Sebagai salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Bimantara Group, perusahaan milik Pak Erick juga diundang oleh Bimantara Group. Aku mempersiapkan pakaian pak Erick yang akan dikenakan pada acara gala dinner nanti, aku sengaja menyiapkan warna yang aku sesuaikan dengan warna pakaian seragam panitia Gala Dinner. Baju yang hingga menjelang acara diadakan masih ditolak oleh Qiella dan Ziella. Kedua sahabatku itu tidak ingin memakai seragam karena ingin memakai gaun malam pilihan mereka sendiri. Tentu saja kedua temanku itu ingin menunjukkan siapa diri mereka, karena kalau memakai seragam orang tidak akan tahu bahwa Ziella adalah calon menantu pendiri Bimantara Group.
"Bajunya serasi, ini seragam panitia? Tidak buruk kelihatannya?"
"Memang tidak buruk bang, bagus malahan. Untung Abang punya warna yang senada jadi bisa couplean sama aku. Tidak keberatan kan couplean sama panitia acara?" Seperti dugaanku, pak Erick hanya tersenyum lalu memeluk pinggangku.
"Kenapa harus keberatan, cocok kok."
"Abang ngga malu? nnati dikira panitia bagaimana?"
"Ya tidak masalah, hitung-hitung membantu meringankan tugas istri Abang. Bukankah Abang pernah bilang akan selalu mendukungmu, jadi bagi Abang tidak masalah ikut ambil bagian dalam team panitia Gala dinner Bimantara Group."
"Kalau ada yang mengenali Abang, bagaimana?" Pak Erick tertawa kecil seraya mencubit hidungku dengan gemas.
"Pasti banyak yang kenal Abang kalau dari segi bisnis, tapi tidak masalah juga kan, kita sama-sama manusia dan tidak ada perbedaan antara kita Dimata Tuhan kecuali akhlak kita. Kita berangkat bersama atau kamu berangkat lebih dahulu, sweetie?"
"Jam enam aku harus stand by disana, bang. Aku kan penerima tamu. Sebelumnya mbak Inka akan ngasih briefing dulu."
"Kita berangkat bersama saja kalau begitu."
"Abang nunggu lama donk."
"Ya ngga apa-apa, abang bisa tunggu dimobil sambil main game."
Pak Erick memutar tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia mengendus leherku dan menjilatinya sebelum menggigitnya. Ia terus mencumbuku seraya tangannya sudah melepaskan handuk kimonoku. Kini hanya ada dua orang yang sama-sama polos berdiri didepan lemari kaca dalam walk on closset milik kami.
"Jangan ninggalin jejak, bang." Aku berkata seraya menahan gairah yang siap meledak kapan saja saat pak Erick memainkan kedua bukit kembarku dan intiku dengan intens sementara lidahnya terus mencecap dan merasai area bahu dan leherku.
"Sweetie, quicky ya? masih keburu kok."
Pak Erick mencoba merayuku. Belum sempat aku menolak dia sudah menyerangku. Sebenarnya dia tadi niat ngga sih minta ijin kok udah nyerang aja padahal aku belum bilang mau. Pak Erick segera mendorong tubuhku hingga bertumpu pada salah satu buffet tempat menyimpan koleksi dasi dan jam tangan. Tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada Pak Erick memasuki dengan cepat dan segera bergerak tidak sabar. Aku hanya bisa mendesah nikmat dan mengerang saat Pak Erick terus menghunjamiku dengan miliknya. Tak butuh waktu lama kami yang sama-sama bernafsu mencapai puncak kenikmatan kami. Tanpa melepas penyatuan milik kami, pak Erick meraup wajahku dan melumat bibirku dengan penuh nafsu.
Aku masih mengatur nafasku setelah ciuman panas kami berakhir, Pak Erick mencabut miliknya hingga aku merasakan sesuatu yang hangat turun dari pangkal pahaku.Aku memekik ringan ketika tiba-tiba, pak Erick sudah menggendongku kekamar mandi dan berniat memandikanku. seperti biasanya Janji hanya quicky tinggallah janji ketika sekali lagi pak Erick menggempurku dikamar mandi dengan cepat. Seperti halnya pak Erick yang bergairah ternyata bercinta dnegan batasan waktu membuat adrenalin ku terpacu dan gairahku naik lebih cepat dari biasanya. Kami melakukan dengan terburu-buru dan sedikit kasar hingga pelepasan kedua terjadi tak lama setelah kami bermain. Aku masih terengah-engah mengatur nafasku yang terputus-putus dan kakiku yang lemas ketika dengan telaten pak Erick memandikanku setelah pergulatan panas kami.
