☆☆☆
Nata duduk di teras rumah sambil memangku laptop. Ditemani cokelat panas dan sepotong cake ulang tahun Resya yang masih tersisa, Nata melanjutkan riset untuk keperluan skripsinya. Semalam, dia tidak bisa fokus karena Alin yang tiba-tiba datang ke kamarnya untuk berkeluh kesah. Sampai jam dua pagi, Nata harus rela mengorbankan waktu mendengar curhatan kakaknya.
Nata memang sering kali menjadi tempat curhat untuk kedua saudaranya. Bisa dibilang, Nata adalah titik temu satu cerita yang sama dengan dua sudut pandang berbeda. Curhatan Alin, masih seputar keluhan tentang hadiah Resya dari Ayahnya. Sesekali, Nata menanggapi dengan mencoba memberi nasehat. Namun bukannya mendapat ucapan terima kasih, Nata justru dikatakan bodoh karena tidak pernah protes dengan sikap kedua orang tuanya.
Hal itu membuat Nata terpaksa menunda pekerjaannya dan baru bisa melanjutkan ketika hari mulai menjelang sore. Rasa kantuk yang ditahan selama Alin bercerita, membuat Nata bangun kesiangan dan langsung diminta untuk menemani mamanya belanja bulanan.
Saat sedang fokus, Resya menghampirinya dengan menggunakan jacket kulit berwarna hitam, dan celana jeans yang juga berwarna hitam. Lengkap dengan sepatu kets putih, dan rambut yang tertata rapi.
"Kak, lo liat mama?"
"Tadi abis belanja, gue anterin ke rumah tante Nirma. Katanya ada arisan, mungkin bentar lagi pulang. Kenapa?"
"Nggak papa, sih. Gue mau keluar, mungkin pulangnya agak malam. Nanti bilangin mama, ya. Udah gue Whatsapp juga, cuma belum dibaca."
Nata mengangguk dan membiarkan Resya keluar tanpa tau adiknya akan ke mana. Setelah kepergian Resya, Nata kembali fokus dengan laptopnya.
Hingga matahari mulai tenggelam, Nata masih bergelut dengan outline skripsi yang entah sudah berapa kali direvisi. Sebagai orang yang suka merencanakan sebelum memulai sesuatu, Nata lebih memilih untuk mematangkan outline dan risetnya sebelum terjun mengeksekusi. Meski sedikit memakan waktu, namun lebih baik seperti itu dari pada buntu di tengah jalan.
Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Seorang laki-laki bertubuh tinggi menggunakan setelan jas, turun dari mobil dengan menenteng tas kantor yang terbuat dari bahan kulit. Berjalan mendekat ke arah Nata yang masih terpaku dengan laptopnya.
"Papa pulang!" seru Cakra, membuat Nata mengalihkan pandangannya.
"Papa!" Suara Alin terdengar dari dalam rumah.
Dia memang sudah menunggu kepulangan sang Ayah dengan duduk di ruang tamu yang tidak jauh dari pintu masuk, sambil menonton drama. Sehingga saat mendengar suara mobil Cakra yang memang sudah familiar di telinganya, Alin langsung tau Ayahnya sudah tiba. Alin berlari memeluk sang Ayah yang hampir dua minggu tidak berada di rumah. Nata yang juga merasa rindu dengan Ayahnya, meletakkan laptop dan mendekati Cakra lalu mencium tangannya.
"Mama mana?" tanya Cakra setelah Alin melepas pelukannya.
Nata menjawab, "Lagi arisan di rumah tante Nirma. Mungkin bentar lagi pulang, Pa."
"Resya?" tanya Cakra lagi.
"Tadi Resya keluar, katanya pulang agak malam. Udah minta izin juga sama mama."
"Oh gitu. Ya udah, ayo masuk. Eh lupa ... Nat, ambilin barang-barang papa di mobil, ya."
"Baik, Pa."
Alin dan Cakra masuk ke dalam rumah, sementara Nata melakukan perintah sang Ayah. Menurunkan satu koper hitam berukuran sedang dan sebuah tas yang berisi oleh-oleh dari Kalimantan. Sedikit berat membawa keduanya, sehingga Nata memutuskan untuk membawanya masuk satu persatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)
Aléatoire[Diikutkan dalam Writing Maraton An.Fight x Solis Publisher] Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Winata Nara Winanda dituntut untuk menjadi adik yang patuh terhadap kakak tertua dan menjadi kakak yang penyayang terhadap adiknya. Tidak hanya itu...
