10

2K 186 4
                                    

Akhirnya kami sampai di tempat kencan kami. Perlahan aku turun dari motor ninja pak Erick. Aku mencoba meluruskan punggungku yang terasa pegal-pegal. Bagaimana tidak pegal-pegal kalau harus berkendara sekitar dua jam-an hanya untuk sampai ditempat ini belum termasuk posisi yang harus membungkuk agar diriku tidak terjatuh karena tempat duduk penumpang untuk motor ninja tidak nyaman. Tetapi semua kelelahan itu terbayar saat melihat pemandangan indah dan asri yang menjadi salah satu daya tarik tempat ini.

"Sakit ya dek?" Pak Erick menatapku dengan khawatir, saat aku meregangkan tubuhku.

"Ngga kok bang, cuma pegal-pegal aja."

"Oh, ya udah masuk yuk, nanti Abang pijitin." pak Erick membimbingku masuk kedalam sebuah resto yang berbentuk gazebo-gazebo dengan kolam ikan dibawahnya. Tempat ini selalu ramai tapi keberadaan gazebo-gazebo yang terpisah satu sama lain menjadikan tempat ini sedikit private. Setahuku jika makan ditempat ini harus reservasi terlebih dahulu karena banyaknya pelanggan setia restauran yang ingin menikmati makanan disini meskipun harga makanannya terbilang mahal untuk kantong masyarakat umum.

Sesampainya di gazebo yang sudah di pesan aku segera membaringkan tubuhku di bantal bantal empuk yang berfungsi sebagai alas tempat duduk atau tempat untuk bersandar. Seorang pelayan menghampiri kami dan memberikan daftar menu.

"Mau makan apa, sayang?"

"Terserah Abang aja." Aku memejamkan mataku menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menenangkan. Aku mendengar pak Erick memesan gurami sambal cobek, udang bakar saus madu, cah kangkung, salad buah, smoothies strawberry serta air mineral.

"Kamu mau pesan yang lain sweet heart" Pak Erick bertanya lagi.

"Ngga bang, itu aja." Setelah pelayan membaca ulang pesanan kami jadilah kami ditinggal berdua di gazebo. Pak Erick duduk bersandar disalah satu tiang penyangga tak jauh dari aku berbaring. Ia bahkan masih sempat membelai-belai dan memainkan rambutku. Aku memejamkan mata dan menutup mataku dengan lengan kiriku, sedangkan pak Erick sibuk dengan gawainya.

"Kamu ikut perlombaan Dies natalis, dek?"

"Iya, kak Revo yang daftarin. Abang juga ikut?"

"Revo?" Tanya pak Erick meyakinkan pendengarannya.

"Iya."

"Anak jalanan?" Tanya pak Erick lagi dan aku hanya berdehem membenarkan. Kudengar hembusan nafas kesal dari pak Erick. Aku membuka mataku.

"Abang juga ikut kan? Oh Abang pasti ikut, Abang kan idola. Semua cowok idola dikampus pasti ikut." Aku menjawab sendiri pertanyaanku.

Aku bangkit dari posisi berbaring ku dan duduk bersila didepan pak Erick. Kuperhatikan wajah pak Erick yang terlihat masih kesal.

"Abang kenapa?" Tanyaku pura-pura tak tahu.

"Abang ga suka kamu deket-deket sama anak jalanan itu. Abang cemburu." What?! Pak Erick cemburu dengan kak Revo? Sejak awal aku sudah berfikir kak Erick cemburu dengan kak Revo, tapi aku tidak menyangka dia akan berterus terang kalau dia cemburu.

"Aku ngga ada apa-apa sama kak Revo. Lagi pula aku ngga begitu kenal kak Revo, meski dia senior aku di kampus tapi kami baru ngobrol beberapa kali kok."

"Ayla, Abang tahu anak jalanan itu suka sama kamu, meski kalian baru kenal. Abang minta kamu jauhi anak jalanan itu."  Pak Erick berkata tegas. Aku mengangguk saja, tidak ingin berdebat lagi. Tidak masalah bagiku untuk menjauhi kak Revo, toh selama ini kami memang bukan teman akrab.

"Abang sebenarnya mau bilang kalau Abang bermaksud datang kekeluarga kamu buat melamar kamu." Aku melihat pak Erick dengan tatapan tak percaya, terus terang aku begitu terkejut dengan ucapannya.

AYLA (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang