-09-

633 64 21
                                        

Beberapa jam sebelum Wanda dilarikan ke rumah sakit, Wanda merasa dadanya terasa sesak, seperti ada yang menghujam jantungnya. Sejak makan siang bersama kedua anaknya, Wanda memang sudah merasa sedikit sakit dibagian dada sebelah kanan. Namun, rasa sakit yang dirasakan, semakin lama semakin terasa.

Wanda teringat kalau dia belum meminum obatnya. Padahal sehabis makan siang, Resya sudah mengingatkannya. Namun, Wanda dan memilih tidur ketika tiba di kamarnya.  Wanda bangun dari pembaringan, namun dadanya terasa semakin sakit.

Dengan bersusah payah, Wanda membuka laci meja samping tempat tidur dan meraih obatnya. Ditegaknya obat pereda nyeri dan dua pil khusus yang diresepkan dokter untuknya. Syukurlah, meskipun tidak langsung sembuh, berkat bantuan obat-obat itu Wanda sedikit merasa lega. Dia memutuskan untuk kembali berbaring. Berharap rasa sakitnya akan secepatnya menghilang.

Setelah cukup lega, Wanda merasa bosan dan memutuskan untuk mengatasinya dengan menonton TV. Diraihnya remot di atas meja dan mulai menyalakan TV. Mencari siaran TV nasional untuk melihat berita dalam negeri. Matanya langsung melotot ketika melihat breaking news dari salah satu saluran berita.

"CAKRA ADIMAS, MANAGER DARI SALAH SATU PERUSAHAAN BUMN TERSANDUNG KASUS KORUPSI. DIDUGA TERLIBAT PENCUCIAN UANG PROYEK PEMBANGUNAN."

Tanpa sadar, Wanda turun dari tempat tidur dan mendekati TV untuk melihat jelas berita yang terpampang di sana. Layar TV yang menampilkan sosok laki-laki bertubuh tinggi yang sangat dikenalinya, menunduk dan berjalan ke arah gedung KPK.

Diikuti banyaknya wartawan yang berkerumun dengan memegang kamera untuk memburu berita. Membuat suasana ricuh, terpampang nyata di layar TV yang ditonton Wanda.

Wanda yang melihat itu, sangat syok. Apalagi, ketika laki-laki itu terjatuh hingga hampir terinjak para wartawan yang menghalangi jalannya menuju gedung KPK. Untung saja, petugas langsung melerai dan segera membawanya masuk.

"NGGAK! NGGAK MUNGKIN!" pekik Wanda.

"PAPA! NGGAK! NGGAK MUNGKIN!"

Suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. Rasa sakit di dadanya yang tadi perlahan mulai mereda, kini terasa semakin parah. Bahkan Wanda kesulitan bernafas, dan kakinya terasa lemas. Wanda terduduk sambil memegangi dadanya.

Ditengah kesakitannya, Wanda mendengar suara ketiga anaknya dari luar. Dobrakan pintu serta panggilan yang terdengar cemas, membuat Wanda berusaha untuk menyahuti mereka. Namun, apalah daya? Jangankan bersuara, untuk mengeluarkan nafasnya saja, terasa sangat susah.

Wanda merasa kepalanya pusing dan penglihatannya buram. Dia terjatuh di lantai dan perlahan kehilangan kesadaran.

☆☆☆

Tubuh Wanda dipindahkan ke kamar mayat untuk dipersiapkan kepulangannya. Resya berusaha untuk kuat melihat proses pemindahan itu, meskipun dia sendiri sebenarnya tidak sanggup melihat sang ibu terbujur kaku. 

Di sisi lain, Nata mendampingi Alin yang sudah sadar tapi enggan membuka matanya. Alin masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.

Berulang kali, ucapan maaf keluar dari bibirnya. Namun, untuk apa? Setiap penyesalan, pasti datangnya belakangan. Ini sebabnya, kita harus sangat berhati-hati ketika ingin melakukan, atau mengucapkan apapun.

Nata yang sedari tadi menunggunya, berusaha menenangkan Alin.

"Kak, sabar, ya. Kita harus ikhlasin kepergian Mama."

"Nggak, Nat. Mama nggak pergi. Gue cuma lagi mimpi," ucal Alin masih menutup matanya.

Kali ini, Alin tertawa dengan air mata yang masih bercucuran. 

Bukan YANG TERSAYANG || Winwin (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang