Empat Puluh Satu

34.7K 2.6K 40
                                        

Pagi ini Paris sudah siap dengan make up tipisnya, meskipun ia masih memakai piyama. Sejujurnya ia tidak tahu apakah Ken akan mulai kerja hari ini atau tidak. Obrolan mereka dua hari lalu memang membuat pemikiran Ken sedikit berubah. Tapi pria itu masih belum mau masuk kerja dengan alasan ingin menyembuhkan tangannya yang terluka. Meskipun begitu, Paris tetap bersiap-siap. Jika sewaktu-waktu Ken mengatakan akan masuk kerja maka ia tinggal ganti baju saja nanti.

Melihat ada panggilan masuk dari Ken membuat Paris buru-buru mengangkatnya. Itu adalah panggilan yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.

"Ya Ken?" jawab Paris.

"Aku di bawah," jawab Ken diujung sana.

"Kamu mau kerja?" tanya Paris.

"Iya, hari ini aku mulai masuk kerja."

Paris menahan dirinya untuk tidak berteriak karena senang, akhirnya Ken kembali seperti dulu lagi. Ia tidak suka Ken terlihat lemah, seperti bukan Ken yang Paris kenal selama ini.

"Aku ganti baju dulu ya, sebentar lagi aku turun."

"Iya, aku tunggu." Dengan cepat Paris mematikan panggilannya. Ia lalu bergegas berganti pakaian karena tidak ingin membuat Ken menunggu lama.

Setelah selesai, Paris mulai memasukkan barang-barang pentingnya ke dalam tas. Ia memakai heels-nya dan mengunci pintu lalu bergegas turun untuk menemui Ken.

"Hai." Sapa Paris dengan senyum bahagia yang tidak bisa ia tahan.

"Ada apa? Kok kelihatan seneng banget kamu?" Ken mengernyitkan keningnya melihat wajah sumringah Paris.

"Aku senang karena kamu udah kembali seperti dulu lagi." Jujur Paris.

Ken tahu apa maksud Paris. Alasannya bisa kembali bangkit karena kehadiran Paris. Ia tidak mau mengecewakan gadis yang ia cintai ini. Jika tidak bertemu dengan Paris lagi, entah apa yang terjadi pada hidupnya. Mungkin saja Ken sudah mengikuti permintaan Papanya untuk menikahi Eleya, tapi Paris datang di saat yang tepat dan bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik sekarang.

"Yuk berangkat, sebelum kita telat." Ken membukakan pintu untuk Paris dan membiarkan gadis itu masuk. Ia lalu berbalik kearah kursi kemudi dan melajukan mobilnya untuk mencari sarapan terlebih dahulu sebelum menuju kantor.

***

Paris hanya bisa tercengang saat memasuki gedung perusahaan. Ia bisa melihat semua papan informasi digital yang ada di dalam gedung perusahaan menampilkan wajah seorang pria.

"Siapa itu Pak?" tanya Paris tidak ingin penasaran lebih lama lagi. Karena sudah di kantor Paris harus berbicara dengan formal kepada Ken. Sedikit aneh sejujurnya memanggil Ken dengan formal lagi, setelah apa yang mereka lewati beberapa hari terakhir. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus bisa membedakan urusan pribadinya dengan pekerjaan.

"Dia yang membocorkan desain perusahaan. Dia pria yang ucapannya tidak sengaja kamu dengar di toilet malam itu."

Paris hanya bisa meringis membayangkan semalu apa karyawan itu karena ketahuan oleh bos kejam seperti Ken.

"Karyawan lain harus tahu. Siapa pun yang berusaha menjadi pengkhianat akan berakhir sama seperti dia."

"Anda sudah berusaha melakukan yang terbaik Pak," ujar Paris.

"Itu semua berkat kamu." Ken menggenggam tangan Paris dan menariknya menuju ruang kerja mereka.

***

Asisten MantanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang