rumah yang kurang dari sepuluh orang.
"Bibik keliatan pada sibuk banget. Masak buat apa?" tanya Flora langsung. Ia tak bisa dibuat penasaran seperti ini.
"Oh itu, kata Nyonya mau ada acara makan malam, Non."
Makan malam? Siapa lagi yang kali ini orang tuanya undang? Jangan sampai seseorang yang ingin dijodohkan dengannya, lagi. Tidak, Flora sudah teramat lelah dijodohkan terus. Usianya memang sudah menginjak angka dua puluh tujuh tahun lebih beberapa bulan. Namun, ia rasa belum begitu tua hingga tak seharusnya membuat orang tuanya takut dirinya akan menjadi perawan tua.
"Makan malam sama siapa, Bik?"
Lagi, Flora bertanya. Mungkin saja asisten rumah tangga mereka memiliki informasi mengenai siapa yang akan orang tuanya undang untuk makan malam bersama. Sebab, jika benar ia akan dijodohkan lagi, lebih baik Flora kabur saat ini juga dari acara makan malam itu.
"Kalo soal itu, saya nggak tau, Non."
Baiklah. Flora menganggukkan kepalanya. Ia mengucap terima kasih lantas menuju kamar setelah selesai minum. Tetapi belum sampai di kamar, mamanya sudah menghampirinya. Wanita yang sudah melahirkannya itu terlihat ceria entah karena apa. Bahkan, Dini segera mengajak Flora memasuki kamar.
Sesampainya di dalam kamar, Flora dibuat terhenyak kaget lantaran mamanya tiba-tiba membuka pintu lemari pakaian yang hampir semua adalah koleksi terbaiknya. Mamanya tampak kebingungan memilih pakaian yang entah untuk apa.
"Mama lagi ngapain sih, Ma?"
Flora tak tahan untuk tidak bertanya. Namun, jawaban sang mama berhasil membuatnya terkaget-kaget.
"Nyariin baju yang cocok buat kamulah, Flo. Kamu harus tampil cantik di acara lamaran nanti malam."
Hah?
Lamaran?
Lamaran siapa? Siapa yang akan melamar siapa?
"Lamaran? Emang Candy udah mau diajak nikah sama pacarnya, Ma?"
Candy merupakan adik satu-satunya yang Flora miliki. Mereka hanya dua bersaudara dan sama-sama berjenis kelamin perempuan. Usia mereka pun hanya terpaut tiga tahun. Tapi bedanya, Candy tak harus mengalami yang namanya dijodoh-jodohkan lantaran sudah lebih dulu memiliki pacar.
Flora tak masalah jika dirinya dilangkahi. Ia tentu akan ikut berbagia jika memang sang adik berniat menikah lebih dulu. Sungguh, ia tak peduli pada pembicaraan orang-orang. Toh, ia memang tidak ada niatan menikah karena calonnya belum ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable Wife
RomanceIni cerita tentang Zaidan Willy Nugraha. Putra pertama pasangan Shanum-Andra (alm) dan Akbar (Unpredictable Wedding) *** Dulunya, Zaidan dan Flora merupakan teman sekelas yang tak pernah akur. Mereka sering bertengkar lantaran kesalahpahaman yang te...
