26

1.4K 131 2
                                    

"Jadi anak kita mau Abang kasih nama siapa?" Tanyaku saat menyusui bayi kami. Mama Rosy memilih pulang ke rumah dan membiarkan pak Erick yang menjagaku dirumah sakit.

"Galaxy Bimasetya."

"Bimasakti?" Tanyaku meyakinkan kalau apa yang kudengar salah. Aku tahu Bimasetya itu namanya.

"Bimasetya sayang, dia anak Richard Bimasetya bukan Richard Bimasakti."

"Harus banget Galaxy ya bang? Abang ngga punya ide lainnya untuk nama, siapa gitu?" Tanyaku, karena bagaimanapun juga nama adalah doa yang disematkan kedua orang tuanya untuk sang anak. Jadi namanya harus berarti baik atau panggilan yang baik.

"Iya, agar dia berhati dan berfikiran seluas Galaxy. Kamu punya usul lainnya?"

"Aku ikut Abang saja."

"Cantiknya istriku." Pujinya seraya mengecup bibirku. Galaxy putra kami menggeliat tak suka saat sang ayah mencuri perhatianku. Aku langsung mengusap pipi tembamnya dengan ibu jariku dan Galaxy kembali tenang. Pak Erick tersenyum geli melihat tingkah putra kami.

"Abang rasa putra kita akan sangat posesif padamu dan adik-adiknya nanti. Lihat saja, meski masih kecil dia sudah mengklaim kepemilikannya."

"Abang, masa sama anak sendiri cemburu?"

"Abang ngga cemburu, hanya tidak siap jika harus berbagi kamu dengan Galaxy." Aku tersenyum geli mendengar jawaban Pak Erick.

"Sayang, baju kamu basah. Sepertinya ASI kamu berlebih. Pasti gara-gara dulu sering aku hisap ya. Lihat nak, usaha papa membuahkan hasil. Kamu bisa minum sepuasnya sampai kenyang. Papa janji ngga minta bagian. Kamu habisin semua ASI mama lalu tumbuh dengan sehat. Kita sama-sama akan menjaga mama. Oke boy!" Pak Erick mengecup Galaxy dengan sayang. Aku hanya tersenyum melihat betapa bahagianya suamiku dengan kehadiran bayi kami.

"Selamat malam Pak Erick, ibu Ayla." Dokter Kama menyapa kami didampingi oleh beberapa dokter koas dan perawat.

"Wah sudah keluar ya ASI nya. Bagus Bu, usahakan ASI ekslusif ya Bu."

"Tentu dokter biar sehat dan kuat seperti papanya."

"Oh iya, siapa namanya?"

"Galaxy."

"Wah kenapa bisa kebetulan? Keponakan saya namanya Andromeda. Baru beberapa saat yang lalu lahir."

"Benarkah? Selamat ya dokter Kama. Semoga ibu dan bayinya sehat."

"Terima kasih ya doanya. Kalau adiknya sudah tidur, mari ibu Ayla saya periksa dahulu." Pak Erick segera mengambil alih Galaxy dan menggendongnya alih-alih meletakkan di box bayi. Suamiku itu memperhatikan dokter Kama yang sedang memeriksaku sambil menggendong

"Dok, setelah ini berapa lama lagi menunggu agar Galaxy punya adik?" Dokter Kamajaya langsung tergelak. Aku hanya melotot melihat kearah Pak Erick, suamiku ini sadar ngga sih, aku saja masih merasa nyeri dibagian intim karena beberapa jahitan ini sudah nanya kapan Galaxy bisa punya adik.

"Kejar setoran ya pak? Seperti kembaran saya, suaminya sudah berumur jadinya kejar setoran, untungnya sekali melahirkan selalu dua."

"Bukan kejar setoran dokter, tapi memang saya ingin punya banyak anak. Maklum saya dan istri saya sama-sama anak tunggal."

"Sebaiknya ibu boleh hamil lagi setelah dua tahun ya pak. Tapi anak itu kan rejeki ya, kalau ibu subur bisa saja setelah enam bulan setelah melahirkan ibu hamil kembali."

"Berarti kamu ngga usah pakai kontrasepsi yang, biar cepet jadi. Kasihan juga kan kalau Galaxy maen sendiri. Betul kan dokter Kama?"

"Silahkan dirundingkan lagi dengan ibu, pak. Tugas saya hanya memastikan ibu dan bayi sehat."

AYLA (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang