Empat Puluh Empat

32.3K 2.6K 78
                                        

Entah kenapa perasaan sedih sehabis liburan selalu muncul dalam diri Paris. Ia paling benci dengan situasi ini, tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak selain menjalani saja hari-hari seperti biasanya. Paris berjalan memasuki ruang kerjanya dengan lesu, ia tidak semangat sama sekali meskipun kini Ken sedang bersamanya.

Paris merasa tidak nyaman saat beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan aneh. Ia buru-buru mengambil kaca untuk memeriksa siapa tahu ada yang aneh dengan riasannya. Tapi ternyata tidak, riasannya cukup rapi dan tidak berantakan. Kini Paris ganti memperhatikan bajunya dan menurutnya semua tampak normal.

"Kenapa?" tanya Ken ikut memperhatikan Paris.

"Penampilanku ada yang aneh ya?" Bisik Paris.

Ken tidak melihat ada sesuatu yang aneh pada diri Paris, jadi ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Kamu cantik seperti biasa." Puji Ken.

Paris menghela napas, sudah tidak heran mendengar jawaban Ken.

"Kok orang-orang pada lihatin aku gitu banget." Gerutu Paris.

"Abaikan saja, mungkin mereka iri sama kamu." Ken mengedikkan bahunya acuh.

Paris tahu, dari awal ia dipindahkan menjadi asisten pribadi Ken dirinya sudah menjadi bahan gossip. Apalagi sekarang, di saat mereka semakin dekat dan terlalu aneh jika dianggap sebatas bos dan karyawan. Mereka pasti semakin menjadi gossip seru para karyawan.

Selama ini Paris berusaha tidak peduli, ia yakin semuanya akan baik-baik saja selama Ken di sisinya. Lagi pula siapa juga yang berani macam-macam dengan Ken? Tapi tidak dengan kali ini, tatapan karyawan tadi sedikit berbeda. Terlihat seperti membencinya?

Mengabaikan sikap para karyawan tadi, Paris kembali tersadar saat pintu lift terbuka. Ternyata mereka sudah sampai di lantai ruang kerja mereka berada.

"Pagi Salsa," sapa Paris melihat Salsa sudah duduk di kursi kerjanya.

Tapi lagi-lagi Paris melihat tatapan aneh dari Salsa. Lebih tepatnya tatapan gugup dari Salsa.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Ken yang semula menganggap biasa kini menjadi penasaran.

"Ehm... Anda belum tahu Pak?" tanya Salsa.

"Tahu apa? Apa ada hal penting yang sudah aku lewatkan?"

Salsa menghela napas pelan, sebelum menyodorkan sebuah undangan kearah Ken dan Paris.

Dengan cepat Paris mengambilnya, ia seketika hanya bisa terpaku saat melihatnya. Tidak ada yang salah dengan undangan pertunangan itu. Hanya saja yang menjadi masalah nama yang tertera disana. Pada undangan tersebut tertulis nama Eleya dan Ken yang akan melangsungkan acara pertunangan.

Ken langsung merebut undangan itu, ia sama terkejutnya dengan Paris saat ini.

"Dapat dari mana kamu undangan ini?" tanya Ken.

"Tiba-tiba saja undangan itu ada di meja kerja saya. Dan sepertinya hal itu juga terjadi pada karyawan lain." Salsa sendiri baru tahu saat ia datang tadi dan diserbu dengan berbagai pertanyaan dari karyawan lain yang penasaran akan kebenaran undangan yang mereka terima.

"Ini pasti ulah Papa." Ken meremas undangan di tangannya dengan kesal.

"Kamu tunggu sini ya sayang, aku temui Papa dulu."

Paris antara fokus dan tidak, saat Ken pergi dari hadapannya. Ia masih sangat syok dengan apa yang baru saja ia lihat.

Apakah ini saatnya? Tanya Paris sendiri dalam hati.

Asisten MantanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang