Chapter 16

626 97 6
                                        

Dua puluh tujuh. Dua puluh delapan. Dua puluh sembilan. Tiga puluh.

"Mereka sudah pergi."

Oh. Sudah?

Dengan sepasang netra berkabut, Jian semerta-merta memalingkan pandangan dari detik jam yang berdetak di dinding dapur. Kepalanya berhenti menghitung, air mukanya kembali muncul ke permukaan. Tanpa begitu berusaha dan sukses memasang ekspresi ngeri, ia menarik napas yang seolah tercekat di kerongkongan, mempertemukan pandangan lalu menatap sang kakak yang menjadi sumber suara—mendengar suara langkah kaki Jungkook yang meninggalkan kesan seolah tengah membawa puluhan ton batu dengan pergelangan, seret-seretnya memasuki dapur dengan tumpukan kecemasan. Nyaris terlihat menyerupai Mama, pikir Jian.

Menatap gadis di kursi meja makan yang kini mengusap wajahnya sendiri; kantung mata, wajah pucat, dan ekspresi terpukul, Jungkook mendadak mencelos. Ia seharusnya sudah menduga kalau ada hal yang tak beres tentang Woori kemarin lusa. Bagaimana gadis itu meninggalkan rumahnya dengan ekspresi ganjil, tidak membalas sapaannya dan bahkan berlari begitu saja bak orang kesetanan tanpa mengatakan apa-apa—itu harusnya sudah menjadi petunjuk yang cukup. Jian bahkan sudah mengatakan bahwa Woori bersikap aneh sekali. Hanya saja Jungkook sama sekali tidak menduga bahwa inilah yang akan terjadi. Well, tentu saja. Bagaimana mungkin dia bisa menduga seseorang akan menusuk leher sendiri di tengah-tengah kafetaria?

Kemudian yang terburuk, adiknya berada di sana untuk menyaksikan itu semua.

"Kau ingin mengisi perut dulu?" tanya Jungkook sesaat kemudian. Pemuda tersebut lantas mendudukkan diri di sisi Jian, menepuk punggungnya perlahan—berusaha menenangkan. Mama sudah berusaha meredakan ketakutan yang menyerang, tapi agaknya hal ini memang tidak mudah dilenyapkan begitu saja. Menemukan ekspresi muram mampir di wajah Jian, kekhawatiran terdengar kental di dalam tiap kata yang meluncur keluar dari kerongkongan Jungkook. "Biar kubuatkan sesuatu, ya? Kau belum menelan apa-apa sejak kemarin."

"Aku yakin aku akan mengeluarkannya lagi setelah apa yang kusaksikan kemarin," balas Jian serak. Ia memalingkan pandangan, terlihat cemas bukan kepalang. "Kenapa polisi sampai datang kemari, Jung? Apa ada yang salah?"

Jungkook menghela napas. "Petugas kepolisian datang mengunjungi beberapa orang. Bukan kita saja. Mereka hanya mencari keterangan, sekadar memastikan apakah Woori sempat berkunjung sebelum insiden terjadi. Aku hanya mengatakan apa yang benar-benar terjadi."

Hela napas berat kemudian diloloskan dari kedua belah bibir gadis itu. Ia mengusap surai frustasi, gurat masam terlukis sempurna dan Jian tertawa getir. "Astaga. Aku tidak tahu kalau Woori akan melakukan itu. Seharusnya aku berbicara banyak padanya kemarin. Tapi aku malah membiarkannya begitu saja di kamar menunggumu. Aku tidak tahu—"

"Jian—"

"Seharusnya aku bisa sedikit membantu, bukan?"

"Jian!"

Jungkook mengerutkan kening. Suaranya sukses membuat gadis itu terkesiap pelan, melebarkan mata dalam beberapa sekon dan Jungkook bisa melihat seberapa kacau hal ini mengoyak adiknya. Hampir semalaman gadis itu tak terlelap. Jungkook mengeceknya secara konstan, Mama berusaha membujuknya untuk berbaring di ranjang. Namun, semuanya sia-sia.

Jungkook juga ingat dirinya datang ke lokasi kejadian saat teriakan melengking bergema mengisi kafetaria. Lalu saat ia menemukan kolam darah sudah menggenang di atas counter serta lantai, pemuda tersebut hanya sanggup berlari menggapai adiknya yang berdiri kaku tak berkedip. Bahkan Taehyung serta Jimin yang berada di sana ikut memasang ekspresi paling mengerikan yang pernah Jungkook lihat. Siapa saja yakin kalau itu jelas bukan sesuatu yang ingin kau saksikan secara langsung.

The IssuesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang