Aku dan pak Erick akan berangkat kekampus. Hari ini adalah hari perlombaan dalam rangka Dies natalis kampus. Selain beberapa lomba, ada juga seminar umum dan bazar kuliner. Pak Erick akan mengisi seminar umum bersama beberapa dosen lainnya. Namun niat kami tertunda karena kedatangan tamu yang sama sekali tidak kami duga.
Orang tua Bu Wida datang bersama pengacara mereka. Bukan bermaksud untuk tidak sopan pada tamu, pak Erick terpaksa mengatakan bahwa kami harus segera pergi karena ada acara yang menanti dirinya sebagai pengisi acara.
Orang tua Bu Wida sedikit memaksa untuk diberi waktu akhirnya disetujui pak Erick bahwa waktu mereka hanya lima belas menit. Kedua orang tua Bu Wida menyampaikan maksud tujuannya datang kerumah pak Erick. Mereka bernegosiasi meminta Pak Erick untuk memikirkan lagi keputusannya menolak Bu Wida. Mereka menjanjikan akan mencabut laporan terhadap pak Erick dikepolisian. Sayangnya pak Erick tidak mengabulkan permintaan orang tua ibu Wida. Aku melihat kedua orang tua Bu Wida berambisi membuat pak Erick sebagai menantu mereka, meski kenyataan berbicara bahwa Pak Seno yang harusnya bertanggung jawab tetapi melihat latar belakang pak Erick mereka lebih memilih pak Erick sebagai menantu.
Ibu Bu Wida bahkan masih tidak percaya kalau aku adalah tunangan pak Erick karena aku tinggal dirumah pak Erick dan pernah melihatku foto bersama Tante Rosy sedang mempromosikan beberapa gaun di salah satu butik yang ada di pusat perbelanjaan. Orang tua Bu Wida percaya kalau aku dan pak Erick memainkan trik kalau kami sengaja berpura-pura menjadi pasangan padahal sebenarnya adalah saudara. Menanggapi tuduhan orang tua Bu Wida, pak Erick sama sekali tidak memberikan bantahan atau penjelasan apapun, alasannya karena semua sudah diserahkan kepada pengacaranya untuk diselesaikan. Begitu orang tua Bu Wida selesai mengutarakan maksudnya dan langsung ditolak oleh pak Erick, lelaki itu segera berpamitan untuk pergi kekampus. Aku melihat kekecewaan dari orang tua Bu Wida dengan penolakan dari pak Erick. Apalagi pak Erick sama sekali tidak perduli oleh ancaman pengacara Bu Wida yang akan mempermasalahkan atitude pak Erick yang sudah tinggal bersama denganku tanpa adanya ikatan yang sah. Berbeda dengan pak Erick yang terlihat santai, aku justru kepikiran. Bagaimana jika karena aku yang tinggal bersama dengan pak Erick menjadi salah satu alasan pak Erick berbuat bejat dengan memperkosa Bu Wida meski hal itu tidak dilakukannya.
Melihatku yang terdiam dan tidak enak hati, pak Erick segera menghiburku. Dia meyakinkan bahwa tidak akan ada masalah berkaitan aku yang tinggal dirumahnya dengan masalahnya dengan Bu Wida. Pak Erick bahkan berniat mempercepat pernikahan kami kalau aku masih mempermasalahkan hal itu. Aku jelas keberatan, bukan karena aku tidak suka segera menjadi istrinya tetapi saat ini bukan waktu yang tepat. Tante Rosy masih fokus dengan kesehatan sang nenek dan pak Erick juga masih tersandung kasus Bu Wida.
"Kita menikah di gereja saja, baru setelah semua masalah selesai kita adakan pesta pernikahan."
"Tidak ada pemberkatan sebelum masalah Abang beres."
"Masalah Abang dan Wida itu bukan hal penting. Abang yakin Abang tidak bersalah. Seandainya Wida benar-benar hamil, Abang yakin itu bukan anak Abang. Kalau kita segera menikah, Revo tidak akan mengejarmu dan Anggi tidak akan menyakitimu."
"Mama masih sibuk, bang."
"Kita menikah di Singapura." pak Erick menjawab dengan santai dan penuh ketenangan. Aku menggeleng.
"Kita selesaikan masalahnya satu persatu, aku janji kita akan menikah begitu masalah Bu Wida ini selesai."
"Baiklah, kalau dalam dua bulan ini masalah Wida belum selesai, Abang tetap akan menikahimu."
"Deal." lalu tanpa abay pak Erick mencium bibirku. Itu cara pak Erick untuk menyetujui dan mengunci perkataanku, bukan lagi jabat tangan tetapi ciuman bibir.
