Hari ini adalah hari pertama Rengga masuk sekolah lagi setelah dua minggu absen. Sebenernya untuk masalah kesehatan udah gak ada masalah lagi, dia udah sehat. Hanya saja kakinya masih belum bisa bergerak banyak, Rengga baru bisa melangkah beberapa langkah, itu juga harus bertumpu pada dinding atau dibantu.
Tapi karena dia udah kelamaan absen, belum lagi bulan depan udah mulai UAS, Rengga paksain buat masuk walaupun tadinya Juno dan yang lainnya melarang. Bukan apa-apa, Juno cuma gak mau orang-orang pada ngomongin Rengga soalnya berita pengeroyokan itu sudah tersebar luas di sekolah.
Tapi mereka cuma tau Rengga di keroyok seseorang tanpa mengetahui orangnya. Gak hanya itu, ada gosip dari mulut ke mulut yang bilang Rengga abis dipake sebelum di keroyok dan itu membuat Juno murka. Dia memukuli semua orang yang menyebar berita itu membuatnya harus ditahan di ruang BK selama sehari. Tapi untung aja Gavin udah menyelesaikan semuanya, dia udah bikin bukti kalo Rengga cuma dikeroyok, gak lebih dan itu cukup untuk membungkam mulut-mulut jail itu, apalagi mereka juga masih takut sama Juno.
Dan kejadian itu gak diketahui sama Rengga. Juno juga udah bilang ke temen-temennya buat gak pernah bahas itu di depan Rengga.
"Kalo kamu gak yakin, kita pulang aja ya?" Rengga yang tadi merhatiin keluar jendela langsung menoleh, melihat Juno yang sedang menatapnya. Sekarang mereka masih berada di dalam mobil, di parkiran. Dan sejak lima belas menit yang lalu, Rengga masih terdiam.
"Sayang-"
"Aku mau masuk."
Juno mengangguk, dia mengambil tasnya dan tas Rengga lalu keluar dari mobil. Membuka pintu penumpang.
"Ayo."
"Mana kursi rodanya?" Rengga menoleh ke depan, mencari kursi roda tapi gak ada. Di luar mobil cuma ada Juno yang berdiri sambil menggendong dua tas.
"Juno.."
"Kan aku udah bilang, selama kamu masa penyembuhan, aku yang bakal jadi kaki kamu. Ayo." Juno ngulurin tangannya, bersiap menggendong tubuh tapi pacarnya itu masih terdiam lalu menunduk.
"Aku ngerepotin kamu-"
"Sayang hei," Juno narik pelan dagu Rengga hingga kini mereka bertatapan. "Aku udah bilang berapa kali sih kalo aku gak kerepotan sama sekali."
"Tapi-"
"Udah sekarang kita masuk, atau kamu mau pulang lagi?"
"Masuk."
Juno ngangguk, dia ngeraih bahu dan bawah lutut Rengga dan dengan mudah langsung menggendong tubuh yang bobotnya semakin menurun sejak sakit. Ah bahkan kalo liat Rengga sekarang Juno jadi miris. Tubuhnya benar-benar kurus dengan wajah yang selalu pucat. Untung saja lebamnya udah mulai pudar dan bengkakak di matanya juga udah kempes.
Juno jadi kangen Rengganya yang dulu, yang pipinya selalu gembil dan merona setiap kali Juno menggodanya.
Setelah memastikan Rengga aman dalam gendongannya, Juno menutup pintu mobil dengan kakinya dan menguncinya. Dia menatap Rengga yang menunduk tapi ketika Juno mengecup pelan bibirnya, cowok itu mulai mendongak dan hal pertama yang dia liat adalah senyum khas Juno. Senyum manis yang membuat matanya ikut tenggelam. Gemes.
"Gak pa-pa." Ujarnya. Rengga ngangguk, dia sebenernya liat orang-orang pada ngeliatin mereka. Bahkan dari masih di dalam mobil juga udah banyak yang ngelirik-ngelirik mereka tapi Rengga gak boleh terus overthinking, kata Papa Renjun dia gak boleh terus-terusan mikirin sesuatu yang nantinya malah bikin kondisi dia semakin drop.
Dengan Rengga di dalam gendongannya, Juno melangkahkan kakinya meninggalkan area parkiran yang rame. Dia tidak peduli, mau orang bisik-bisik juga dia gak peduli. Yang terpenting sekarang adalah Rengga tetep nyaman di sekolah tanpa ada yang ganggu. Karena gak mungkin juga sih, mereka juga pasti segan sama Juno, apalagi mengingat kejadian beberapa hari yang lalu ketika Juno hampir aja ngehancurin satu sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweetsalt
FanfictionDestiny 3rd book (disarankan baca destiny dan destiny 2.0 dulu biar nyambung) Yang Rengga inginkan hanyalah sekolah dengan tenang sampai hari kelulusannya nanti tapi semuanya berubah ketika seorang siswa paling berpengaruh di sekolah tiba-tiba mengh...
