Saat aku masih berusia sebelas tahun, aku pernah terjebak masalah karena meninju wajah teman sekelas yang mencoba menceburkan tasku ke dalam kolam ikan di sekolah. Aku selalu tahu kalau kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah dengan baik, bahkan terkadang hanya membuat semuanya jadi kian memburuk. Namun, pernahkah kau bertemu dengan seseorang yang membuatmu berpikir kalau berbicara saja tidak akan membuat mereka mendapatkan kembali akal sehatnya? Well, secara singkat, itulah yang melintas di kepalaku sekarang saat menatap ekspresi Kim Taehyung. Apalagi saat pemuda itu mendekatkan wajah dan berbisik di telinga, "Ayo, pergi ke hotel bersamaku."
Aku menatapnya lurus. "Hotel?"
"Iya," sahutnya. "Kau, aku, ranjang yang empuk. Bagaimana?"
Seulas senyum kupatri di bibir. Bahkan tak repot-repot menahan diri untuk tidak berkata, "Bagaimana kalau kau, aku, dan sepatuku yang akan segera mendarat di wajahmu?"
"Apa?"
Aku tidak tahu apakah momen selanjutnya adalah sebuah kebetulan karena dia terlalu sibuk melongo mencerna ucapanku atau aku saja yang memang benar-benar mengeluarkan tenaga untuk berusaha. Dalam satu gerak cepat, kuayunkan tanganku ke atas puncak kepala pemuda sialan itu, mencengkeram rambutnya yang agak panjang dan kutarik dalam satu hentak kuat sampai tubuhnya melengkung ke bawah perutku. Kedengarannya lumayan bagus saat dia menjerit, "Kau menarik rambutku!"
Aku mendecakkan lidah. "Untung tidak kutarik sekalian senjata masa depanmu sampai copot."
Taehyung sepertinya kehabisan kesabaran, dia menghentakkan tanganku begitu kasar, membuat kukuku sedikit menancap pada kulit kepalanya dan tanganku terasa pedih. Namun, kesempatan itu kuambil sebagai langkah untuk mendorongnya pada tepi bilik sekuat tenaga, sukses membuat Taehyung melangkah mundur terhuyung-huyung dan menghantam pembatas dengan suara keras. Aku segera membuka pintu, bergegas melangkah keluar dengan wajah merah dan tangan nyeri.
Merasa buruk? Tentu. Siapa yang tidak setelah diperlakukan begitu?
Rasa sakit ini pasti tidak seberapa dengan rasa sakit Taehyung, tapi aku tidak peduli. Siapa suruh melecehkan anak gadis orang? Memangnya dia pikir semua gadis akan rela membuka baju dan menyodorkan rahimnya untuk dimasuki hanya karena dia tampan?
Shit.
Membuat kesal saja.
Ketika aku hampir berhasil meninggalkan areal toilet, aku bisa merasakan lenganku ditarik kasar. Kupalingkan wajah dan menemukan Taehyung tepat berada di balik punggung, sedang menyeringai puas dan sama sekali tidak terlihat kesal. Aku bisa merasakan jantungku berhenti berdegup dan mulai bertanya-tanya apakah ada hal yang salah dengan isi otak pemuda ini. Masokis? Kemungkinan iya. Dia pasti tidak waras. Rumah sakit jiwa mana yang kehilangan pasiennya? Aku perlu menelepon mereka dengan cepat.
Namun, sebelum kami sempat beradu cek-cok, kemungkinan juga saling mencekik dan membunuh satu sama lain, sebuah suara mendadak memutus dan aku nyaris menjerit penuh syukur. "Apa yang terjadi?"
Aku bisa merasakan cengkeraman Taehyung mengendur dari lengan dan membuat kedua kakiku buru-buru menjauh darinya secepat mungkin. Yoongi menatapku heran. Jika saja aku tidak mengenalnya lebih dulu sebelum hari ini, aku pasti sudah mengerut ketakutan karena wajah datar dan pandangan menilai yang selalu mampir di wajah pemuda itu. Namun, presensi si Sabit di sini, sedang bertanya dengan nada cemas, semua itu membuatku merasa benar-benar merasa seperti baru saja diselamatkan dari terkaman hewan buas. "Ji? Ada apa?"
Aku tercekat, kutatap Taehyung sejenak dan dia hanya tersenyum miring tanpa masalah. Napasku tersendat sejenak sebelum menyahut dengan nada luar biasa jengkel, "Si Mesum itu," aku menatap Taehyung yang terlihat sedang menahan tawa dengan tajam dan melanjutkan, "Dia sinting."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Issues
FanfictionJika dilihat sekilas saja, tak ada yang mengira bahwa ada yang salah dengan Jeon Jungkook serta Jeon Jian. Kedua bersaudara tersebut terlihat sebagaimana wajarnya seorang kakak dan adik perempuan. Namun apabila diperhatikan sedikit lebih cermat, kau...
