33. Happiness(quick update)

1.4K 222 42
                                        








End (1/2)




Kerasa banget perjuangannya sampai aku selesai nulis ini. Dari chapter satu sampai 34 aku selalu baper, gak pernah engga.

Mungkin bagi sebagian orang brave things cuma bacaan yang jarang update, tp bagi aku bravethings selalu muter di otak bahkan saat aku lagi nulis cerita lain.

Hahay, cerita ini punya tempat sendiri di hati authornya.

Semoga part kali ini sesuai dengan judul aku berikan ya, dan semoga yang membaca pun ikut merasakan judul dari bagian cerita ini.

Selamat membaca, semoga akhir pekannya menyenangkan!












Selamat membaca, semoga akhir pekannya menyenangkan!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.













"...Jadi, aku tidak pernah bermaksut untuk membatasi pergerakanmu. Kau tahu, aku hanya ketakutan."

Luna menghela nafas.

Entah sudah berapa kali suaminya menjelaskan hal ini padanya, pria itu tampak tidak puas untuk terus meyakinkan Luna bahwa ia benar-benar menyesal.

Ini seharusnya adalah malam terakhir mereka bersama, sebelum besok Luna diputuskan akan terbang lebih dahulu bersama orang-orangnya ke Korea untuk menetap dirumah orang tua Jimin.

Mertuanya juha sudah tidak sabar menunggu kehadiran cucu baru.

Mereka sepakat akan bertempat tinggal disana, sampai rumah yang Jimin bangun di Beijing telah sepenuhnya siap untuk ditempati.

Juga bermaksut menunggu Luna dan Jimin beradaptasi sebagai orang tua.

Jimin sendiri sebenarnya sudah tidak sabar mengambil jenak untuk beristirahat dari seluruh beban kantor. Apalagi setelah memenangkan pertarungan menahun yang menguras ketenangan batinnya.

Ia ingin segera menikmati rasa hangat menggendong bayi bersama sang istri, namun masih sadar diri, bahwa ada hal-hal yang harus ia bereskan sebelum bergabung pergi ke Korea.

Sadar sepenuhnya bahwa sang istri benci dengan ide ini, Jimin kembali memutar otak merangkai kata.

Harus berhati-hati.

Sebab istrinya tampak begitu trauma, ketakutan untuk berpisah darinya.

Bahkan sudah hampir dua hari setelah Jimin mengatakan kalau ia tidak akan ikut terbang dengan mereka, Luna jadi bersikap dingin.

Wanita itu memang tidak membantah, atau mencegah Jimin melakukan keputusan ini. Luna tidak pernah seperti itu.

Ia hanya menunjukkan sinyal peperangan dengan cara mengalihkan bibir menjauh dan menolak ciuman dari Jimin tiap kali sang suami mencoba mendekat.

Rasanya saat itu, di maki tidak buruk juga dibanding Luna bersikap dingin tidak ingin disentuh.

"Ayolah, berikan aku sedikit kasih sayang sebelum kau pergi dengan anakku." ucap Jimin menarik bahu sang istri ketika mereka tinggal berdua.

Brave Things (PJM)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang