☆☆☆
Derap langkah Nata, menyusuri ruang sidang yang terletak di ujung lorong. Sepuluh menit lagi sidang akan dimulai, sementara dia belum sampai. Bukan tanpa alasan, Nata perlu mempersiapkan beberapa dokumen penting yang mungkin bisa menjadi penunjang di sidang kali ini.
Saat sampai di depan ruang sidang, Nata langsung menyerahkan semua dokumen yang dia kumpulkan pada pengacara Ayahnya. Hari ini, Cakra tidak bisa hadir di persidangan karena alasan kesehatan. Nata juga baru mengetahui hal ini dari pengacara.
Nata dan pengacara memasuki ruang sidang. Pengacara mengambil tempat di depan yang sudah disediakan, sementara Nata langsung menuju kursi audiens. Terlihat Alin sedang melambaikan tangan padanya. Dengan tersenyum, Nata mendekati wanita itu.
"Nat, lo nggak pa-pa?" tanya Alin ketika Nata duduk di sampingnya.
Nata tersenyum dan mengelus perut sang kakak. "Gue nggak pa-pa. Resya?"
"Dia ada kuliah. Tapi lo pucet, Nat." Alin mengelap keringat Nata. "Ini juga keringetan."
"Gue nggak pa-pa, Kak. Cuma capek aja lari-lari ke sini."
Nata menghentikan tangan Alin dan tersenyum ditengah-tengah napasnya yang memburu.
"Beneran nggak pa-pa? Nih, minum air Kakak."
Nata mengangguk dan mengambil botol air dari tangan Alin. Meneguk air yang berada di dalam sana dan mencoba mengatur napasnya. Dadanya terasa sesak, bahkan penglihatannya mengabur. Namun, dia berusaha untuk fokus menyaksikan persidangan yang sebentar lagi akan dimulai.
"Hakim Agung akan memasuki ruangan. Dimohon untuk semua audiens berdiri."
Semua yang hadir berdiri sesuai perintah. Termasuk Nata. Tubuhnya sedikit oleng, untung saja Alin dengan sigap menahan tubuhnya.
"Kamu nggak pa-pa?" tanya Alin sekali lagi karena merasa sangat khawatir dengan kondisi Nata.
"Semuanya dipersilahkan duduk," titah petugas.
"Nat? Kita ke rumah sakit aja, ya?" ujar Alin yang merasa khawatir.
Alin memegang kedua bahu Nata dan berusaha melihat wajah adiknya yang masih menunduk.
"Nggak pa-pa Kak. Cuma pusing dikit." Nata mengeluarkan obatnya dari dalam kantong dan memasukkan sebuah pil dengan bantuan air minum milik Alin.
Dengan cepat, dia menyembunyikan bungkus pil yang baru ditegaknya.
"Itu obat apa?" tanya Alin penasaran. "Sini Kakak lihat!"
"Nggak usah. Ini cuma vitamin. Udah, aku udah nggak pusing. Sekarang, kita fokus dengerin sidang, ya."
Nata berusaha tersenyum agar Alin menghentikan kekhawatiran serta kecurigaannya.
Persidangan berlangsung sangat rumit. Hingga berjam-jam lamanya, perdebatan terus terjadi anatara Jaksa penuntut dan Pengacara Cakra yang terus membeberkan bukti beserta dokumen-dokumen yang Nata kumpulkan.
"Nat, ini gimana?" bisik Alin merasa cemas.
"Gue juga nggak bisa nebak, kak. Jujur aja, hasil sidangnya bisa jadi sangat jauh dari harapan kita. Melihat apa yang Jaksa paparkan terlihat masuk akal, tapi kita nggak boleh berhenti berdo'a."
Alin hanya mengangguk. Dia sebenarnya tau bahwa situasi ini tidak baik. Meskipun tidak paham hukum, tetapi Alin sangat tau bahwa Ayahnya berkemungkinan besar akan dijatuhi hukuman.
Sidang terus berlanjut sampai akhirnya hakim memutuskan untuk memberi kesempatan pada Jaksa menyampaikan tuntutannya.
"Saya menuntut Saudara Cakra Adimas dengan tuntutan 20 tahun penjara dan denda 2,1 trilliun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)
Random[Diikutkan dalam Writing Maraton An.Fight x Solis Publisher] Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Winata Nara Winanda dituntut untuk menjadi adik yang patuh terhadap kakak tertua dan menjadi kakak yang penyayang terhadap adiknya. Tidak hanya itu...
