Sembilan

192K 13.7K 281
                                        

Paris melirik jam tangannya, sekarang sudah masuk jam makan siang. Ia ingat jika harus menyiapkan makan untuk bos manjanya ini.

"Permisi Pak, Anda ingin makan siang apa?" tanya Paris saat sudah ada di hadapan Ken.

"Saya sudah memesan makanan, kamu ambil saja di meja resepsionis."

"Baik Pak." Paris segera berlalu dari hadapan Ken dan menuju meja resepsionis di lantai bawah. 

Paris sengaja mengulur waktu dengan berjalan lambat, ia masih canggung jika berhadapan dengan Ken karena sudah hampir dua tahun tidak bertemu dengan pria itu.

"Hai Kesya," sapa Paris senang karena bisa bertemu dengan Kesya lagi.

"Paris, seneng banget bisa ketemu kamu. Ayo kita makan siang bareng," ajak Kesya seperti biasa.

"Maaf, tapi aku harus ambil makan siang untuk Pak Ken dulu. Ada titipan nggak kira-kira?" tanya Paris.

"Oh iya ada. Ini untuk Pak Ken."

Paris menghembuskan napasnya malas karena harus kembali ke ruang kerjanya.

"Capek ya, jadi asisten Pak Ken?" tanya Kesya saat melihat raut wajah Paris.

Kalau boleh jujur pekerjaannya tidak berat sama sekali. Bahkan dari tadi ia belum melakukan apa-apa.

"Namanya juga kerja, pasti ada rasa capeknya kan," ujar Paris akhirnya. Tidak mungkin juga ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Kesya mengangguk mengerti, tiap pekerjaan pasti ada kesulitan dan kesenangannya masing-masing.

"Aku duluan ya, kalian semua makan siang aja dulu. Jangan tungguin aku, nanti takutnya lama," ujar Paris kearah Kesya.

"Yaudah aku pergi makan siang sama yang lain ya," pamit Kesya.

"Okay."

Paris segera berjalan kearah lift dan naik ke ruang kerja Ken.

***

"Kenapa lama sekali."

Paris yang baru memasuki ruangan langsung di sambut dengan suara menyebalkan Ken. Jika tahu akan kena marah seperti ini, lebih baik ia semakin mengulur waktu tadi saat mengambil makanan.

"Maaf Pak." Tapi hanya itu jawaban yang bisa Paris katakan karena tidak mungkin ia melawan ucapan Ken.

Paris menaruh makanannya di atas meja. Ia lalu melihat sekeliling untuk mencari peralatan makan.

"Piringnya ada di dalam laci," ujar Ken menunjuk laci dekat pintu.

Paris berjalan kearah laci yang Ken tunjuk. Laci tersebut gabung dengan lemari kaca diatasnya. Paris bisa melihat ada berbagai jenis minuman di dalam sana dan bisa ia tebak jika harganya tidak murah.

"Ketemu tidak?"

Pertanyaan Ken membuyarkan lamunan Paris. Ia terlalu asyik mengamati koleksi minuman Ken, sampai-sampai lupa dengan niat awalnya untuk mengambil peralatan makan.

"Ketemu Pak," jawab Paris sambil mengambil beberapa peralatan makan disana.

Paris memindahkan makanan ke dalam piring lalu menyerahkannya kepada Ken yang sudah duduk di sofa.

"Saya juga membelikan makan untukmu, ambilah satu piring lagi," ujar Ken.

Paris mendongak menatap Ken, ia tidak menyangka jika Ken akan membelikan makan untuknya juga. Tatapan mereka akhirnya bertemu, Paris merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dengan segera ia mengalihkan pandangannya, karena tidak kuat bertatapan lama-lama dengan Ken.

Asisten MantanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang