Paris merasa sedikit berbeda saat bangun pagi ini. Bagaimana tidak? Pasalnya ia kini sudah berada di Pulau Bali. Ia dan Ken tiba semalam, karena terlalu lelah, mereka langsung istirahat dan belum sempat menikmati Pulau Bali yang sangat Paris rindukan ini. Mungkin terakhir kali Paris kesini sekitar dua tahun lalu.
Ia beranjak dari ranjangnya dan membuka tirai jendela lebar-lebar. Suara deburan ombak langsung menyapanya karena kamarnya langsung menghadap ke laut. Ia melirik jam tangannya, masih pukul enam lebih. Rencananya Ken akan bertemu dengan rekan bisnisnya sekitar pukul sembilan. Lebih baik sekarang Paris mandi terlebih dahulu, sebelum menyiapkan keperluan Ken.
Paris menghentikan aktivitasnya yang sedang menyisir rambut saat bell pintu kamarnya berbunyi. Ia segera membuka pintu dan munculah Ken dengan wajah sumringahnya.
"Baru aja mau aku samperin," ujar Paris.
"Nggak perlu, ayo kita sarapan dulu."
Paris terperangah saat dibelakang Ken ada seorang pegawai hotel yang sedang membawakan sarapan untuk mereka. Paris pun membuka pintunya lebar-lebar untuk memberikan jalan kepada Ken dan karyawan hotel tadi.
Paris tidak begitu heran saat melihat beraneka jenis makanan tersaji di depannya, dari dulu sifat Ken tidak pernah berubah. Selalu berlebihan.
"Ayo duduk, kita sarapan," ujar Ken melihat Paris yang hanya diam dari tadi.
"Makanannya banyak sekali Ken," sahut Paris mulai mencomot buah di depannya.
"Aku malas bertanya kamu mau sarapan apa, jadi aku pesankan saja semuanya," jawab Ken dengan enteng.
Paris mendengus mendengar jawaban Ken, ia melirik pria itu sekilas. Ia tidak melihat kegugupan sama sekali pada pria itu, malah ia yang gugup setengah mati mengingat pertemuan Ken nanti.
"Ken, kamu nggak gugup?" tanya Paris penasaran.
Ken menghentikan kunyahannya lalu mulai menatap Paris dengan serius.
"Aku sudah biasa melakukan ini Paris, rasa gugup itu pasti ada tapi sebisa mungkin tidak aku perlihatkan."
"Kenapa jadi aku yang gugup sih." Gerutu Paris kesal.
"Ada apa emang?" tanya Ken heran.
"Entahlah." Paris sendiri juga bingung dengan apa yang ia rasakan.
"Kamu yakin kan aku akan berhasil?" tanya Ken.
Paris menganggukkan wajahnya.
"Maka aku hanya perlu mempercayai itu dan semuanya akan berjalan dengan lancar nanti."
Paris tersenyum mendengarnya, harusnya ia juga sama yakinnya dengan Ken. Ia hanya perlu mempercayakan semuanya kepada pria itu.
***
Paris melirik jam dinding berulang kali sambil menunggu kedatangan Ken. Pria itu sempat mengirimkan pesan singkat jika akan makan siang bersama rekan bisnisnya dan menyuruhnya untuk makan siang terlebih dahulu. Tapi Paris tidak menurutinya. Ia tidak bisa tenang sebelum mendengar semuanya dari Ken dan harusnya pria itu sudah kembali sekarang.
Paris melirik pintu saat mendengar bell berbunyi. Panjang umur sekali Ken karena langsung datang saat Paris memikirkannya.
Paris menelisik wajah Ken saat sudah membukakan pintu. Ia mengernyitkan keningnya bingung saat melihat wajah murung Ken.
"Ken," panggil Paris khawatir sambil mengusap wajah Ken.
Tapi seketika wajah murung Ken berganti dengan senyum bahagia. Ternyata pria itu baru saja mengerjainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Asisten Mantan
Chick-LitParis Ariella Ulani harus bertemu kembali dengan mantan pacarnya Keanu Bagaskara, setelah sekian lama menghindarinya. Parahnya lagi kini ia harus bekerja menjadi asisten pribadinya. Karena kesalah pahaman di masa lalu membuat hubungan keduanya ber...
