16

1.7K 176 2
                                    

Pertikaian antara pak Erick dan Bu Wida memang belum selesai, meski sudah ada titik terang bahwa pak Erick tidak terbukti menodai Bu Wida tapi Bu Wida tidak menyerah. Wanita itu tetap saja merapat kepada pak Erick. Meski kampus sudah menjatuhkan sangsi pada Bu Wida untuk tidak masuk kearea kampus selama dua Minggu akibat pertengkarannya dengan pak Seno, Bu Wida memilih untuk mendatangi pak Erick dirumah. Karena merasa risih denga teror Bu Wida, pak Erick terpaksa menginap di hotel bersamaku selama dua Minggu. Aku sebenarnya ingin menolak ajakan pak Erick menginap di hotel , aku bisa saja pulang kembali ketempat kostku karena meski aku tinggal dirumah pak Erick tempat kostku masih belum ku putus masa sewanya. Sayangnya pak Erick selalu punya cara menahanku tetap tinggal di hotel hingga keesokan harinya dan keesokan harinya lagi. Kami sudah mirip orang yang sedang berbulan madu. Pak Erick beralasan tidak bisa tidur nyenyak jika tidak memelukku. Daripada kami bertemgkar akhirnya aku yang mengalah, menemaninya tidur dihotel. Tante Rosy yang mengetahui hal ini segera mengusulkan untuk mempercepat pernikahan kami. meski kasus dengan Bu Wida belum selesai sebaiknya kami segera menikah biar ada ikatan yang sah. Mama Rosy menyerahkan semua urusan pada wedding organizer. Aku dan pak Erick tinggal menyiapkan berkas dan badan karena semua biaya sudah diselesaikan oleh mama Rosy. Konsep pernikahan dibuat sesuai dengan keinginanku, disini aku percaya kekuatan uang bisa bicara. persiapan kami tidak lebih dari seminggu, semua sudah siap dari gaun, catering, gereja dan semua tetek bengek pernikahan sudah siap pada hari H.

Keluargaku hanya ikut saja apa kemauan mama Rosy, mereka tidak banya permintaan karena tahu apa yang mama Rosy lakukan untukku adalah yang terbaik. Bagi keluargaku yang sederhana, pernikahanku dengan pak Erick adalah sebuah keajaiban. Tidak pernah terpikir dalam benak keluargaku aku akan menikah muda, dengan dosenku sendiri dan orang dari kalangan atas. Semuanya benar-benar sebuah anugerah yang sangat hebat dari sang pencipta.

Hari pernikahanku tiba, gereja dihias dan tamu undangan untuk acara pemberkatan tidak terlalu banyak, hanya keluarga dekat dan sahabat. Aku sengaja membuat acara pernikahan ini lebih tertutup. Baru saat resepsi mama Rosy dan pak Erick mengundang banyak tamu. Kenalan keluargaku juag diundang tetapi jumlahnya tidak sebanyak undangan dari pihak pak Erick.

Aku memilih melangkah sendiri kedepan altar karena aku merasa sosok ayahku tidak tergantikan oleh siapapun. Diujung Pak Erick berdiri dengan gagah menggunakan tuxedo warna putih terlihat gagah dana tampan. Aku dapat melihat kegugupan saat dirimu melangkah menuju kerahnya. Begitu tiba dihadapannya Pak Erick menyambut tanganku dan menggengamnya dengan erat seolah itu pertanda bahwa dirinya tidak akan melepaskan diriku apapun yang terjadi diantara kami. Karena yang sudah dipersatukan oleh Tuhan tidak akan bisa dipisahkan oleh manusia ataupun apapun. Pemberkatan dilakukan dengan penuh keharuan. Pak Erick menyematkan cincin dijari manis ku dan mengecup keningku sesaat setelah pendeta menyatakan kami adalah suami istri. Aku benar-benar tidak menyangka akhirnya kisah cintaku berakhir didosenku. Kami saling memandang dan tersenyum bahagia.

Setelah prosesi pemberkatan selesai kami beramah tamah dengan seluruh undangan. Untuk konsep pemberkatan ini aku sengaja memilih pesta kebun, kebetulan halaman samping gereja bisa disulap jadi venue yang menampilkan konsep pesta kebun. Senyum bahagia menghiasi wajah kami berdua hingga aku merasa wajahku kram karena kebanyakan tersenyum dan tertawa. Kedua sahabatku datang bersama pasangan masing-masing. kulihat mereka sangat bahagia karena aku akhirnya menikah dengan pak Erick.

Resepsi pernikahan dilakukan akhir pekan mengingat undangannya yang banyak dan membutuhkan persiapan yang matang. Aku bisa melihat wajah-wajah terkejut dari dosen-dosen dikampusku saat mereka tahu siapa pengantin pak Erick. Bu Wida kami undang tetapi wanita itu memilih tidak datang. Pak Seno datang seorang diri dan memberi ucapan selamat kepada kami dengan tulus. Aku bisa melihat dan mendengar dirinya mengucapkan terima kasih kepada pak Erick yang tidak menuruti keinginan Bu Wida dan memberi harapan pada Bu Wida. Tak sedikit dari rekan dosen dan kolega pak Erick yang membicarakan kami. Maklum saja perbedaan status dan usia kami pasti akan mengusik hati orang-orang yang iri dan menginginkan pak Erick entah sebagai suami atau sebagai menantu.

AYLA (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang