3

2.6K 286 6
                                    

Setelah melalui perjalanan dalam diam akhirnya kami tiba di rumah pak  Erick.

"Sudah sampai." Kata pak Erick
ketika kami sudah tiba di sebuah rumah mewah yang ada di komplek perumahan elit. Rumah bergaya Victoria dan berhalaman luas itu membuatku takjub dan terpesona. Aku melihat beberapa mobil mewah terparkir di garasi tak jauh dari pintu masuk.

"I- ini rumah pak Erick?" Tanyaku masih tak percaya kalau pak Erick itu orang kaya. Seharusnya dari mobilnya aku sudah tahu kalau pak Erick itu bukan orang dari kalangan ku. Tapi aku tidak tahu bahwa pak Erick sekaya ini. Ada perasaan ragu dalam hati, apakah semua yang kulakukan ini benar, mengingat perbedaan kami terlalu jauh.

"Rumah orang tuaku. Ayo masuk, Ay." Pak Erick kembali menarik tanganku yang masih terpaku karena mengagumi rumahnya. Dengan setengah terseret aku mengikuti pak Erick masuk kedalam rumah mewahnya dan kembali aku harus ternganga dengan interior rumahnya yang sangat mewah. Seperti rumah orang-orang kaya yang hanya bisa aku lihat melalui layar kaca.

"Ma, Abang pulang." Pak Erick berteriak ketika kami masuk rumah dan seorang wanita setengah baya yang masih cantik keluar dari salah satu pintu yang ada di rumah itu.

"Abang sudah pulang, eh Abang bawa pacar?" Wanita itu tersenyum padaku dan aku membalas dengan senyum terbaikku. Aku juga mencium tangan mama pak Erick.

"Selamat siang Tante."

"Siapa ini, Abang?"

"Ma, kenalin ini Ayla, Ay ini mamaku."

"Ayla, tante-"

"Rosy, Rosyta."

"Aku dan Ayla keruang baca dulu, ma." Pak Erick menarik tanganku untuk mengikutinya. Aku hanya bisa tersenyum dan mama pak Erick hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Pak Erick membawaku kesebuah ruangan yang dibilang ruang baca itu. Aku takjub dengan interior ruang baca itu. Ada banyak rak buku dan etalase yang ditata sedemikian rupa agar terkesan menarik dan tidak membosankan. Ada televisi layar datar, meja kerja lengkap dengan laptop dan printer, dan sofa yang sangat empuk dengan meja kecil didepannya. Dan yang lebih istimewa dari semua itu adalah buku-bukunya yang berjajar rapi di rak dan etalase yang sudah diberi nama agar memudahkan untuk mencarinya.

Aku menutup mulutku yang terbuka lebar, aku benar-benar tak percaya kalau pak Erick memiliki koleksi buku yang nyaris seperti perpustakaan.

"Ini luar biasa, ini semua buku-buku pak Erick?" Tanyaku masih takjub dan terpesona.

"Koleksi kami sekeluarga. Oh ya, novel disebelah sana, bagian atas." Pak Erick menunjuk sebuah rak yang tidak jauh dari televisi layar datar itu. Aku berjalan menuju koleksi novel pak Erick dan terbelalak tak percaya dengan deretan koleksi novelnya.

"Koleksi pak Erick benar-benar seperti toko buku."

"Kamu pilih dulu mana yang ingin kamu baca. Aku keatas sebentar buat ganti baju." Aku hanya mengangguk dan pak Erick keluar dari ruangan.

Aku sibuk memilih-milih novel yang ingin kubaca dulu ketika mama pak Erick masuk membawa kue dan minuman.

"Ay, ini minuman dan kuenya."

"Iya terima kasih Tante." Aku menghampiri mama pak Erick dan melihat beliau meletakkan kue brownies diatas meja kecil tak jauh dari sofa.

"Maaf kalau rasanya tidak enak ya, Ayla. Tadi Tante coba buat kue, tapi sepertinya gagal. Hari ini Tante ada arisan dengan ibu-ibu komplek. Rencananya mau buat kue sendiri tapi sepertinya gagal.  Nanti suruh Abang beli diluar saja kalau gini." Mama pak Erick bercerita, ada nada kekecewaan dalam perkataannya saat menceritakan kegagalannya membuat kue. Aku mencoba mencicipi kue buatan mama pak Erick.

AYLA (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang