Beberapa hari tanpa pak erick, itu benar-benar menyiksa karena aku terbiasa dengan kehadirannya. Dan lima hari ini aku sama sekali tidak mendapat kabarnya. Teman-temanku sibuk dengan kekasihnya masing-masing jadi tidak punya waktu untuk menemaniku. Ponselku berbunyi, aku melihatnya dan ternyata Tante Rosy yang menelfon.
"Hallo ma."
"...."
"Aku bebas ma."
"...."
"Baiklah ma." Aku sedikit bernafas lega. Mama mengajakku jalan-jalan. Aku menyetujuinya untuk membuang rasa bosanku. Aku berjalan keluar kantin tanpa menoleh kearah kasir. Pak Erick pasti sudah membayar apa yang kumakan dan kuminum untuk sebulan. Buktinya mang Ujang tidak berteriak memanggilku karena belum membayar dan aku bisa pergi begitu saja.
Aku melihat mobil pak Erick menungguku diparkiran kampus. Aku mendekatinya dan sopir pak Erick membukakan pintu untukku.
"Apa kabar Ay?" Mama bertanya sambil memeluk dan mencium pipiku. Aku mencium tangan Tante Rosy dengan takzim.
"Baik ma."
"Ponsel Abang hilang Ay, makanya Abang tidak bisa menghubungimu." Aku terkejut, kukira dia sibuk hingga tidak ada waktu untuk menghubungiku, apalagi Pak Erick seminar bersama Bu Wida, sedikit banyak aku curiga Bu Wida memanfaatkan suasana. Aku berharap Pak Erick bisa menghindari segala macam bujuk rayu dari Bu Wida.
"Kukira Abang melupakan aku, ma. Abang kan bareng Bu Wida." Ujarku jujur, entah kenapa aku mengatakan ini pada Tante Rosy dan wanita tua itu hanya menepuk punggung tanganku seraya meyakinkan kalau aku tidak perlu mencemaskan pak Erick yang akan berpaling pada ibu Wida.
"Abang bukan orang seperti itu, Ay. Kamu harus percaya Abang. Tante tahu bagaimana Erick, dia tidak mungkin gampang tergoda, apalagi dengan wanita seagresif Wida."
"Ayla percaya Abang ma, tapi Ayla tidak percaya Bu Wida." Jawabku jujur, Tante Rosy tersenyum penuh pengertian. Kami sudah seperti ibu dan anak saat bersama. Kesepian karena ditinggal pak Erick bekerja membuat Tante Rosy memintaku menemaninya saat aku tidak bekerja. Sebenarnya Tante Rosy dan Pak Erick memintaku keluar dari pekerjaanku, tapi aku tidak mau. Bagaimanapun aku tidak ingin tergantung sepenuhnya dengan Pak Erick yang saat ini masih berstatus tunanganku. Pekerjaanku memang tidak memakan banyak waktu, aku membantu adminstrasi pembukuan disalah satu apotik milik teman Tanteku.
"Ya sudah sebaiknya sekarang kita belanja saja. Biarkan Abang bekerja dengan tenang disana. Nanti kalau terlalu memikirkan Abang, Abang jadi tidak fokus kerja karena merindukan kamu." Aku mengangguk menuruti keinginan Tante Rosy. Tinggal beberapa hari lagi sebelum Abang pulang jadi sebaiknya aku memanfaatkan waktu yang ada untuk semakin mendekatkan diri dengan Tante Rosy.
Kami mengelilingi pusat perbelanjaan. Tante Rosy memasuki beberapa gerai dan memilih beberapa barang yang dibutuhkan. Beberapa kantong belanjaan sudah ada ditangan kami, tak lupa Tante Rosy juga membelikanku beberapa dress karena kesal dengan penampilanku yang selalu memakai kemeja dan celana jeans. Tante Rosy senang mendandaniku, membelikanku beberapa aksesoris untuk anak perempuan dan memaksaku mengganti kemeja dan baju yang kupakai dengan mini dress bermotif floral warna biru. Terlihat manis dan pas ditubuhku dan sedikit memperlihatkan bentuk tubuhku.
"Kita foto yuk Ay." Aku menatap Tante Rosy tak mengerti saat dirinya menarikku ke sebuah studio foto.
"Mama itu pengen punya banyak foto dengan anak mama, sayangnya Abang ngga mau difoto. Karena sekarang kamu sudah jadi anak mama, ayo foto nanti mama pajang dirumah, seperti teman-teman mama yang memajang foto keluarga di rumah mereka dalam ukuran besar. Nanti mama bisa pamer ke teman-teman mama kalau mama juga punya anak perempuan yang cantik." Aku mengikuti keinginan Tante Rosy, tidak ingin mengecewakannya yang sudah sangat baik dan berbuat banyak untukku. Beberapa pose dan pergantian kostum kami lakukan. Tante Rosy membuat sepuluh foto.
