Apa hal pertama yang akan kau lakukan setelah membunuh seseorang?
Jungkook terdiam. Tidak ada.
Aroma anyir seperti tengah membumbung ke dalam udara untuk menari-nari. Sisa-sisa hujan masih terus menetes di luar jendela, awan mendung menghapus bintang, suara malam berderak menggesek rasa ngeri sementara Jungkook bisa merasakan nalar serta akal sehatnya terpelanting ke sana-sini. Satu sisi dari kepalanya terus menendang brutal pada bagian yang perlahan berubah tak waras, begitu membingungkan, sulit dipercaya, sampai ia hanya mampu terdiam dengan sepasang mata menatap lurus.
Namun, Jian masih ada di sini.
Jungkook akan menjadi pembohong ulung kalau berkata bahwa itu membuatnya ketakutan. Dalam perasaan ganjil, presensi gadis tersebut malah berhasil membuatnya merasa tenang; menjadi bukti hidup bahwa ini semua memang terjadi, bukti bahwa sang ibu sudah mati. Lalu fakta itu takkan mendadak berubah dan semuanya jadi sempurna kembali. Tidak mungkin.
Sejak selesai mengeduk tanah dan menutupnya lagi dengan apik, Jian membuktikan sikapnya yang seolah mati rasa pada situasi sekitar. Gadis itu berbicara dengan hati-hati, hangat, dan lembut. Ia menuntun Jungkook untuk membersihkan diri, mencarikannya pakaian kering dan bersih, lalu meminta sang kakak agar menunggu—terduduk di depan pintu kamar mandi di dalam kamar tidur Jian dengan tatapan setengah kosong.
Si Jeon bungsu mengerti benar jika ia harus bergerak. Jungkook sedang tidak bisa diandalkan sementara darah yang mengering akan sulit dibersihkan, jadi si gadis lantas bergegas membereskan sisa-sisa kekacauan sebisa mungkin; mengepel lantai yang ternoda, memasukkan semua pakaian, sepatu, sekop ke dalam kantung plastik dan dijejalkan ke bagasi mobil untuk dibuang. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyesal. Sekelumit perasaan yang tergambar di kedua matanya hanyalah kecemasan kalau-kalau Jungkook akan benar-benar terpukul berat karena kejadian malam ini.
Selebihnya, Jian tak benar-benar peduli bahwa ia sudah mengubur ibu sendiri.
"Semuanya sudah selesai," ujarnya. Aroma pengharum mobil citrus menguar samar dari tubuhnya. Jungkook mendongak menatap sang adik yang meninggalkannya selama beberapa jam sementara Jian melanjutkan, "Aku baru saja kembali. Sudah kubuang semua barang buktinya. Jangan cemas. Tidak akan ada yang tahu."
Tidak akan ada yang tahu?
Jungkook bungkam. Pemuda itu barangkali akan mengucapkan sesuatu kalau ia tidak menadadak menahan napas—barangkali berteriak atau mengumpat. Entahlah. Namun, pemuda itu tak bisa menyalahkan Jian. Semua konspirasi ini, semua fakta ini, semuanya memang ada dan terjadi karena sebuah alasan. Jadi, apa poinnya menyalahkan orang lain?
TDi hadapannya, tepat di depan matanya, sebuah luka mendadak tergores di leher adiknya dan Jungkook nyaris terkesiap. "Lehermu—"
"Sial."
Jian buru-buru bangkit. Gadis itu meninggalkan Jungkook yang kemudian ikut bangkit dengan begitu cepat, mengikutinya ke dalam kamar mandi yang tak bisa dicegah dan menyaksikan bagaimana luka yang melebar tersebut tengah memuntahkan darah segar—hampir terlihat menyerupai jus kranberi pekat yang tumpah pada pukul tiga pagi. Mengalir dengan deras.
Adiknya lantas menggigit bibir bawah. Ia menyambar selembar handuk dari dalam nakas kamar mandi, mencelupkannya ke dalam wastafel dan mengubah warna putih di sana menjadi merah merekah. Namun, darah yang berasal pada sibakan luka di leher gadis itu seperti tidak akan pernah mereda. Jungkook merasa ia sudah terlalu letih untuk menyergah saat Jian berkata menjelaskan, "Ini tidak terasa sakit. Jangan khawatir. Ini hari terakhir."
Pemuda itu jelas ragu kalau Jian mengatakan yang sejujurnya. Ia juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Darah sebanyak itu—yang kini sudah membasahi seluruh permukaan dada Jian hingga menganak sungai dan mengalir menuju pembuangan air—jelas bisa membuat seseorang meninggal. Namun, wajah adiknya hanya berubah sepucat kertas tiap kali ia mengusap darah yang terus keluar dengan janggal.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Issues
FanficJika dilihat sekilas saja, tak ada yang mengira bahwa ada yang salah dengan Jeon Jungkook serta Jeon Jian. Kedua bersaudara tersebut terlihat sebagaimana wajarnya seorang kakak dan adik perempuan. Namun apabila diperhatikan sedikit lebih cermat, kau...
